BAGIKAN

Waktu itu selepas menghadiri perayaan Milad salah satu LPM di Makassar, saya dan beberapa teman dari LPM lain yang menghadiri hajatan. Mengambil jeda untuk berbincang sebelum pulang. Awalnya kami membicarakan soal perhelatan nasional organisasi perhimpunan pers mahasiswa yang baru selesai beberapa hari sebelumnya. Tapi entah bagaimana ceritanya, arah obrolan berubah jadi ajang curhat masalah lembaga masing-masing.

Adalah P, sebut saja demikian. Memulai curhatan soal dirinya yang sering dicari-cari kanda-kandanya di organisasi karena dinominasikan sebagai dinda paling kurang ajar seorganisasi. Saya akui tampang P dan seluruh penampakannya yang lain memang kurang ajar, tapi itu bawaan sejak ari-ari dan tak bisa diubah lagi. Namun soal sikap atau cara berperilaku yang benar, bisa saya jamin kalau P jauh lebih bagus daripada beberapa Polisi saat meminta audiensi yang memang lebih ke arah ajakan berkelahi.

Bercerita lebih jauh, ternyata P dicari-cari karena menolak instruksi organisasi untuk mengikuti salah satu aksi demonstrasi bela identitas yang sedang ramai-ramainya dibicarakan belakangan, karena memiliki pandangan lain. Lalu ?. Kemudian begitulah, P dicap sebagai dinda yang kurang ajar, karena mengambil sikap yang anomali dalam organisasi. Yang seharusnya dalam demokrasi, adalah perkara yang sebenarnya, wajar… wajar sekali.

***

Mengukur perilaku kurang ajar sendiri, sesungguhnya punya standar yang jamak. Terutama jika tafsirnya tidak dibuat berdasarkan kesepakatan kolektif. Bila mengacu pada standar yang feodal, menolak menyerahkan istri kepada tuan besar itu kurang ajar. Bekerja dan menuntut upah yang pantas pada majikan, itu kurang ajar. Bahkan menegur tuan yang tolol dengan cara sesantun bagaimanapun, itu tetap kurang ajar. Menolak menyerahkan tanah yang diminta Negara atas nama pembangunan, itu kurang ajar. Dan jika sudah tiba pada tafsir dunia militer, semua yang kurang ajar itu PKI, titik.

Kemudian menjadi celaka, jika standar feodal kata kurang ajar diadopsi oleh institusi pendidikan semacam kampus. Perkara pembungkaman pers mahasiswa yang kemudian ramai belakangan, akan menjadi wajar dan gampang dibenarkan oleh pelaku pembungkaman yang sejauh ini didominasi pejabat kampus. Untuk validasi informasi ini, kamu bisa menghubungi Solikihin, mantan BP Litbang PPMI nasional yang baru-baru ini melakukan riset lagi mengenai kekerasan terhadap pers mahasiswa. Bila kamu perempuan, kebetulan sejauh ini status Solikhin masih independen dalam arti tanpa pasangan. Dan orientasi seksualnya, sejauh yang saya tahu juga masih perempuan.

Lalu kembali menyoal tafsir kurang ajar, akan lebih celaka jika standar feodal ikut-ikutan diadopsi oleh kanda-kanda di lembaga kemahasiswaan. Tafsir kurang ajar, akan menjadi makin luas melebih standar tuan besar. Tidak mau disuruh beli rokok, meski dengan alasan paling prinsipil sekalipun, tapi berhubung kamu masih dinda, maka kamu kurang ajar. Jika gaya pakaianmu terlalu mencolok dan ada kanda yang tidak suka, kamu kurang ajar. Kumismu kepanjangan untuk ukuran seorang dinda, kamu kurang ajar. Bedakmu lebih tebal dari kanda, kamu kurang ajar. Kemudian inilah sebabnya, yang dilakukan oleh P bisa sampai bisa tergolong ke dalam perilaku kurang ajar.

***

Saya tidak menolak hirarki, apalagi sampai ke tahap antipati. Hanya saja menyebalkan jika posisi dalam suatu hirarki dijadikan senjata buat memperlakukan orang lain seenak hati. Memang benar, sopan santun itu penting. Kurang ajar jelas bukan hal yang bagus. Tapi menafsirkan semua yang tidak disukai sebagai hal yang salah, sama salahnya dengan setia pada hal yang salah.

Tapi bila memang ngotot dengan standar feodal yang demikian. Tak usah jugalah mengumbar ke publik soal keinginan mendidik penguasa, mendidik diri sendiri saja kamu gagal. Karena dalam dikotomi siksaan kampus paling aniaya, berada di sekitar kanda yang tak mau salah adalah salah satunya. Dikoreksi, kamu akan dituduh kurang ajar. Dibiarkan salah melulu, juga malu-maluin dan menjengkelkan. Kan serba kena kitanya, maju mundur sama saja.

Pada akhirnya, beruntunglah saya yang sejak masih dinda sangat jarang jadi pusat perhatian. Inti dari tulisan ini sebenarnya, adalah menyadarkan tentang beruntungnya menjadi tidak terkenal. Saya hampir lupa bilang kalau P itu tenar, sekaligus calon PU salah satu LPM di Makassar. Karena ketenaran P jugalah, dia justru sering jadi sorotan kanda-kanda. Tahu sendiri kan, paku yang dipukul palu itu paku yang menonjol keluar.

Dengan menjauhi ketenaran, kamu akan jauh dari pengawasan. Gerakanmu jadi tak terbaca oleh lawan, sehingga sulit dirumuskan antisipasinya. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan perasaan orang-orang, terutama para pengikutmu di media sosial. Sehingga kamu bisa fokus menata rencana untuk mencapai tujuan. Pokoknya percaya saja, tidak tenar itu semacam produk daur ulang. Sampah, tapi memberi banyak keuntungan. Sehingga mari mendoakan semoga siksa kampus tak akan pernah tenar. Sebab kemarin karena terlalu tenar, siksa kampus sampai dua kali terkena peretasan. Dan naskah ini, salah satunya dibuat dengan tujuan untuk merayakan pulihnya situs siksa kampus. Pada akhirnya untuk menutup naskah ini, saya ucapkan selamat datang kembali untuk siksa kampus.