BERBAGI

Hadirin sidang Siksa Kampus yang berbahagia.

Di momen bulan suci Ramadhan ini saya ingin menyampaikan sebuah makian. Makian untuk sosok yang tentu sangat dekat dengan keseharian kamu. Yup, siapa lagi kalau bukan dosen. Di masa-masa awal kuliah sosok ini menurutmu sangat keren dan mengagumkan. Tapi percayalah, di semester senja sosok ini akan berubah jadi pribadi yang memuakkan dan penuh tipu daya. Terutama jika kamu berurusan soal skripsi.

Skripsi bagi mahasiswa semester sepuluh ke atas adalah mukjizat. Dan, salah satu faktor yang bisa mewujudkan mukjizat ini adalah dosen pembimbing. Makanya, tidak jarang dari mahasiswa senja yang lebih memperjuangkan skripsi dari pada cita-cita. Coba saja tanya cita-cita mereka, pasti akan menjawab: Skripsi rampung!

Mereka ini adalah kaum yang sudah kenyang dengan pertanyaan kapan wisuda, mereka yang sering malu karena teman seangkatan sudah pakai toga, mereka sering ngumpet karena sering diteror orang tua. Tuhan, berkahi mereka.

Hadirin Siksa Kampus rahimakumullah.

Kamu pasti sering susah tidur karena pikiran terganggu jumlah BAB yang satupun belum rampung. Dosen pembimbing yang seenaknya corat-coret tulisan yang telah susah payah direvisi. Dengan enteng dia minta ditemui keesokan harinya. Padahal untuk menemuinya saja untung-untungan, kalau tidak karena faktor bejo, jangan harap bisa bertemu. Untung kalau dia tidak ke luar kota, untung tidak sedang garap proyek, untuk tidak sedang sibuk.

Dosen sekarang ini tak ubahnya penyanyi yang kebanjiran pesanan manggung. Dengan rapi mereka menyusun jadwal. Hal seperti ini imbasnya tidak hanya dirasakan mahasiswa penggarap skripsi, tapi juga mahasiswa yang mengambil mata kuliahnya. Mahasiswa lalu dibebani tugas sebagai pengganti kekosongan, presensi dilipatgandakan dalam satu kali pertemuan. Saya heran, kenapa dosen sejenis ini tidak dicabut saja hak mengajarnya? Bukankah kesibukannya justru merugikan mahasiswa? Tapi emang begitu, sih. Bukan kampus namanya kalau tidak dipenuhi misteri.

Misteri yang hingga kini belum terpecahkan dibenak saya adalah soal presensi. Mahasiswa diwajibkan hadir kuliah 75 persen dari jumlah presensi, jika tidak jangan harap bisa ikut ujian semester. Tapi, kenapa aturan ini tidak berlaku pada dosen? Seharusnya dosen yang jumlah mengajarnya kurang dari 75 persen juga tidak boleh diizinkan mengadakan UAS dong? Atas dasar apa mereka bisa lolos dari jeratan presensi itu? Dia pengajar? Taik kucing, yang bayar kuliah itu mahasiswa kok.

Kali ini saya memang mau maki-maki dosen. Saya punya banyak pengalaman buruk dengan mereka. Kisah pertama bermula ketika saya masih semester lima. Waktu itu rambut saya sedang kinclong-kinclongnya dan terurai dengan indah. Emang dasar dosen iri, ketika saya masuk kelas tanpa mengikat rambut, ia mengawali kelas dengan kalimat retoratif, “Kayaknya minggu depan saya harus bawa gunting.”

Sirik banget, kan? Ngapain dia bawa-bawa rambut saya, ngajar ya ngajar aja! Peduli amat sama rambut orang. Toh, rambut-rambut saya ini. Tapi bukan dosen namanya kalau tidak ikut campur. Apapun yang dilakukan mahasiswa, jangan harap bisa lolos dari cibirannya. Ruang untuk menyampaikan cibirannya pun banyak macam, mulai di muka kelas, sosial media, hingga di lembar jawaban. Heran, ini dosen apa Jonru Ginting, senengnya nyebar hate speech.

Kisah kedua lain lagi, tapi masih dari dosen yang sama, terjadi beberapa waktu yang lalu, tepatnya pasca saya potong rambut. Kisah bermula ketika saya lewat di depan ruang dosen, dari arah berlawanan saya berpapasan dengan si dosen itu. Dari kejauhan ia terlihat memincingkan matanya, memastikan bahwa orang yang berada di depannya itu benar-benar saya. Kalimat tidak enak itu kembali muncul:

“Lho, kapan potong rambut? Nyesel saya gak bawa hape.”

“Emang kenapa, bu?”

“Mau saya foto,” ujarnya usil.

Gila! Urusan potong rambut saja hebohnya bukan main. Sudah kayak Wota ketemu Melodi. Tapi saya tidak heran sih dengan sikapnya itu. Saya mengenal dia lebih dalam dibanding dia mengenal dirinya sendiri.

Dosen ini akan selalu mampir di kolom komentar status Facebook saya, terutama jika postingan berkaitan dengan kampus. Pernah suatu kali dengan terang-terangan dia menuding saya liberal karena sebuah postingan. Gila. Selo banget hidupnya, seolah tidak ada urusan lain selain mengomentari kehidupan mahasiswa pas-pasan seperti saya.

Itu kisah dari satu dosen. Dosen kedua lain lagi.

Jadi begini, di kampus saya ada dosen yang kerap dipanggil Miss Inces oleh mahasiswa. Anehnya, dosen ini tidak risih dengan sebutan itu. Padahal, kalau dia tahu, inces merupakan istilah bagi orang yang orientasi seksualnya kepada saudara kandung. Astagfirullah.

Panggilan aneh ini sebenarnya tercipta dari penampilan dan gaya bicarannya yang rempong. Miss Incess paling tidak suka dengan jadwal mengajar di siang hari. Alasannya karena tidak mau waktu bobok siangnya terganggu. Ulala.

Selain itu, ketidaksukaan lain dari dosen ini adalah mengajar di ruangan yang terletak di lantai empat. Maklum, kampus saya masih menggunakan lift manual alias tangga. Bagi dosen ini, mengajar di lantai empat tak ubahnya kompetisi Benteng Takeshi, melelahkan dan penuh tantangan. Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, di pertemuan awal semester dia berkata, “Minggu depan kelasnya pindah ke bawah aja ya, takut make up saya luntur kalo turun-naik tangga.”

Seisi kelas saling toleh. Ingin rasanya kami menimpuknya dengan kursi satu per satu. Namun, apa daya, kami tidak sekeren Genji and The Gang.

Itulah jenis dosen yang saya temui selama kuliah. Tiap fakultas atau kampus tentu memiliki jenis pengajar yang berbeda-beda. Kalau di kampus kamu seperti apa?