BAGIKAN

Saya bersama Warda melakukan kunjungan ke kos teman hanya sekedar untuk nyobain empuknya kasur dan wifi gratis. Lengkap dengan suguhan cimol-kenyal-pedas-gila dan langit sedang mendung. Kami bertiga ngobrol soal mantan yang makin tampan tapi sayang sudah punya pasangan. Lalu salah satu dari kami menyela obrolan dengan ajakan membuat video Tik Tok. Mantan? Tik Tok-in aja kali ya~

Dua teman saya dengan gigih membuat video Tik Tok. Mengulang dari awal ketika gaya yang mereka lalukan dirasa salah. Tidak kenal kata capek dan menyerah. Satu video yang mereka garap membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Entah lagu apa yang menjadi backsong-nya, saya lupa. Saya juga lupa kapan terakhir punya pacar. Ada yang ingin bantu mengingatkan?

Akhirnya saya memutuskan untuk balik ke kos sendiri. Karena ajakan teman untuk membuat video Tik Tok menurut saya kurang menggiurkan jika dibandingkan dengan ajakan balikan dari mantan lalu menikah. Maafken diriku yang sulit move on ini gaes. Menurut saya, video Tik Tok hanya untuk ajang eksis di media sosial dan hiburan sekejap lagi sementara. Sedang ajakan balikan dari mantan memungkinkan lagi memulai rasa yang pernah ada tuk jadi pendamping hidupnya, kalau nggak putus lagi sih ya.

Tik Tok adalah platform sosial video pendek yang didukung dengan musik. Baik itu musik untuk tarian, gaya bebas, ataupun performa lain. Penggunanya didorong untuk membiarkan imajiansi mereka berjalan liar dan membebaskan ekspresi mereka. Aplikasi berbasis musik yang tengah digandrungi oleh para pengguna media sosial khususnya di Indonesia ini, mulai ramai sekitar tahun 2017. Sebelum itu sudah ada aplikasi serupa seperti Dubsmash dan Musical.ly. Hal ini membuat saya tergelitik untuk mengetahui keuntungan membuat video tersebut. Apa mungkin dengan membagikan video Tik Tok di media sosial bisa menjadi ajang pencarian jodoh dengan pengguna Tik Tok lainnya? Atau membuat video Tik Tok hanya buang-buang waktu saja?

Baiklah, saya akan bercerita tentang pembuatan video Tik Tok di lingkungan sekitar saya; Kelas perkuliahan. Iya, saat dosen saya tidak hadir di kelas tanpa alasan laiknya gebetan yang datang dan pergi seenaknya, membuat teman akrab saya nongkrong di pojokan kelas. Ia melakukan gerakan-gerakan yang terbilang tak biasa. Saat menghampirinya, alamak, ternyata ia tengah membuat video Tik Tok.

Tidak hanya teman satu kelas. Di kelas lain, tengah ramai beredar dua mahasiswa IAIN Jember terciduk dosennya membuat video Tik Tok ketika perkuliahan akan dimulai. Di video itu mereka terlihat tertawa malu sambil berlari dan dosen yang memergoki tingkah mereka juga ikut tertawa sambil menghindari arah kamera handphone mahasiswanya. Belum lagi saat saya pulang membeli bahan bakar minyak, ada lima perempuan yang tengah membuat video Tik Tok di pinggir jalan sambil tertawa riang gembira. Masya Allah ada apa dengan Tik Tok?

Setelah melihat lingkungan sekitar dari mbak-mas-adik-ibu-bapak pengguna Tik Tok yang tiap hari menonton dan membuat video dengan beragam kemampuan gerak terpendam. Saya menjadi kepo tentang pandangannya terhadap isu politik saat ini. Terutama untuk klean yang sudah punya hak pilih, haha. Ya, Pilkada 2018 yang akan dilaksanakan 27 Juni mendatang. Sempat gak sih klean yang gemesin ini, mencari tahu seluk beluk calon pemimpin yang akan dipilih sebelum memantapkan hatinya untuk memilih. Seperti memantapkan hati untuk menerima pinangan dari calon pasangan untuk rumah tangganya kelak. Tsah

Kira-kira apa relevansinya diadakan pilkada jika setiap tahun permasalahan yang tak rampung juga ditangani para pemimpin baru? Ambil contohnya masalah lingkungan seperti tambang. Mungkin tidak dengan terpilihnya pemimpin baru, semisal di Jawa Timur, permasalahan tambang di Tumpang Pitu Banyuwangi akan selesai?

Adakah kemungkinan pengguna Tik Tok memakai aplikasi tersebut sebagai ajang pencarian informasi mengenai calon pemimpin daerah? atau malah aplikasi tersebut nanti bisa menjadi salah satu media kampanye dari para pengumbar janji manis? Tidak ada yang tahu, karena semua aplikasi menyimpan manfaat masing masing bagi para warganet-nya.

Saya kira teman saya cocok disebut sebagai agen rahasia aplikasi Tik Tok. Karena apa yang dilakukannya berhasil membuat saya terpengaruh. Oh Tuhan, kuingin berkata kasar. Setelah membuat video Tik Tok, teman saya itu menunjukkan hasilnya pada saya dan teman-teman lain yang juga diajaknya untuk memberikan penilaian. Kemudian semua tergiur untuk melihat akun Tik Tok orang lain dan menonton video-videonya. Saya makin gemas dengan aplikasi ini. Lihat video Tik Tok terbaru pingin bikin juga. Ada musik terbaru pingin bikin video Tik Tok lagi.

Coba aja pengguna Tik Tok menggunakan isu lingkungan, sosial, pendidikan sebagai kontennya. Kan makin mantap tuh, sapa tau jadi seleb Tik Tok yang verkah juga shalih-shalihah. Jangan lupa berbuka dan santap sahur sayang, mwah!