BAGIKAN

Piala Dunia (Pildun) kali ini membosankan. Tak ada kawan yang mau saya ajak untuk taruhan.

Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, tiap kali ada turnamen sepakbola, saya selalu berjudi. Dari sepakbola tarkam (antar kampung), AKDP (antar kota dalam provinsi) hingga tarnas (antar nasonal). Apa yang dipertaruhkan pun macam-macam: mainan, makan-minum, dan tentu saja, duit. Kalau kamu tahu, besar taruhan yang saya ikuti tak pernah melebihi angka Rp 100 ribu. Seringnya, taruhan hanya bermodal sebungkus rokok atau sebungkus nasi pecel lele atau hanya teh hangat di burjo. Apapun taruhannya, yang penting bikin gayeng nontonnya.

Yaa… segitulah modal judi saya dan kawan-kawan sebagai mahasiswa rantau nan misqieun. Kamu pasti akan bertanya, “Yaelah, makan aja susah, pake judi segala.” Jangan salah, saya juga kerap bertanya seperti itu pada diri saya sendiri. Tapi seiring saya menjawab pertanyaan itu, semakin saya ingin berjudi dan berjudi. Mau gimana lagi coba? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab.

Kali pertama masuk kuliah, sebenarnya saya sangat ingin menyudahi kebiasaan haram dan nirfaedah ini. Lebih tepatnya ingin menyudahi label pecundang di dahi saya. Di Sekolah Menengah Atas dulu, saya terkenal sering mengajak judi, sering pula kalah dalam berjudi.

Tapi apa lacur! Saya bertemu dengan kawan-kawan yang, ternyata gemar judi bola pula. Judi mempersatukan kami. Kami punya slogan yang kami sitir dari buku Puthut EA: “Kalau kalah ya kalah sekalian, kalau remuk ya remuk sekalian. Besok berjudi lagi. Besok tertawa lagi.”

Ini bermula pada gelaran Pildun 2014. Ia menjadi tempat kami bertemu dan bertaruh. Kawan-kawanku itu, sebut saja mereka dengan nama Abi, Bondi, dan Vatar. Kami semua satu jurusan di Fakultas Ilmu Sosial Kampus Karangmalang. Abi yang paling tua, dia kakak kami semua. Sedangkan Vatar dan Bondi adalah adik tingkatku.

Keempat orang ikut taruhan. Jadi kadang kami koalisi, kadang main tunggal. Kalau tak salah, kami pasang taruhan pertama di pertandingan Spanyol lawan Belanda. Taruhan kala itu bernilai Rp 80 ribu sesuai jumlah duit yang ada di dompet Bondi. Saat itu saya dan Vatar memegang Belanda. Tim yang tak diunggulkan untuk menang. Setelah pertandingan, saya dan Vatar, masing-masing mendapat Rp80 ribu. Alhamdulillah.

Tapi ya begitu, takut duit hasil kemenangan judi tidak berkah, esoknya kami langsung menukar duit tersebut dengan rokok, cemilan, pulsa internet dan sebotol anggur. Kami traktir kawan-kawan seorganisasi. Maksud saya dan Vatar ialah agar ketidakberkahan ini bisa dibagi-bagi.

Saya rasa, taruhan paling seru di Pildun 2014 ialah ketika Brasil lawan Jerman di laga semifinal. Bagaimana tidak, Brasil adalah tuan rumah Piala Dunia 2014. Mereka pasti sangat termotivasi untuk memenangkan trofi di kandang sendiri. Selain itu, publik Brasil sebagai pemain keduabelas akan menjadi pembakar semangat para pemain.

Di lain pihak, Jerman juga diunggulkan oleh beberapa pandit karena tim yang mereka bawa ke Pildun 2014 disebut-sebut sebagai generasi emas mereka. Beberapa pemain Jerman menjadi andalan di beberapa klub elite Eropa. Dalam lapangan pun terlihat, sejak penyisihan grup hingga semifinal, mereka tampil impresif nan elegan.

Saya menjagokan Brasil. Saat itu kami bertaruh Rp 50 ribu ditambah sebungkus rokok Djarum. Hasilnya: Saya, Vatar, dan Bondi kalah. Abi sebagai bandar menang sendiri. Tak ada yang menyangka David Luiz dkk. bisa dibabat 7 gol.

Besoknya, saya tak berani masuk ke kantor organisasi kami. Takut kena rundung seharian penuh.

***

Kakek saya, yang juga penjudi pernah berkata, hidup adalah perjudian. Kalau kalah ya kalah sekalian, kalau remuk ya remuk sekalian. Benar juga, pikir saya. Banyak orang yang menghindari perjudian—kecuali sebab perintah agama—karena ingin menghindari dampaknya yang begitu besar: remuk atau makmur.

Banyak orang sering berposisi di tengah: Netral. Padahal ya tidak bisa. Mereka harusnya memilih mau jadi pemenang atau pecundang. Mau sejahtera atau kelaparan. Kemarin, rakyat di berbagai daerah ingin berjudi, bukan judi bola, melainkan judi demokrasi. Perjudian itu mempertaruhkan suaranya untuk memilih pemimpin. Seorang pemimpin yang entah nanti ketika terpilih akan berpihak pada mereka atau tidak. Sudah menjadi barang umum: janji politikus tak akan pernah—atau sulit—menjadi kenyataan. Pilihannya remuk atau makmur.

***

Hingga babak Semi Final Besar Piala Dunia 2018, saya belum sama sekali pasang taruhan. Bukan karena masalah duit―walaupun itu yang terjadi, melainkan sudah tak adanya teman untuk berjudi. Kawan-kawan saya sudah sibuk semua.

Pada akhirnya, seperti kisah bajingan yang menyenangkan pada umumnya, kehidupan harus berjalan sedangkan umur juga terus bertambah. Kawan-kawan saya menyadari untuk segera memulai atau mencoba memasuki kehidupan yang (mungkin) lebih serius. Wisuda, bekerja dan lalu menikah.

Si Vatar balik kampung dan tak balik-balik ke kampus, kabarnya ia sekarang menjadi guru. Kabar Bondi terakhir bekerja di sebuah penerbitan indie. Abi sibuk mengejar sidang dan wisuda bulan Agustus. Piala Dunia, apalagi judi bola, sudah bukan prioritas yang pertama.

Saya sih masih mau berjudi, tapi harus naik level. Mungkin lho, di iklim politik Indonesia yang sedang hangat, judi bola sudah tak lagi seru. Saya kepikiran judi Pilkada atau Pilpres. Apalagi Pilpres tahun depan diprediksi ramai calon presiden. Jadi, adakah yang mau saya ajak judi Pilkada atau Pilpres 2019?