BAGIKAN

Berawal dari  suasana kelas yang garing, dengan sosok dosen yang mengaku khaffah dalam bidang statistik. Tidak ambil pusing saya memilih menutup telinga dan bermain apa yang saat itu ada di bangku meja kelas tempat saya kuliah. Beberapa mahasiswa lainnya fokus pada gadget nya, dan sisanya berusaha mendengarkan pemaparan yang disampaikan dosen.

Dapat dipahami tidaklah nyaman dalam ruangan dengan suara angka dan kesimetrisannya. Mungkin lebih keren menghitung  berapa jumlah mantan dan beberapa yang hanya datang dan pergi. pada akhirnya mahasiswa akan lebih keren dengan menjabat yang katanya aktivis kenangan,  dengan kegalauan yang menye-menye tak kunjung usai dari obrolan di warung kopi.

Tak kalah memprihatinkan jika hanya bimbang dalam menentukan diam dan berfikir. Diantara keduanya hanya posisi “aman”, juga seperti  kata Forest Gump: Life is a box chocolates. Pada akhirnya, mahasiswa itu sendiri yang akan mengambil keputusan untuk hidupnya. Jalan hidup seperti apa yang akan dipilihnya.

Bukan sebagai korban yang fleksibel, pasif, dan penurut terhadap stimulus lingkungan.  Dengan demikian berbahagialah bagi individu yang masih berkepribadian unik tanpa ditentukan pihak birokrasi sebagai pengintervensi,  dan kenangan yang selalu seksi dalam ingatan.

Terlebih, pilihan yang akan menfasilitasi jalan hidup seperti apa yang diinginkan. Tidak lagi berdasarkan prinsip-prinsip yang sifatnya bullying terhadap jalan pikiran yang tidak lepas dari masa lalu, dan kesepian. Artinya, ditengah realitas demokrasi asimetris di mana majoritarianisme masih diberhala dan kalangan marginal terus dilemahkan, hak-hak dan kebebasan merebut mantan masih menjadi alih-alih yang cenderung dihakimi dengan hujatan yang menyudutkan.

Yang kita ingat saat ini hanyalah sebagian tepian kenangan yang menepi dalam diri kita –dengan mantan yang paling berpengaruh menurut penyeleksian kenangan yang ada. Hingga terkadang kita tidak tahu seberapa beragamkah kenangan yang kita lalui. Enggannya mengingat mantan yang tak masuk dalam hitungan atas apa yang sudah ditinggalkan, menjadikan diskriminasi terhadap kenangan yang sebenarnya pernah menjadi ingetan tentang keberagaman kenangan.

Dalam semangat perlawanan penyalahgunaan move on sebagai dalih sulit berpaling dari mantan. Diperlakukan sewenang-wenang membuang ingetan mantan-mantan, sedangkan hanya satu atau dua yang disimpan sebagai tolak ukur bagaimana mencari pacar selanjutnya dan memamerkannya. Lalu kontribusi sisa-sisa kenangan yang terbuang dianggap catatan ecek-ecek.

Didalam wacana keberagaman yang berasal dari barat tersebut termuat unsur kesetaraan. Demikian juga dengan mantan yang tah ubahnya rentetan cerita pahit manis dalam hubungan berpacaran. Yang sebenarnya tidak ada kasta kelas yang mana harus disimpan dan dibuang.

Dalam konteks ini menampilkan kebebasan berkenangan tanpa harus mebuat pandangan bahwa kenangan mana yang lebih indah dan harus menyimpannya. Adalah ironis saat mantan yang terlampau usang dengan sengaja menyebarkan ayat-ayat kebencian justru menimbulkan rasa ingin kembali. Problematika tetang mantan inilah menjadikan keberagaman yang menjunjung tinggi kesetaraan dalam kenangan.

Tafsir keberagaman yang diingatkan oleh ahli Franz Margins-Suseno agar lebih berhati-hati membedakan, juga berlaku bahwa kenangan bersama mantan tidak hanya berlaku dengan satu atau dua kenangan saja, namun bagaimana mengelola perbedaan kenangan menjadi serangkaian kronologi keberagaman kenangan.

Di era reformasi, kenangan menjadi area yang sensitive mendapatkan eksploitasi  oleh oknum  yang sebelumnya mendapatkan pencerahan, bahwasaannya kenangan hanya akan mengingatkan kita akan masa lalu lantas untuk apa disimpan. Memang pada masa itu setelah lengsernya Soeharto pada Mei 1998 membawa angin segar pada kebebasan. Setelah itu bermunculan perspektif kebebasan dalam memelihara kenangan tanpa memasukkan keberagaman dalam memeliharanya.

Meski belum ada petunjuk pemeliharaan kenangan dengan keberagamannya membuat sikap ragu apakah sudah dapat dikategorikan eksploitasi atau masih dalam batas bebas. Mantan Presiden B.J habibie datang dengan membawa pencerahannya agar memulai dari yang mutakhir, jangan memulai dari awal. Sebagaimana yang dipaparkan mantan Presiden ketiga Indonesia tersebut menimbulkan lunturnya keraguan, bagaimana memelihara kenangan tanpa memulai dari awal segala perspektif mainset dengan era orde baru yang menjunjung tinggi kebebasan. Hal serupa dibenarkan untuk membatasi ruang gerak kebasan monarki. Kebebasan untuk mengeksploitasi kenangan dengan membuat kasta dan menyeleksinya setelah itu membuangnya.

Dengan menghargai mantan dalam serangkain kenangan yang beragam lebih mulya mengakui keberadaan mantan. Tanpa menimbulkan kesan justifikasi terhadap siapa yang memberikan kenangan paling indah dan pahit, semata-mata memiliki keyakinan secara historis kepada apa yang menjadi tahapan mengelola keberagam  dalam kenangan.

 

BAGIKAN
Artikel sebelumyaSurat Terbuka untuk Mantan
Artikel berikutnyaManunggaling Kawula Mantan
Mahasiswa Universitas Muhamadiyah yang ingin masuk Nahdatul Ulama