BAGIKAN

Sebenarnya saya jarang menulis. Sejarang gebetan menyapa saya. Saya mengaku, terakhir menulis saat mengisi biodata untuk registrasi masuk Universitas Jember. Itu pun lima tahun yang lalu. Jadi, tolong maklumi tulisan ini yang serupa dengan tulisan anak gadis usia belasan yang baru belajar ilmu pasti.

Tulisan ini saya tulis saat liburan di kota rantau, ketika selesai menonton acara tv yang sebenarnya saya benci, yaitu FTV. Lah, kenapa tontonan yang saya benci ini malah saya lihat? Sebelum menerima kicauan tak sedap di kuping dari teman sepergaulan yang membaca tulisan ini, saya jelaskan bahwa ada unsur keterpaksaan dalam tragedi ini. Tuan rumah tempat saya menginap adalah pengagum karya sastra berbalut romantisme dangkal macam FTV. Dan celakanya, jam tayang FTV berbarengan dengan jam istirahat saya di ruang tv bersama tuan rumah. Akhirnya dengan terpaksa, mata yang gampang alergi dengan tontonan macam itu beradaptasi dengan cerita cinta dangkal yang gampang ditebak endingnya.

Seperti biasa, cerita yang dihidangkan tak jauh-jauh dengan cinta antar strata sosial. Yang satu kismin, yang satunya tajir. Sudah rumus pasti. Kali ini ceritanya ada seorang gadis cantik berbadan sintal yang kerjanya jadi kondektur bis. Subhanallah. Andaikata di dunia nyata mbak kondektur ini mengkondekturi bis ekonomi Surabaya-Jember, saya bakal bela-belain pulang kampung seminggu sekali. Sayang hanya fiksi.

Ceritanya mbak kondektur ini pura-pura jadi pegawai kantoran. Karena akan dikawinkan dengan lelaki tajir yang diperankan oleh aktor dengan akting yang menawan ibu-ibu rumah tangga, ywalaupun aktor itu tak seberapa paham seni peran. Si mbak kondektur ini selalu bohong kepada keluarga lelaki tajir tersebut. kebohongan demi kebohongan dilakukannya untuk menutup kebenaran tentang jati dirinya. Si mbak kondektur sendiri sadar, jika terus menerus berbohong, maka kebohongan tersebut akan menjadi bom berdaya ledak tinggi yang mampu merobohkan wc terminal yang mahapesing. Entah, dia sendiri tidak dapat berkata jujur dengan lelaki tajir dan keluarganya. Karena sudah terlanjur basah, mbak kondektur ini hanya menunggu waktu saja untuk berkata jujur di saat yang tidak terduga.

Dengan latar musik dangdut house mix rasa pantura, irama lagu catchy yang mengganggu jiwa saya tersebut menemani segmen demi segmen. Kemudian tiba pada segmen yang menceritakan kebohongan mbak kondektur ini terbuka. Lelaki tajir dan keluarganya kecewa dengan mbak kondektur. Si mbak kondektur menyesal dengan kebohongannya dan meminta maaf. Si mbak kondektur pulang ke rumah dengan muka bersalah yang lebih mirip dengan seorang resedivis maling kutang yang kembali tertangkap basah mencuri kutang.

Saya menangkap ada sedikit kemiripan antara cerita FTV ini dengan saya. Sedikit mirip dan terkesan memaksa untuk menyambungkan. Setiap pertanyaan dari orang-orang tentang lulus kuliah yang menohok, saya jawab dengan berbohong. Saya selalu ngeles dengan dalih masih nulis skripsi, masih nunggu revisi, masih nunggu seminar proposal. Padahal KKN saja belum. Saya bohong karena malu dan gengsi. Malu dan gengsi karena kondisi saya yang terlalu lama berada di kampus dan tak kunjung lulus.

kondisi saya yang kuliah terlalu lama ini adalah sebuah pilihan yang secara sadar tidak ingin saya pilih. Tetapi karena kelakuan semasa kuliah yang tidak saya sadari dan tidak terkontrol mengarahkan saya pada pilihan lulus tujuh tahun. Dan saat saya tersadar, maka lulus tujuh tahun adalah sebuah pilihan yang terpilih karena ketidaksadaran atas kelakuan diri yang tak terkontrol untuk memilih pilihan tersebut. Jadi, pilihan itu sebenarnya sudah terpilih di fase pra-sadar saya memilih. Saat sadar dan pasca-sadar saya baru mengamini pilihan tersebut. Pilihan untuk lulus tujuh tahun.

Saya sadar, kebohongan menutupi lulus tujuh tahun yang saya lakukan tidaklah berfaedah. Lulus tujuh tahun adalah pilihan saya. Kebohongan untuk menutup-nutupi pilihan saya ini menjadikan diri saya sebagai pecundang. Harusnya saya bertanggungjawab dengan pilihan saya. Berkata jujur pada orang-orang yang menanyakan tentang waktu kelulusan, adalah bentuk tanggung jawab atas pilihan kita. Inilah yang seharusnya saya lakukan. Berkata dengan jujur dan tegas kepada semua orang yang bertanya waktu kelululusan saya. Dengan bangga saya akan berkata “saya akan lulus tujuh tahun!” Dan maafkan saya yang mulai meracau mirip mario teguh yang mabuk lem.

Kembali ke cerita FTV. Di segmen terakhir seperti yang sudah tertebak, kesalahan mbak kondektur dimaafkan oleh lelaki tajir dan sekeluarga. Tapi sedikit twist ending, ternyata si mbak kondektur ini lebih memilih saudara kandung lelaki tajir untuk dikawini. Saya tidak terkejut. Sudah terlihat di awal, gelagat mbak kondektur ini tidak bisa menyembunyikan rasa terhadap saudara lelaki tajir dari pengamatan saya. Dan ceritanya berakhir dengan diiringi lagu dangdut house mix rasa pantura. Tak lupa lirik nakal nan absurd yang ndak nyambung “…mama minta pulsa, papa minta sayang…” mendorong saya untuk segera beranjak dari kursi. Saya putuskan untuk beranjak dari kursi dan membaca setumpukan majalah intisari yang penuh hidayah berbalut misteri.