BAGIKAN

Sore hari sebelum natal, mbah menyempatkan diri berkunjung ke ladang. Hamparan tanah luas yang ditumbuhi tanaman hijau. Sebuah kekayaan abadi yang kelak akan turun pada anak cucu. Daun-daun  kacang tanah yang mulanya berwarna hijau segar, sore itu terlihat menguning. Bahagia bukan main. Tanda kacang sudah siap di panen. Kabar bahagia mbah sampaikan pada keluarga sambil menikmati jagung rebus yang baru ia petik di ladang. Ya, ini semacam kado awal tahun yang bahagia untuk mbah.

Keesokan hari, pagi-pagi mbah sudah pergi ke ladang. Rupanya ia sedang asik menumpuk tanaman kacang yang ia cabut sendirian. Panen kali ini saya membantunya. Di hari pertama panen, hanya ada saya sekeluarga saja yang bekerja. Kami berbagi tugas. Mbah cabut tanaman sendirian, sementara saya dan yang lain ditugaskan untuk mritili (melepaskan) kacang dari pohonnya. Kacang yang berisi dan kosong disuruhnya dipisah dalam karung yang berbeda. Di hari kedua, mbah mengajak tetangga untuk bekerja. Ia selalu bahagia meski bertani diusia senja.

Sekali ia pernah mengeluh, itupun karena hujan yang tak turun di kala musim tandur 3 bulan yang lalu. Ia khawatir dengan apa yang sudah di tanam. Tiap hari ia ke ladang, untuk  memastikan tanaman baik-baik saja dan bersih dari rumput-rumput liar. Pagi-siang dan kemudian dilanjut siang hingga sore, begitu ritmenya tiap hari. Jauh sebelum kacang tanah di panen, mbah pernah sedih karena pohon jati miliknya dicuri oleh orang. Saya bilang asal jangan ladang saja yang dicuri, pohon bisa mbah tanam kembali.

Selesai membantu panen, saya menikmati sore di teras rumah. Ditemani segelas teh manis panas dan lembayung senja. Oh, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sembari scroll timeline twitter, saya melihat tweet sematan Jogja Darurat Agraria (JDA) yang berupa gambar berisi quote. Kicauannya berbunyi :

Nah ini dia, blio-blio yang mendukung bandara, apa mereka memikirkan Petani Kulonprogo? #JogjaDaruratAgraria

Kicauan tersebut di retweet oleh 38 akun dan like 5 akun. Rencana pembangunan bandara salah satunya memang menggunakan lahan pertanian produktif warga. Bila pembangunan tetap dijalankan, akan ada banyak petani kehilangan ladang. Data dari monografi Desa Glagah tahun 2013 menyebutkan kegiatan ekonomi pokok adalah pertanian. Dari 745 keluarga, 493 diantaranya bekerja di sektor pertanian. Ratusan orang siap-siap kehilangan ladang. Ironis.

Sekilas saya membayangkan, bagaimana bila hal tersebut menimpa mbah. Pun kehilangan pohon saja ia sedih, bagaimana kehilangan ladang. Sudah pasti rutinitas harinya harus terhenti, tak lagi merasakan bahagianya panen, merasakan nikmatnya jagung rebus hasil keringat sendiri, dan tak lagi menyediakan lapangan kerja untuk tetangga. Dulu mbah pernah cerita, pernah sakit karena tidak bertani. Makanya tak ada lagi yang bisa melarangnya untuk pergi ke ladang.

Ternyata cinta tak hanya soal aku kamu menjadi kita, tapi juga soal petani dengan ladangnya.

Spontan, saya teringat soal kenangan manis di Juni 2013 dengan petani di Desa Glagah, Kecamatan Temon. Saat itu saya tengah mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat lanjut di Dermaga Wisata. Tak jauh dari situ, ada lahan pertanian produktif membentang luas. Ribuan pohon cabai keriting buahnya telah berubah jadi merah merona. Ternyata saat itu petani tengah masuk musim panen. Sukacita sangat terasa, terlebih ketika saya dan kawan-kawan dipersilahkan untuk membantu memanen. Syaratnya mudah jangan sampai daunnya ikut dipetik, cukup buahnya saja.

Dari petikan lentik jari tangan, ternyata bisa mengumpulkan karungan cabai keriting di ladang. Salah satu petani bercerita, bahwa baru-baru saja bisa panen melimpah seperti ini. Hasil produksi per hektare bisa mencapai 7- 10 ton. Dijual pada tengkulak 15ribu per kilo, dengan begitu ia akan mendapat 150juta setiap kali panen. Hasil panen biasanya tengkulak kirim ke Jakarta atau Sumatera. Di ladang yang luas ini, tak hanya cabai yang ditanam. Ada melon, semangka dan juga terong yang nyelip-nyelip.

“Bukan terong-terongan lho ya,” katanya guyon. Gelak tawa tak bisa dihindarkan, jadi merasa lebih dekat setelah beberapa jam membantu memanen cabai. Tawanya terhenti ketika saya bertanya soal rencana pembangunan bandara. Ia tak mau bicara banyak soal itu. Sikapnya tetap menolak.

Alasannya, karena petani sudah jadi profesi turun temurun di keluarganya. Hanya tanah yang menjadi harapan dari dulu hingga kini. Secara keseluruhan penghidupan keluarganya ya berputar dari hasil pertanian. Ladang yang sekarang semakin menghasilkan, ternyata tanah turunan dari orangtuanya dulu. “Nanti saya nurunin apa e sama anak, wong mung nduwe lemah to kok,” tegasnya. Setelah itu ia tak mau lagi berbicara soal bandara, tapi ketika saya dan kawan-kawan pamit pulang. Ia berterima kasih, diberinya semangka dan melon untuk dibawa ke Dermaga.

Lain ladang lain belalang. Ketika mbah bahagia disambut panen hingga awal tahun. Disisi lain, petani yang terdampak pembangunan bandara menyambut awal tahun dengan kewaspadaan. Tanah yang selama ini dijadikan sumber penghidupan, dan kebahagiaan ada yang mencoba menjarahnya. Meski tahun terus bertambah dan wacana pembangunan tetap ada, pilihannya tetap dua, mempertahankan atau kehilangan.

Awal tahun yang selalu disambut euforia oleh orang-orang dengan meniup terompet, dan membuat resolusi. Tak akan mengubah pemahaman petani soal mempertahankan ladangnya. Karena tanah adalah abadi, sedangkan uang ganti rugi adalah fana. Kalau Pram bilang menulis sebuah keabadian. Bagi petani, keabadian adalah mempertahankan ladang. Apresiasi tinggi untuk petani. Semesta mendukung, bahagia selalu petani Indonesia!