BAGIKAN

Saat saya mendengar cerita dari teman kalau kuliahnya padat, tugasnya diburu deadline, banyak tugas kelompok dan pernak-pernik lainnya. Saya merasa bersyukur, setidaknya ia benar-benar kuliah. Rajin mengerjakan tugas, berani keren dan kelihatan cool dengan sedikit brewoknya. Subhanawlooh, memang sudah jadi rukun untuk menarik perhatian dedek-dedek gemes yang bergincu tebal seperti ibuk-ibuk dharma wanita.

Tapi saya juga merasa sedih saat ingin mengajaknya untuk ngopi saat ia sedang berdua-duaan dengan tugasnya. Bagaimana tidak, ngopi adalah hak segala umat. Dalam kegiatan ngopi biasanya kita bersama teman berbincang sambil menikmati kopi yang kita pesan. Ngobrol bentuk aktivitas manusia sebagai makhluk sosial untuk saling berinteraksi. Tetapi aktivitas itu hilang dengan alasan tugas.

Ia bercerita saat salah satu dosen laki-laki yang memberi kuliah mengatakan kalau anak Teknologi Informasi tidurnya ada yang sampai 7 jam selama seminggu karena tugas. Betapa kagetnya saya saat mendengarkan ceritanya. Pikiran saya langsung membayangkan tugas yang difatwakan para dosen ke mahasiswanya. Ibarat api yang membara di kompor tukang nasi goreng saat tungkai pengatur api di putar lebih besar, emosi saya ikut naik mendengar cerita tersebut. Apakah cara mendidik mahasiswa harus menghilangkan sifat naluriah sebagai seorang manusia, pak?

Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi kesehatan dedek-dedek gemes kalau dosennya seperti dosen yang mengajar teman saya ini. Hampir dari hari senin sampai jumat harus lembur karena tugas yang kejar tayang seperti sinetron. Tegakah kita melihat dedek-dedek gemes bermata panda saat kuliah pagi? Terkantuk-kantuk saat kuliah karena kurang tidur, mengganjal dagu supaya tetap menghadap ke depan. Sungguh dosen yang tidak paham akan kesejahteraan mahasiswanya.

Bicara tentang kesejahteraan, saya teringat istilah animal walfare dimana saat kodisi ternak dibuat berbeda dari lingkungan aslinya atau kenyamanan, maka produktifitasnya akan berbeda dibandingkan saat berada di lingkungan aslinya. Lalu, bagaimana jika mahasiswa tidak mendapatkan kesejahteraannya dan kenyamanannya? Seperti lirik lagu Rizky Febian; kesempurnaan,kenyamanan, cintaaa. Sudah bisa ditebak sepeti apa? Dedek gemes tidak bisa tampil cantik maksimal dong, karena wajah ngegemesinnya tak dapat dinikmati untuk penyemangat kuliah pagi kan? Jangan sampai kamu sakit gara-gara keseringan lembur. Inget, kesehatanmu lho! Eh, maaf salah fokus.

Untuk bapak osen teman saya yang saya hormati. Kalau bapak membaca tulisan ngawur ini, mohon bapak baca sampai selesai. Mendidik mahasiswa agar cepat lulus dan siap kerja memang baik, pak. Mahasiswa disiapkan agar unggul dalam praktik dan apa yang ajarkan, memang tidak salah. Tapi bagaimana mahasiswa saat menghadapi masalah kritis di lapang seperti terbatasnya informasi dan akses teknologi informasi di daerah pelosok? Apakah tugas-tugas yang menyita waktu bobok mahasiswa bisa membantu menjawab pertanyaan tadi?

Ah, tulisan saya makin ngawur. Mungkin mampir ke warung kopi dan membuka obrolan di sana bisa memberi pencerahan dari pertanyaan ngawur tadi.