BAGIKAN

Rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca tulisan panjang di situs web. Saya lebih sering menghabiskan waktu membaca buku-buku terbitan tempat saya bekerja, itu pun karena saya harus bikin konten promosi. Tapi beberapa hari kemarin, salah seorang kawan membagikan tautan situs web berisi tulisan dengan judul Kritik Buku “Muslimah yang Diperdebatkan dalam Perspektif Feminisme Transformatif. Saya langsung tertarik dengan embel-embel ‘feminisme transformatif’ di judul tulisan tersebut, lalu saya baca tulisannya pelan-pelan. Kurang Renyah, ngga menggigit, dan ngga menarik, itu yang saya dapat dari tulisan karya Rizal Kurniawan tersebut.

Setelah membaca tulisan tersebut untuk kedua kalinya, saya benar-benar ingin menangis, eh maksud saya ingin menulis karena kecewa ingin mengapresiasi. Baiklah, pelan-pelan saja ya Mas Rizal. Saya menulis ini bukan mau cari ribut lho, apalagi cari musuh. Saya cuma mau cari muka berbagi dan berdiskusi kok. Mas Rizal kenal Kalis Mardiasih baru-baru ini saja ya setelah dia menerbitkan buku? Atau sudah tahu sejak lama tapi baru membaca tulisannya di buku terbarunya yang Mas Rizal ‘kritik’? Saya tanya seperti itu karena di paragraf pembuka Mas Rizal menuliskan “…perempuan kelahiran Blora ini tergolong masih baru dalam kancah penulisan…”

Kalau saya kenal tulisan-tulisan Kalis sih sejak 2016. Ketika dia rajin menulis di rubrik Kolom milik Detik.com. Lalu nama Kalis semakin moncer ketika tulisannya yang berjudul Sebuah Curhat untuk Girlband Jilbab Syar’i terbit di situs Mojok.co dan dibagikan lebih dari 17 ribu kali. Tapi mungkin Mas Rizal bacaannya beda sama saya, mungkin lebih berbobot dan dari nama-nama besar. Lha wong perspektif kritisnya saja pake feminisme transformatf kok, pasti bacaannya karya Simone de Beauvoir, Emma Goldman, Rosemarie Putnam Tong, Mary Wollstenocraft, Julia Kristeva, sampai Kate Millett. Oiya, Mas Rizal tahu Gadis Arivia?

Dari tulisan Mas Rizal akhirnya saya sadar bahwa Kalis adalah ‘pendatang baru dalam literatur kepenulisan negeri ini’ dan saya harus lebih banyak belajar lagi serta mencari literatur-literatur lain agar tahu, mana pendatang baru dan mana orang lama. Terima kasih Mas Rizal. Selain itu saya juga mendapatkan banyak frasa baru dari tulisan Mas Rizal tapi saya sama sekali tidak paham apa arti frasa tersebut. Salah satunya kalimat berikut: “upaya perempuan untuk keluar dari positivistik kebudayaan patriarki di Indonesia yang begitu kental dan mendominasi.” Tolong beri saya, yang cuma tukang bikin konten ini, pencerahan mengenai apa itu positivistik kebudayaan patriarki, Mas.

Bahasa yang dipakai Mas Rizal memang melambangkan bagaimana seorang intelektual harusnya menulis. Memakai diksi yang ndakik-ndakik ramah bagi orang berpendidikan tinggi dan golongan terpelajar. Saya kagum dan se666an. Apa gunanya belajar setinggi langit kalau bahasanya kayak tukang becak, benar begitu Mas Rizal? Intelektual itu harus memberikan edukasi terhadap masyarakat luas dengan tulisan-tulisan yang sulit dimengerti bagus macam punya Mas Rizal ini. Tulisan dengan tema dan bahasa yang ngga ada isinya berbobot.

Membaca tulisan Mas Rizal membuat saya seakan mencari jarum di dalam jerami melepas dahaga keilmuan. Saya menemukan banyak sekali paragraf tidak berguna yang mengharuskan pembaca mencari sendiri maksud dan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Mas Rizal. Sungguh kerja-kerja penulisan yang arif nan bijaksana, agar budaya membaca tetap terjaga di Indonesia. Salah satunya paragraf berikut:

Membaca buku ini saya menilai Kalis terlaku genit dan hiperbolis dalam memposisikan perempuan sebagai kaum nomor dua, kaum yang selalu menjadi kambing hitam, kaum yang acapkali dieksploitasi dan dimarjinalkan keberadaanya. Saya mewakili kaum lelaki yang secara gamblang ditembak harga diri dan sisi maskulinitasnya lewat kritik tersirat dalam buku ini, sebenarnya tidak sepenuhnya sependapat dan mengamini fakta sosial subjektif pada buku ini.

Saya yang sudah membaca buku Kalis harus membaca buku itu lagi untuk menemukan apa yang dimaksud Mas Rizal sebagai ‘genit dan hiperbolis’. Hal semacam itu hampir terjadi di tiap paragraf yang saya baca.

Tapi ada beberapa hal yang mengganjal setelah saya mencoba memahami apa yang ingin disampaikan dari tulisan Mas Rizal. Pertama, dengan embel-embel ‘feminisme transformatif’ di judul, saya sama sekali tidak menemukan apa sih sebenarnya feminisme transformatif itu dan bagaimana penerapan yang dilakukan Mas Rizal untuk mengkritik buku Kalis. Saya terkejut dan terheran-heran karena sama sekali tidak menemukan perspektif apapun setelah membaca tulisan Mas Rizal. Kedua, dengan perspektif feminisme transformatif sebagai kritik, malahan yang saya tangkap dari tulisan Mas Rizal hanyalah ketakutan-ketakutan sebagai seorang laki-laki terhadap gerakan perempuan yang semakin meluas tanpa memahami apa sebenarnya maksud gerakan tersebut. Karena sama sekali tidak dituliskan asbabun nuzul kenapa gerakan tersebut muncul.

Lalu yang ketiga, beberapa paragraf yang dituliskan oleh Mas Rizal malah membalikkan fakta dari penyataan yang ditulisnya sendiri bahwa “saya pribadi sangat menyambut baik apa itu keadilan dan kebijaksanaan gender.” Apa yang dituliskan oleh Mas Rizal terkesan tendensius bahwa perempuan yang membaca buku Kalis tersebut akan terseret arus yang salah dan akan mencederai harkat dan martabat feminisme, walaupun ada pernyataan bahwa hal tersebut hanyalah angan-angan. Tapi mungkin Mas Rizal punya maksud baik sebagai seorang laki-laki ‘pengayom dan penyemangat dalam berkeluarga dengan berdikari ataupun bekerja untuk istrinya’ kepada para perempuan agar tidak berhenti menjadi konco wingking manusia yang terus ingin belajar.

Saya sangat mengapresiasi tulisan Mas Rizal, karena judul yang dipilih berhasil menipu membuat saya penasaran dan meluangkan waktu saya, yang sebenarnya tidak pernah ada kesibukan, untuk menangis menulis di siksakampus.com, situs web kurang kerjaan dan antek freemesen-pulang-bayar.

Rasa penasaran saya semakin membuncah, mengetahui Mas Rizal juga menulis untuk siksakampus.com. Tulisan berjudul Salah Kaprah Istilah Bucin sungguh tulisan yang jelek saja belum mencerahkan soal cinta dan eksistensialisme. Logika tulisan asal gatuk terjalin rapi. Salut saya!

Mas Rizal yang baik hati, jika ada kesempatan saya ingin bertemu sembari menimba ilmu tentang feminisme, cinta, eksistensialisme serta cara menulis yang baik dan benar.

Akhirul kalam, semoga intelektual organik seperti Mas Rizal punya waktu untuk membaca ceracauan saya ini. Ngomong-ngomong, Mas sudah follow akun @indonesiatanpafeminis belum?