BAGIKAN

aa

Belakangan saya dihantui serta menjadi biasa dengan kata ‘mantan’. Yah, mantan. Berawal dari obrolan bareng lalu akhirnya rajin di blow-up via medsos, tanpa ada yang menyepakati sebelumnya lalu si Sadam menyewa sepetak kecil tanah di halaman di salah satu perusahaan blog ternama dunia. Hasilnya ruang ini, menjadi ladang pelampiasan bagi para pria (setahuku masih belum ada wanita yang diajak nimbrung disini). Jadi, ruang yang anda kunjungi ini semacam penyalur hasrat dan birahi akan mantan.

Tapi maaf saya tidak akan bicara tentang mantan kekasih, mantan istri, atau malah mantan suami disini. Bukan berlagak bodoh atau mencoba ‘murtad’. Saya sendiri hingga detik ini belum pernah punya yang namanya ‘mantan’. Wuiih, kelihatan laku sekali ya saya. Ah tidak, saya hanya mencari pembenaran untuk diri saya sendiri. (pikir sendiri maksud saya)

Saya akan mulai perspektif saya tentang mantan. Yang namanya mantan bagi saya adalah bagian dari hal yang ‘sudah selesai’. Tapi, belakangan yang saya dengar dari kawan-kawan saya mengenai mantan justru sebaliknya. ‘Mantan dan hal lainnya yang (sengaja) belum selesai’, mungkin itu sekilas yang saya tangkap. Lalu, kalau belum selesai kenapa mereka rela menasbihkan julukan yang mulia sebagai sang mantan? Ternyata tak secara harfiah, banyak hal yang tidak selesai dari yang mereka sebut mantan. Entah itu karena kawan-kawan saya ini susah move on atau dikarenakan bayangan sang mantan terlalu dalam mereka patri di jidatnya. Untung saja teman-teman saya punya tempat pelarian yang positif macam begini. Bayangkan saja kalau gara-gara mengingat mantan mereka jadi lupa makan, terus lupa kawan, lupa mandi sampai-sampai lupa pake celana dalam atau malah tak pakai apa-apa lalu tengah hari bolong lari-lari di tengah jalan.

Tapi bagi saya kawan-kawan saya ini termasuk orang yang hebat. Bagaimana tidak, demi mengabadikan mantan mereka rela menyita waktu untuk membuat forum sampai ruang cuap-cuap macam begini. Saya ucapkan terimakasih buat kalian, kalian bisa jeli melihat mantan sebagai tema sekaligus objek mengeksplorasi kemauan dan kemampuan dalam menulis.

Tabique!