BERBAGI

Siang itu saya maju tak gentar meninggalkan peron di Stasiun Manggarai. Sambil jalan, dalam hati saya meyakini hari-hari magang di Jakarta tak akan begitu sulit.

Dengan mantap saya bertanya: memang apa susahnya magang di industri media di Jakarta? Saya punya pengalaman ikut pers mahasiswa. Jam terbang liputan di lapangan juga terbilang lebih dari cukup. Jaringan bertebaran di beberapa penjuru kota. Punya cukup duit (kiriman ibuk) buat memenuhi kebutuhan beberapa lama. Segudang petunjuk seputar Jakarta dengan mudahnya bisa diakses lewat hape. Amunisi lengkap. Kurang apalagi?

Saya juga sengaja menyempatkan dua hari di Jakarta sebelum hari pertama magang tiba. Hitung-hitung sebagai hari adaptasi dengan riuh rendah ibukota. Menjajal transportasi yang ada, kunjung ke sana-sini, observasi ini-itu. Betapa sempurnanya persiapan saya.

Hingga tiba hari pertama magang, kesehatan saya ambruk. Saya cuma bisa mengeluh meriang sambil tetap memantapkan hati untuk berangkat ke kantor media tempat saya magang. Setengah hari habis dengan mengenal kulit luar media ini, sambil dengar beberapa desas-desus buruknya. Saya pulang dan terjebak macet sepanjang jalan. Meriang menjadi-jadi. Saya mulai ragu.

Hari kedua magang, meriang, batuk, dan pilek tak bisa diajak kompromi. Seharian terbujur lemas sampai hari ketiga. Izin tidak masuk.

Saya mulai menyesali mengapa saya milih magang di Jakarta. Kenapa tidak di Bali saja? Atau di Surabaya yang dekat dengan rumah? Saya mulai menyalahkan cuaca, polusi dan lalu lintas macet di Jakarta. Keraguan meningkat. Ingin rasanya mundur saja.

Sejak hari penyesalan itu, berangsur kesehatan saya membaik. Saya mulai bisa liputan dan ikut kerja tim. Tapi tetap saja niat magang tak kembali seperti semula. Tidak bersemangat seperti saat meninggalkan peron kereta di Manggarai. Kadang malah mikir, lebih baik sakit daripada ikut kegiatan magang meski bayarannya relatif lebih tinggi dari media lain. Kenapa? Ternyata tidak cinta.

Di luar keterampilan teknis, syarat jadi mahasiswa magang cuma satu: cinta. Kalo cinta sudah bersemayam di dalam diri anak magang, maka magang 2-3 bulan itu cuma terhitung sebagai foreplay.

Beda cerita kalo magangnya dengan berat hati — ndak cinta. Jangankan 2-3 bulan, seminggu saja rasanya sudah seperti di neraka. Belum lagi kalau magangnya di Jakarta. Di industri media pula. Jam kerjanya nggak tentu. Belum tentu dibayar juga. Boro-boro dibayar, dikasih uang makan siang saja tidak.

Namun, soal cinta, orang sering berpikiran kalau itu urusan terbiasa atau tidak. Witing tresna jalaran saka kulina. Kulina matamu! Jadi, mereka ini berpikiran kalau orang bisa membiasakan diri untuk mencintai. Padahal, kita tidak bisa membiasakan sesuatu agar kelak kita mencintainya. Kalau cinta bisa dibiasakan, dirutinkan, maka keterpaksaan juga bisa dibiasakan, dirutinkan, dan dicintai. Kalau sudah begitu, kita bisa membiasakan diri juga untuk mencintai pemaksaan, perbudakan, dan sejenisnya. Karena semuanya terbiasa!

Albert Camus memang pernah bilang kalau pada akhirnya manusia hanya akan terbiasa akan sesuatu hal yang mula-mula asing baginya. Aneh jadi biasa. Semua terasa salah karena tidak terbiasa. Semua terasa benar karena sudah terbiasa. Tapi mencintai magang — dengan segala kegiatan dan tempatnya — adalah hal lain. Cinta datang bukan karena terbiasa. Tapi cinta datang karena orang memang sudah siap menerimanya. Selamanya begitu. Cinta penuh misteri, tapi tidak ada yang menakutkan di sana.

Bagi mahasiswa yang mencintai magang, tentu kegiatan magang adalah mainan serius baginya. Istilah —lembur— berganti —bulan madu— baginya. Susah-senang, tapi cinta. Bahkan, kalau orang sudah cinta, dibayar atau tidak dibayar bukan jadi masalah. Bukankah begitu? Bukan.

Teman saya yang kebetulan juga magang di Jakarta, tapi berlainan media, mengeluh karena tidak dibayar sepeser pun. Bahkan pesangon harian saja tidak. Duit kiriman ibuknya cepat lenyap dimakan kebutuhan sehari-hari. Beberapa kali ngutang sana-sini, hingga hari di mana ibuknya transfer uang bulanan lagi.

Bukankah idealnya dibayar, meski cuma mahasiswa magang? Media macam apa yang tega tidak membayar ganti ongkos kendaraan, tenaga, dan pikiran semulia mahasiswa magang? Ini bukan soal cinta berbayar. Cinta memang tidak bisa dibeli, dibayar dengan apapun. Cinta bisanya diberi dan diterima. Pertanyaannya, jika cinta sudah diberi oleh mahasiswa magang, dapatkah industri media menerima? Belum tentu.

Ada tempat magang yang sudah diberikan cinta, tapi masih memperlakukan mahasiswa magang seperti lebih rendah dari karyawan tetap. Padahal sama-sama manusia. Mahasiswa magang lalu diberi porsi kerja yang tinggi, kerja serabutan ketimbang karyawan tetap. Itupun, lagi-lagi, tidak dibayar. Tempat magang seperti ini gagap menerima cinta mahasiswa magang.

Ini bukan soal pamrih. Cinta mahasiswa magang tidak pernah pamrih. Cinta memang tidak pernah pamrih. Ia tidak pernah menuntut. Tapi cinta bisa meminta, tapi tidak dengan memaksa. Makanya, kalau kebijakan suatu tempat magang dirasa terlalu memberatkan, tidak manusiawi, mahasiswa magang wajib memberi usul! Wajib mengutarakan keluhan, lalu membicarakan penyelesaiannya secara bertanggungjawab. Kalau perlu, bentuk perserikatan magang. Ini bentuk cinta mahasiswa magang. Ini semata-mata untuk memenuhi kecukupan finansial mahasiswa magang.

Sampai titik ini, mestinya kita tahu kalo cinta mahasiswa magang tidak bisa dikaitkan dengan urusan uang atau apapun yang terikat di luar. Semisal, kalau bayarannya tinggi, cintanya makin tinggi. Jika merendah, cintanya juga surut. Atau porsi kerjanya sedikit, maka cintanya bertambah dan juga sebaliknya. Itu othak-athik gathuk namanya. Padahal, cinta itu tidak tergantung apapun. Ialah yang konstan dan abadi — penuh misteri dan selalu jauh dari rasio manusia. Ia juga tidak sama dengan perasaan manusia yang bisa pasang surut. Perasaan harus dicek berkali-kali kebenarannya, karena bisa saja perasaan meleset. Tapi di dalam cinta, benar-salah sudah tidak lagi penting. Di dalam cinta hanya ada cinta itu sendiri. Penuh hening dan gaduh. Penuh paradoks.

Saya memang tidak mencintai magang industri media di Jakarta. Tapi bukan berarti saya benci juga. Kalo benci, saya sudah keluar dari sekarang. Biasa saja tepatnya. Sejauh ini yang terpikirkan adalah membiasakan diri dengan suasana Ibukota yang jauh berbeda dengan Salatiga. Macet ya sudah. Dapat agenda liputan ya sudah. Pingin liputan inisiatif ya sudah. Kalo berhalangan liputan (karena sakit lagi atau males…hehe) ya sudah. Main keliling Jakarta, ya sudah. Jalani saja, sambil tidak menutup kemungkinan suatu hari tiba-tiba saya cinta atau benci, bukan karena terbiasa.