BAGIKAN

“Sandalmu jelek amat,” ucap salah seorang teman, setelah saya melepas sandal di depan tangga. Saya membeli sandal japit sekitar setengah tahun lalu. Kemanapun pergi selalu bersama. Permukaannya banyak bintik-bintik hitam. Alasnya bebas kapalan: sangat halus dan tak kasar meski sering mengalami gesekan dengan jalanan berbatu maupun beraspal.

Teman yang mengatai sandal saya tadi adalah teman satu kelompok dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN). Antara semester enam dan tujuh mahasiswa -kebanyakan- mengikuti program Lembaga Pengembangan dan Penelitian (LP2M) kampus. Mahasiswa dikirim ke beberapa pelosok desa untuk membuat riset kecil berbentuk laporan di akhir KKN.

Membuat peta dusun, mencatat dan menyusun beberapa masalah yang kerap terjadi di masyarakat. Lalu mencari solusi untuk kemudian menjadi program kerja di setiap posko KKN. Menurut esensinya, program tersebut sangat mulia. Belum lagi mahasiswa harus bisa bersosialisasi dengan masyarakat secara baik. Mengembangkan potensi yang sudah ada di masyarakat agar bisa lebih berkembang dan mandiri. Juga untuk mengambil potret kerja tim dari posko KKN dengan harapan menjadi proyeksi bermasyarakat, beragama dan bernegara.

Tidak perlu gumunan dengan kemuliaan program KKN yang diselenggarakan oleh kampus. Toh ini adalah kewajiban dari perguruan tinggi menjalankan Tri Dharmanya. Mainstream, tapi ini adalah sebuah kewajiban. Bahwa tidak ada mahasiswa yang tidak melakukan KKN (kecuali beberapa jurusan eksak lo ya). Menjadi aneh (mungkin) misal KKN mewajibkan mahasiswa dapat berbicara dengan hewan, tumbuhan, dan bakteri. Vayah deh.

Tapi KKN bisa jadi gumunan saat cita-cita mulia tidak berjalan seiring dengan perbuatan di ‘lapangan’. Hanya mahasiswa menjijikkan yang tidak memakai sandal baru, celana baru, baju baru, bedak baru, lipstik baru, ‘pemutih’ baru saat kali pertama tiba di posko KKN. Pokok harus ada barang baru, jika tak ada maka kamu akan masuk dalam golongan yang di’jijik’kan. “Malu dong dilihat masyarakat tapi barang yang kita pakai tak baru”.

Kalian akan syok ketika esok harinya. Saat di posko para mahasiswa hanya tidur, berpikir menu makan apa selanjutnya, atau hanya bermain gawai untuk saling berkabar dengan pacar nun jauh di sana. Tidak mengedukasi masyarakat. Paling mulia ya mendekati tokoh masyarakat agar program-programnya lancar. padahal harusnya mereka membuat bibit-bibit penerus bangsa yang menjaga persatuan. Iya to?

Saya berasumsi bahwa KKN hanya sebuah kewajiban laiknya ibadah wajib kepada Tuhan. Tanpa memikirkan ibadah sunnah agar akumulasi pahalanya meningkat. Tanpa memikirkan kondisi sosial masyarakat agar menjadi masyarakat yang sadar dan melek dengan kondisi bangsa. Bukan kah bangsa kita sedang tidak baik-baik saja? Stereotip buruk, perilaku dan arogansi yang terjadi pada sodara kita masyarakat Papua masih kental. Seperti yang terjadi di Yogyakarta kapan hari dan dibelahan negeri lainnya.

Sebaliknya, mahasiswa KKN hanya memikirkan nasib asmara dengan kekasihnya nun jauh di sana. Mengingat kemungkinan para penelikung asmara bisa muncul tiba-tiba. Atau sang kekasihnya menuntut tiada lain di dalam otak kecuali dia. Betapa merendahkan sekaligus menyekutukan Tuhan kita? Kalau jodoh tak kemana kok. Nyarinya itu yang harus kemana-mana. Eh~~

KKN itu ajang mencari jodoh. Tempat memanjakan dan menambah berat badan kita. Dimana kita bisa makan, tidur, sepuasnya. Kesempatan untuk jalan-jalan mencari kimcil desa yang (katanya) masih asri dan organik. KKN adalah surga para pemuja konsumerisme. Ia menjadi panggung citra yang apik untuk dipertontonkan. Sesekali malih rupa sebagai pasar yang menjadikan kita sebagai bosnya. Kita dapat membuat dan memutuskan kebijakan apapun terhadap keberlangsungan hidup pasar. Masyarakat bisa dirubah sesuai apa yang kita mau. Katanya mahasiswa mendapat anugerah menjadi agen of change(ngeng). Intelektual organik vroh. Begitu sih katanya.

Itu sekilas permukaan KKN di IAIN Jember. Tempat saya (katanya) kuliah. Kalau kampusmu bagaimana?