BAGIKAN

Ketika nanti tulisan ini dibaca pengunjung siksakampus.com yang mayoritas berkepribadian progresif, saya sudah berserah diri untuk dikritik sekeras kak Grasia Renata Lingga ketika ngeceni tulisan Nurul Aini, atau semantap kak Adil Satria Putra ketika menyemprot tuduhan kak Immanuel Yudhistira atas tulisannya yang berjudul Lika-Liku Aktivis Kekinian. Saya legawa, insyaallah.

Dua malam sebelum saya menulis ini, saya pergi menonton film Pulau Buru Tanah Air Beta yang diputar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang. Sejak film itu pertama kali batal ditayangkan di Goethe Institut Jakarta saat pagelaran Belokkiri Festival, saya mengikuti linimasanya dan bahagia bukan main setelah tahu film itu akan diputar di kota-kota lain di Indonesia.

Ketika akhirnya pemutaran film itu menuai penolakan dimana-mana, keinginan saya untuk menonton justru semakin menggebu-gebu. Pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta di Semarang nyaris dibubarkan. Saya melihat sendiri perdebatan yang cukup lama antara Wakil Rektor III UIN Walisongo dengan salah satu pemantik diskusi film, seorang dosen UIN Walisongo. Beruntung, pada akhirnya pemutaran film dan diskusi film setelahnya tetap berlangsung. Meski saya sempat kecewa, film yang ramai dikecam organisasi masyarakat itu ternyata tidak semengejutkan yang saya kira.

Lalu apa hubungannya pemutaran film Pulau Buru dengan judul tulisan ini, mbak?

Pada malam yang sama, saya menerima pesan melalui telepon genggam yang berisi kira-kira: ‘mbak, bersedia ikut demo?’

Saya mendadak gugup.

Sebagai mahasiswa vokasi tingkat akhir yang ingin melanjutkan pendidikan S1, saya ingin rasanya menerima tawaran tersebut. Saya ingin ikut orasi, bertanya secara lantang, “Mengapa hanya ada segelintir kampus negeri yang membuka jalur ekstensi? Mengapa hanya ada beberapa kampus negeri yang mau menerima mahasiswa transfer Diploma III untuk melanjutkan studi Sarjana? Mengapa biaya kuliah transfer mahal?

Tapi saya mengurungkan niat untuk menerima tawaran berdemo. Selain karena unjuk rasa tersebut tidak hendak mempermasalahkan problema mahasiswa vokasi, saya juga tidak benar-benar paham materi yang akan didemonstrasikan. Saya masih terus gugup. Tudingan tidak solid, kemayu, mahasiswa kekinian, atau aktivis twitter memenuhi ruang kepala saya. Kalimat semacam, ‘wedi wedake luntur’ membuat saya takut untuk menulis sebaris pesan balasan bahwa saya tidak bersedia mengikuti demo.

Agaknya tulisan saya ini ibarat nasi yang berubah menjadi bubur karena berulang kali dimasak. Sebelumnya, saudara Adlun Fiqri juga pernah membuat tulisan senada dengan judul Beta Mau Basuara. Tuntutan kami berdua sama: mbok ya mahasiswa progresif yang gemar nyinyir itu berhenti merasa (sok) heroik. Ada banyak pergerakan mahasiswa yang dibungkus dalam beragam bentuk. Di Semarang misalnya, ada Perpustakaan Swadaya Teman Baca yang rutin menggelar perpustakaan alternatif setiap hari kamis di Gazebo Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Beberapa mahasiswa yang aktif dalam kegiatan sinema di Semarang juga kerap membuat film pendek, sinema puisi atau penggarapan film dokumenter. Sebut saja misalnya Aji Kusuma Admaja, mahasiswa Unnes yang gemar membuat sinema puisi atau komunitas SineRoom. Belum lagi teman-teman mahasiswa yang aktif dalam komunitas pegiat sejarah di Semarang. Adanya kegiatan pemutaran film-film dokumenter atau film-film berpesan sosial serta diskusi film setelahnya seperti yang pernah dilakukan Soe Hok Gie barangkali bisa juga disebut pergerakan. Jika pergerakan semacam ini terus didukung saya kira penggarapan film dokumenter seperti Pulau Buru Tanah Air Beta misalnya, tak perlu lagi disutradarai oleh Rahung, mahasiswa juga mampu membuatnya.

Demonstrasi mutlak diperlukan jika merujuk pada semacam bentuk revolusi seperti yang dijelaskan pada buku Aksi Massa milik Tan Malaka. “Sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat,” jelas Tan pada Bab I.

Unjuk rasa bisa jadi adalah muara atas sekian macam bentuk pergerakan yang tak kunjung membawa perubahan. Tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, memandang demonstrasi sebagai satu-satunya cara untuk melawan serta menutup mata pada gerakan lain adalah cacat pikir! Gitu kali ya….. Tos dulu ah sama bung Adlun!