BAGIKAN

Sebenarnya takut menulis ini. Nanti industri kopi bisa mengadili saya. Apalagi ada sebuah iklan yang berbunyi ‘Bongkar kebiasaan lama‘. Seolah-olah minum kopi bisa bongkar kebiasaan lama. Kalau saya melarang orang minum kopi saat masih menjadi mahasiswa, nanti saya dituduh pendukung kebiasaan lama. Padahal iya, eh, kan tidak.

Saya ingin membongkar kebiasaan lama, tanpa perlu minum kopi. Tapi kalau mau jujur, kopi itu identik dengan mahasiswa, apalagi mahasiswa yang mengikuti sebuah organisasi.

Tapi saya punya saran, kalau masih kuliah jangan suka minum kopi. Dosen bisa mengamuk. Marah. Ada beberapa dosen di kampus saya di Ternate, tidak menyukai mahasiswa yang suka minum kopi. Kalau mereka bersua mahasiswa di kantin-kantin atau di kedai kopi dan asyik meneguk kopi sambil ngobrol, tentu para dosen tersebut cepat sekali berkesimpulan: “Ini pasti aktivis, DO-kan mereka.” Tuh, sudah saya bilang.

Kami di sini dan kalian di sana barangkali mau tidak mau harus mulai takut minum kopi. Takut dituduh subversif, takut dituduh ‘sianida’ bagi birokrasi. di kampus saya kalau ada pagelaran Ospek atau penerimaan mahasiswa baru, dosen-dosen mulai dari pejabat rektoratnya sampai dosen mudanya cepat-cepat ikut-campur dalam kepanitiaan.

Kalau sudah seperti itu, mereka dengan mudah mengambil peran di ruangan. Lalu, di antara mereka yang paling dituakan akan berdiri di depan dan berpidato: “Adik-adik mahasiswa, ingat ya, kalau sudah aktif kuliah, jangan coba-coba berteman dengan kakak-kakak senior yang suka minum kopi, eh, yang suka ikut organisasi, nanti adik-adik kuliahnya tak selesai-selesai.” Nah, kalau begitu jadinya, mahasiswa baru itu mulai terbiasa muntah kalau lihat aktivis.

Kalau mau jujur saya juga terlibat dalam organisasi. Tapi sekarang tidak suka minum kopi. Sedikit cerita, saya laki-laki yang paling suka teh. Ingat, bukan berarti saya terinspirasi dari Novel Bersetia karya Beny Arnas atau gara-gara nonton Assalamualaikum Beijing (yang dalam satu adegan terdapat percakapan tentang teh).

Dari kecil sampai gede begini, pagi-pagi sekali Mama sudah buatkan teh dan menaruhnya di atas meja. Nanti kalau sudah ada teh hangat, pasti disusul bermacam kue, tapi saya lebih doyan lalampa. Lalampa ini sebenarnya bukan kue, tapi mau gimana lagi, bentuknya memang dibungkus layaknya kue. Lalampa itu sebenarnya terbuat dari nasi dan dicampur dengan ikan yang sudah dihaluskan lalu dibuat memanjang dan dibungkus lagi dengan daun pisang. aduh maaf kaka, sudah jauh sekali pembahasannya. Kembali ke laptop, eh, kembali ke kopi.

Nah, kalau merasa takut DO hanya sebab minum kopi, lebih baik dari sekarang beralih minum teh hangat saja. Tidak apa-apa sebenarnya. Kalau sudah di kedai kopi, pesan saja teh hangat, pasti ada, meskipun tempat itu diberi nama kedai kopi.

Kalau minum teh lalu diancam akan dikeluarkan dari kampus, maka ini kesempatan bagus untuk menuduh kampus telah mencemarkan nama baik. Bisa dibuktikan dengan isi cangkir tadi. Sudahlah, tidak usah galau begitu bagi Anda pecinta kopi Indonesia. Mari minum teh sambil baca buku-buku Pram di kampus. Ada teh?