BAGIKAN

Seymour Hers, reporter muda pada tahun 1950-an di City News Bureau, Chicago mengimani jargon “jangan menulis sesuatu yang tak kau ketahui betul.”

Hal itu lah yang dilakukan oleh teman saya, mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Menyelesaikan tugas akhir berdasarkan pedoman penulisan karya ilmiah khas akademisi. Karena itu adalah patokan wajib dalam menyusun tugas akhir.

Perlu diingat! Pedoman Karya ilmiah kampus mengatur aturan paragraf, penulisan abstrak, font, cara mengutip ayat suci, bahkan ukuran huruf kapital pun diatur dalam buku pedoman ini. Tak seperti Al-Kitab, Al-Quran, atau buku-buku lainnya yang tak ada patokan wajib dalam ukuran huruf misalnya.

Saya mengamini bahwa akreditasi kampus akan naik saat jumlah dan kualitas lulusan baik. Tidak halnya untuk Fakultas Hukum Islam, tempat saya kongkow di kelas bersama teman yang menyelesaikan tugas akhir ini. Karena Dekan kami sangatlah menghambat proses lulus teman saya. Sungguh, meski itu menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa saya tak percaya begitu saja. Karena beliau adalah sosok yang setiap ada suara adzan berkumandang di Masjid Sunan Ampel (milik kampus) membuatnya bergegas lekas otewe masjid. Lalu mengajak mahasiswa yang dijumpainya untuk melaksanakan ibadah salat berjamaah. Betapa tak mungkin sebaik dan se-soleh itu menghambat proses kelulusan teman saya?

Ceritanya teman saya mendapat teguran saat menyusun skripsi gegara tidak memerhatikan paragrafnya. “Jangan ganti paragraf sebelum pembahasan habis. Segala yang berkaitan dengan nikah, jangan ganti paragraf baru sebelum bertemu dengan pembahasan perceraian. Karena itu sudah beda,” ujar Dekan Fakultas Hukum Islam itu.

“Saya pernah dengar dari dosen bahwa….”

Teman saya belum selesai menjelaskan maksudnya, sang Dekan melempar bendelan skripsi di atas meja. “Ya sudah. Jangan bimbingan ke saya,” ucap sang Dekan yang matanya memerah seraya menyuruh teman saya pulang.

Dia pulang. Kemudian mengajak saya ngopi cantik untuk melepas penat di kepala. Setelah mendengar ceritanya, saya heran. Apa iya pembahasan syarat nikah dan rukunnya itu dianggap satu pembahasan? Bukankah beda antara syarat dan rukun? Perlu dong untuk membuat paragraf baru? Juga apa tidak kasihan pembacanya?

Mengapa Dekan, seorang yang harusnya mempunyai nilai akademis tinggi dan terbuka terhadap segala bentuk pengetahuan menutup rapat keran pengetahuan. Tak mau menerima hal-hal baru dan mendiskusikannya. Apa betul beliau ingin menyamakan skripsi dengan Al-Quran yang mulia? Paragraf baru ketika ada juz baru (misalnya juz 1 ke juz 2). Tapi saya masih beranggapan bahwa mungkin beliau khilaf. Karena menurut teman saya Beliau dalam kondisi sakit. Semoga saja memang begitu.

Seminggu berlalu. Teman mencoba kembali memberikan skripsinya untuk dikoreksi lagi. “Masih tetep jadikan saya pembimbing?,” ujar Dekan. Teman saya lagi-lagi diomeli. Perihal bagian abstrak skripsi yang harus lebih dari satu halaman. Padahal menurut dosen yang menjadi teman ngopi saya, abstrak itu hanya satu halaman dalam buku pedoman yang ia baca. Dan Beliau menekankan kembali bahwa dilarang membuat paragraf baru jika masih satu pembahasan. Terlebih dalam aturan buku pedoman diatur bahwa setelah mengutip ayat untuk artinya harus membuat paragraf baru dan tata paragraf menjorok ke dalam.

Namun menurut Dekan itu tidak boleh. Harus lurus layaknya Al-Quran yang mulia dan tidak mengajarkan paragraf yang menjorok ke dalam. Lurus sampai ke bawah. Bukankah tiada yang menyamai bahkan menandingi al Quran?

Bimbingan skripsi terakhir dia dipasrahi untuk semua isi. Karena sang pembimbing hanya melakukan koreksi perihal penulisan. Yang menurut hemat saya tidak berdasar pedoman yang terbaru, expired, dan menang sendiri berdasar pengetahuannya yang sudah lapuk. Akademis yang tidak mau terbuka terhadap hal baru.

Bukankah pengetahuan itu selalu berkembang untuk penyempurnaan atau mengisi kekurangan? Tapi saya masih percaya beliau adalah tokoh yang patut untuk ditiru. Tak ada yang benar-benar tulus mengatakan sesuatu yang menurut batinnya benar di kampus yang penuh perpolitikan ini. Saya percaya beliau mengoreksi skripsi teman saya berdasar pengetahuannya menyusun skripsi dulu semasa kuliah. Juga teman saya yang menyusun skripsi berdasar buku pedoman penulisan karya ilmiah terbaru di kampus ini.

***

Dekan itu mempunyai perawakan alim menurut kebanyakan. Berjenggot, bersongkok, sering memenuhi panggilan adzan, tegas dan hati-hati dalam mengambil keputusan. Sebut saja Beliau dengan inisial Sutrisno.

Demikian, tulisan ini tidak melakukan proses jurnalistik yang diantaranya ada konfirmasi, cek data perihal buku pedoman penulisan karya ilmiah milik kampus. Karena terkendala banyak teman penulis yang tidak punya buku pedoman. Juga ingatan penulis yang lemah nan hina ini.

Saran saya, jangan baca tulisan ini. Karena hanya tulisan dangkal berawal dari ngopi cantik. Bukan kuliah umum atau hal yang berbau ilmiah.