BAGIKAN

Jika kiranya hidup adalah sebuah skenario panjang, saya sedang melakoni peran sebagai teman yang setia. Siaga mendengarkan cerita tentang apapun itu, dari hal yang tidak penting sampai pada hal yang penting. Berawal dari ajakan ngopi membawa saya ke sebuah warung kopi tak jauh dari kampus kami. Melalui sesi curhat, sampai rencana nge-camp menjadi topik yang kami diskusikan. Bising kendaraan berlalu lalang, saya mencoba menjadi pendengar baik bagi teman yang sedang patah hati. Patah hati memang kadang menjadi salah satu petunjuk tuhan bagi mereka yang menaruh harap pada seseorang.

Eits.. berbeda dengan kebanyakan yang orang patah hati karena putus cinta, teman saya lain cerita. Ia patah hati karena gagal ujian proposal. Ujian proposal menjadi sebuah syarat yang harus dipenuhi sebelum turun melakukan penelitian, tujuan akhirnya untuk mendapatkan gelar sarjana.

Ia sedang merasakan suasana hati yang tidak karuan, bukan karena sesuatu yang luar biasa. Ini biasa-biasa saja. Biasa terjadi. Beberapa hari sebelumnya teman saya sudah menghubungi dosen pembimbing untuk naik ujian proposal. Jauh-jauh hari, dosen sudah mengiyakan. Jadwal sudah diatur. Setelah H-1, teman saya kembali mengingatkan, sekalian mau bawa undangan ujian proposal untuk si dosen. Tiba-tiba dosen berhalangan hadir, katanya ada urusan keluarga. Akhirnya, teman saya disuruh atur ulang jadwal.

Makin sakit hati mengingat orang tua teman saya itu baru saja membelikan baju putih, sebagai bentuk support agar anaknya semangat saat ujian proposal. Teman saya tiba-tiba mengusap dada dan berkata “ Kecewa lagi, Macea (Ibu)!”

Sebenarnya perkuliahan menjadi topik pembicaraan yang jarang kami diskusikan. Mungkin ini momen yang tepat untuk bernostalgia, pikir saya. Merangkum hal apa saja yang melukai hati, ada saat di mana saya juga merasa patah hati di kampus.

Saya masih ingat saat duduk di bangku SMA, saya melihat kehidupan kampus dari FTV yang saya tonton. Gambaran mahasiswa dikenalkan FTV sangat mengasikan. Para pemeran bisa masuk kelas dengan membawa buku seadanya, memakai tas dengan berbagai bentuk, pake kaos oblong (bebas rapi). Satu lagi yang paling penting untuk digarisbawahi dosennya santai dan enak diajak ngobrol. Rasa yang tak terdefinisi muncul dari dalam diri, saya pun berkata “Enak ya kuliah”.

Setelah masuk dunia kampus, semua gambaran itu buyar, berserakan, pecah, dan menghilang tanpa jejak. Kuliah tidak seindah apa yang kita harapkan. Tidak seperti di FTV. Mungkin kita berharap bisa memakai kaos oblong saat menyandang gelar mahasiswa, berambut gondrong, bebas baca buku apa saja, terlebih bebas berekspresi. Itu yang terpenting.

Kalau saya bilang berekspresi adalah cara mahasiswa mencoba menggali potensi diri. Namun hari gini, kampus masih saja mengurusi hal sepele seperti tampilan fisik. Bisa jadi birokrat masih terkurung dengan definisi mahasiswa cerdas dan baik ketika berpakaian rapi, berkemeja, rambut tidak urak-urakan, pendek (bagi laki-laki), dan jangan lupa pakai sepatu.

Tidak selesai disitu, sedikit demi sedikit kampus mulai mengekang kebebasan berekspresi mahasiswa dalam konteks berlembaga. Seperti fenomena yang terjadi di kampus saya, Universitas Hasanuddin tercinta yang mulai memberlakukan jam malam. Setiap pukul 18.00 WITA, kampus harus dikosongkan dan tidak ada aktivitas lagi. Hal ini sangat merugikan mahasiswa-mahasiswa yang terlibat dalam organisasi intra maupun ekstra kampus. Segala kegiatan lembaga mau tidak mau, harus disudahi sebelum jam malam.

Mahasiswa pun semakin kekurangan ruang untuk berekspresi. Jangankan berekspresi, menyampaikan pendapat pun kegelisahan-kegelisahan yang dialami tidak mendapat tanggapan birokrat.

Saat-saat patah hati yang menyakitkan lainnya, ketika bangun pagi, lupa sikat gigi, dan tidak mandi, saya mengejar jadwal kuliah 07.30 WITA. Setelah perjuangan itu, sampai di depan pintu ruang kuliah, eh malah dosennya belum datang. Lima menit, 10 menit, bahkan sampai 30 menit sebelum perkuliahan berakhir, dosen baru datang. Padahal satu sesi perkuliahan menghabiskan waktu dua jam lebih.

Bagian-bagian dari kisah patah hati yang menyakitkan lainnya, ketika mahasiswa yang terlambat, disebut terlambat jika datang setelah dosen lebih dulu. Mau tidak mau sanksi menghantui. Salah satu sanksinya yaitu mendapat alfa.

Saya tidak tahu apakah ketika saya menulis hal ini adalah sebuah kesalahan, atau dinilai membangkang kepada orang tua di kampus (dosen). Ini adalah bagian dari curahan hati kami sebagai anak (mahasiswa) di kampus dengan segala kemewahan bangunannya, citra-citra baik di televisi, dan aturan-aturan yang menurutnya baik untuk kami, padahal tidak. Jika kampus dianalogikan sebagai pemimpin, mungkin ia pemimpin yang otoriter, hanya mendikte, paternalistik, dan rasa kurang percaya terhadap kemampuan intelek mahasiswanya sendiri.

Kampus kini menjadi tempat patah hati bagi mahasiswa. Orang-orang yang berharap pada kampus adalah orang-orang yang dengan tidak sadar memberi ruang dalam dirinya untuk merasakan sakit hati. Seperti sarjana-sarjana kampus yang tercetak sebagai penganggur. Dan mereka yang ingin merdeka, karena sejatinya pendidikan harus memerdekakan dari penindasan, kebodohan, dan ketakutan.