BAGIKAN

Dua bulan terakhir dunia digital digegerkan dengan kabar berita hoax. Masyarakat Indonesia cenderung geger saat mendengar kata ‘palsu’. Tidak heran juga akar dari viralnya berita hoax disebabkan oleh judul-judul berita yang bombastis, yang memberikan efek kejut dahsyat, bahkan mengalahkan bom dengan daya ledak tiga ratus meter.

‘Waspada! Mantan kekasih kalian adalah mantan teroris’. Bila kalimat tersebut menjadi judul berita, tentu lumayan mendulang ribuan klik bagi pemuda yang gagal jalani hidup asmaranya. Atau ‘Heboh! Burung perkutut ini membuat pemiliknya kaya tujuh turunan’. Tak heran media sosial seperti Facebook membuat pernyataan sikap akan membuat fitur baru. Isinya akan meminimalisir berita-berita palsu yang menjadi konsumsi masyarakat.

Rencananya pihak Facebook akan menggandeng para jurnalis untuk memverifikasi kebenaran suatu berita. Langkah ini saya nilai sebagai tindakan kepedulian nyata dari Facebook kepada penggunanya. Meskipun latar belakang utamanya karena para pengguna Facebook mulai lelah. Lelah harus melihat beranda Facebooknya kotor oleh orang-orang Radikal tak punya pikiran. Fasis. Jika Meggy Z masih hidup, dia akan menggubah liriknya menjadi ‘lebih baik sakit hati, daripada beranda FB dikotori’. Kalean penjual agama sempak semua.

Kita kembali pada soal gegernya masyarakat Indonesia oleh berita hoax. Masyarakat kita cenderung sebagai pembaca pasif daripada aktif. Mereka menguras emosi dengan jumlah tak terbatas saat muncul hal baru, terlebih menghebohkan. Seperti aksi Wiro Sableng dengan jumlah massa ratusan ribu menjadi jutaan. Masyarakat kita akan lebih mudah membagikan berita hoax itu daripada mempertimbangkan atau menghitung kembali angka bombastis yang muncul dengan area aksi sekian meter.

Penyebabnya tak lain adalah kepsyen “Inilah bukti kebesaran Tuhan. Like share dan katakan amin”. Sungguh bukti nyata kebesaran Tuhan. Masalah yang muncul kemudian dengan tidak butuhnya Tuhan kata-kata dalam pembuktiannya. Bukankah pembuat kepsyen itu dalam kesesatan dan kekeliruan yang nyata? Statistik mengatakan jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia di peringkat tertinggi dibanding agama yang lain. Masih kurang bukti nyata dan membuat kepsyen konyol? Kalian melukai Tuhan tahu. Anying!

Membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu menjadi ciri pembaca pasif. Ini bermula dari tradisi lisan masyarakat kita yang masih kental. “Tembung jare” masih mengakar pada masyarakat kita. Yaitu fenomena membagikan suatu informasi secara luas tanpa mempertimbangkan data dan fakta secara kuat. Dan hanya berangkat dari satu informan yang belum bisa dipertanggungjawabkan benar tidaknya. Klimaksnya pada era digital sekarang. Bahwa tradisi lisan akan lebih mudah melacak satu informan yang menjadi sumber informasi ketimbang tradisi tulisan berbentuk digital.

Siapa yang menulis, bagaimana melakukan konfirmasi atau verifikasi terhadap informan atas informasi yang dibagikan jika belum pernah bertemu. Tidak pernah melakukan satu obrolan intim terkait informasi itu. Beruntung jika uneg-uneg masyarakat tersampai dan mendapat balasan penjelasan dari informan. Kalau informasinya didapat dari sebuah situs tak beridentitas? Nembak calon pacar (yang jelas-jelas tatap muka secara fisik) aja belum tentu dapat balasan. Apalagi orang yang berada di dunia digital dan tak beridentitas. Huft deh!

Pertanyaan selanjutnya, apakah orang yang kita kenal di dunia digital tidak berpotensi sebagai penyebar berita hoax? Saya mempunyai teman yang sudah mempunyai kekasih. Pada suatu hari, kekasihnya digondol oleh temannya. Kejadian ini kemudian dikenal oleh kawula muda sebagai tragedi telikung. Masih belum paham? Saya mempunyai teman sepasang kekasih. Suatu hari, satu teman saya ini mencari pasangan lain untuk menduakan teman perempuan saya. Ujungnya, teman saya lebih memilih dia (pacar barunya) ketimbang teman perempuan saya, mantan pacarnya. Dari dua kisah di atas, saya menyimpulkan bahwa orang yang kita kenal baik, setia dan romantis mempunyai potensi memberikan berita hoax pada kita. Entah sekadar mendua atau cari pacar baru. Berita hoax adalah awal perusak hubungan asmara antara kamu dan dia.

Seperti kandasnya hubungan asmara, pembuat dan penyebar berita hoax berangkat dari motif kapital yang sarat akan material. Jika alasan pasangan kalian minta bubar karena minyak wangi yang kampungan dan orang lain lebih kece terkait selera minyak wangi. Maka pembuat dan penyebar berita hoax lebih memilih jalan itu ketimbang usaha kantor beritanya gulung tikar. Sungguh pertimbangan yang harus kita kasihani dan layak untuk mendapat donasi. Masalahnya, mereka membuat dan menyebarkan berita hoax itu tidak kasihan pada masyarakat kita kok. Kenapa kita harus kasihan? Tutup saja akses digital bagi mereka yang membuat dan menyebarkan berita hoax.

Seharusnya pembuat dan penyebar berita hoax itu harus mendapat karantina secara intensif di lembaga-lembaga keagamaan menurut keyakinan masing-masing. Agar mereka tahu, pembuat dan penyebar berita hoax itu mendapat tempat paling dasar di neraka paling jahanam. Kemudian saya rekomendasikan mereka mendapat workshop dari organisasi kepemudaan di desa saya. Bahwa mencari penghidupan secara material tidak perlu menipu orang lain. Hidup dengan berusaha secara mandiri, menjadikan enterprenuer sejati itu lebih kece dan bergengsi.

Mari kita renungkan. Perbuatan tercela tidak menghasilkan kebahagiaan. Tidak mendapat teman dan banyak musuh adalah keniscayaan. Hentikan pembuatan berita hoax karena setiap rupiah yang dihasilkan tidak akan varoka. Juga jika diantara kita masih menjadi penyebar beita hoax, segeralah bertaubat. Karena yang demikian itu adalah sebagian dari perbuatan setan. Untuk itu, mari kita menjadi pembaca aktif terhadap semua informasi yang ada. Jangan sebarkan berita hoax sebelum kita tahu kebenarannya. Langkah yang bisa kita lakukan sekarang, jangan sebarkan informasi sebelum kita yakin data dan fakta yang digunakan sudah kuat.

Menjadi manusia super itu sulit, tapi menjadi harapan kekasih dan calon mertua masih bisa kita usahakan. Karena menjadi manusia super itu tak semudah ceramah super mario.