BAGIKAN

Nenek saya adalah bekas bidan desa. Sewaktu nenek masih dinas, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit terdekat harus ditempuh dengan menyeberang kabupaten. Sehingga beberapa urusan kesehatan seperti meminta resep dan obat, mengkhitan, dan urusan melahirkan banyak diserahkan kepada nenek.

Sebenarnya desa kami dibelah jalan poros provinsi. Sama sekali tidak terisolasi, sehingga cukup mudah untuk mengakses transportasi lintas kabupaten seperti mobil phanter atau pete-pete. Tapi waktu itu, beberapa orang di desa sepertinya lebih percaya pada nenek ketimbang rumah sakit.

Kesuksesan nenek dalam mengkhitan banyak remaja dan membantu banyak ibu melahirkan menjadikan reputasinya terbilang bagus di desa sekitar. Mungkin karena pertemuannya dengan banyak orang dan, sebagai konsekuensi, turut menyaksikan kesulitan mereka membuat nenek jadi melankolis.

Saya sering mendapati nenek melempar pernyataan simpatik pada korban gusuran saat menonton berita. Bisa dipastikan nenek akan menangis saat menonton program televisi ‘mikrofon pelunas hutang’. Dan seperti perempuan di desa pada umumnya, nenek mengutuk setiap tindakan jahat yang dilakukan oleh tokoh antagonis dalam Cinta Fitri atau program televisi sinetron lainnya.

Saat saya mulai kuliah, nenek tidak berubah. Dan saya menyukai itu. Dua tahun yang lalu setelah menyelesaikan program Kuliah Kerja Alternatif sebagai pengganti KKN, nenek menghampiri saya yang sedang mengaso di beranda rumahnya. Dia menanyakan banyak hal. Skripsi, kuliah yang saya ulangi, pekerjaan, dan kapan menikah. Untuk berkelit, saya menanyakan keadaan desa agar perhatiannya teralih. Itu berhasil, nenek mulai bercerita soal paman kami yang akan pulang, anak tetangga yang sudah wisuda padahal kami seangkatan, anak bibi saya yang juga sudah wisuda padahal kuliah belakangan, dan terakhir nenek bertanya dengan nada kesal soal apa sih yang mahasiswa KKN lakukan kalau di desa.

Sewaktu nenek menanyakan soal mahasiswa KKN, desa kami memang sedang didatangi mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Makassar yang melakukan KKN. Bukan yang pertama tentu saja, desa kami sudah menjadi lokasi KKN berbagai kampus sejak saya masih SD. Sebagai warga desa, memang bukan hal naif jika nenek mengharapkan ada perubahan yang lebih berdampak dari kegiatan KKN selain pembaruan batas desa dan dusun, penyuluhan, atau lomba agustusan. Tapi belakangan saya menduga, kalau nenek punya maksud lain.

Setelah mengikuti program pelatihan penelitian dan pengorganisasian desa yang diadakan salah satu komunitas, saya meningkatkan intensitas diri untuk mendatangi desa. Kadang benar-benar untuk meriset, namun ada juga yang datang sekedar untuk mengumpulkan informasi yang bersifat permukaan. Di antara desa yang saya datangi, beberapa sedang berkonflik, sementara desa lainnya memiliki masalah yang hanya mampu dilihat dengan riset mendalam. Jika hanya berbekal informasi bertaraf permukaan umat muslim tidak bisa menentukan awal bulan puasa. Hilal gak terlihat coy….

Beberapa bulan lalu saya ke desa yang menjadi lokasi program salah satu lembaga mahasiswa. Programnya mengajar selama tiga hari setiap bulan dan sudah memasuki tahun kedua. Untuk ukuran kampus, itu program yang cukup bagus karena berkelanjutan dan berfokus di satu tempat. Saya sendiri baru sempat ikut di akhir program.

Berhubung sasaran programnya anak-anak, saya lebih banyak tinggal di rumah kepala desa yang menjadi tempat kami menginap. Di hari kedua program berjalan, saat semua peserta pergi mengajar saya berkeliling mewawancarai beberapa warga seperti yang diajarkan saat pelatihan. Saya ingin mengetahui respon warga mengenai program yang sudah berjalan beberapa bulan ini.

Salah satu yang saya temui adalah seorang petani bernama S. Dia sedang mengaso di pos ronda  bersama kawannya sambil menjaga gabah yang sedang dijemur. Karena gerimis, kawan S pamit pulang dan saya diajak naik ke rumahnya setelah mengangkut jemuran gabah. Di sepanjang jalan desa itu, gabah yang dijemur memang sedang jadi pemandangan umum karena panen baru usai.

Saat naik ke rumah S, saya mendapati dia sedang mengobrol dengan perempuan yang mungkin istrinya. Melihat saya, perempuan itu permisi masuk dapur. S meminta saya duduk, beberapa menit kemudian perempuan itu keluar dari dapur dan membawa dua gelas kopi serta sajian makan siang: beberapa potong ayam, sebakul nasi,  juga semangkuk rendaman garam dan cabe sebagai penambah rasa.

Dalam obrolan di meja makan, saya mengonfirmasi banyak hal pada S. Saya terkejut ketika dia memberitahu bahwa saya adalah satu-satunya tamu yang berkunjung ke rumahnya. Dia menyampaikan rasa senangnya karena akhirnya ada tamu yang berkunjung.

Selama ini S dan warga lainnya beranggapan ada yang salah dari mereka sehingga tidak ada satupun tamu dari kota yang mau berkunjung untuk berinteraksi dengan warga. Mengingat jarak rumahnya hanya selemparan batu dari rumah kepala desa. Padahal ia sendiri adalah warga yang menyambut baik program mengajar tersebut. Namun disaat yang bersamaan, ia kecewa karena merasa tidak dianggap ada oleh para peserta program.

Sebagai referensi, orang Sulawesi Selatan terutama di pedesaan sangat senang menerima tamu. Apalagi jika tamunya dari luar desa. Selain ingin mengetahui apa yang dilakukan orang luar mengunjungi desanya, kepercayaan bahwa tamu mendatangkan rezeki adalah alasan lainnya. Sehingga memberi makan tamu yang berkunjung menjadi pakem yang pantang dilanggar karena karmanya menakutkan.

Besoknya saat menghadiri penutupan program, saya mendapati seremoni dalam desa yang lebih banyak dihadiri oleh mahasiswa dari kota. Selain aparat desa, dan anak-anak yang memang jadi sasaran program, warga lain tidak datang meski telah diundang sehari sebelumnya. Waktu itu saya mendadak kepikiran kemungkinan maksud pertanyaan nenek soal mahasiswa KKN. “Kenapa sih tidak ada mahasiswa KKN yang pernah bertamu kemari?”

Catatan tambahan:

Phanter adalah Angkutan penumpang lintas kabupaten/kota dan provinsi. Diambil dari salah satu merek mobil yang dikenal di Sulawesi Selatan. Umumnya mobil minibus.

Pete-pete adalah Angkutan penumpang dalam kabupaten/kota, namun pete-pete masih mengantar hingga ke desa kami karena letaknya di perbatasan kabupaten. Umumnya pete-pete merupakan mobil model kapsul seperti Futura atau Carry.