BAGIKAN

Sudah terlalu lama kita menyalahkan kecanduan anak terhadap gawai atas lunturnya tradisi mendongeng. Mungkin mendongeng itu berat, bagai Sisyphus yang mendorong batu karang ke puncak. Para orang tua, guru yang tidak memperkenalkan dongeng selalu benar. Manusia yang menggunakan, gawai yang disalahkan.

Saya sedikit beruntung mendapat dongeng dari bapak. Kisah tentang Si Kancil, esoknya Si Kancil menipu harimau memakan tai, esoknya berganti lagi. Belakangan saya ketahui bapak memodifikasinya sendiri agar saya dan kakak tidak bosan. Karena kisah “Harimau, Kancil dan Tai” ini tidak saya temukan di buku dongeng mana pun. Bapak memang lucu sejak dalam pikiran.

Saat memasuki bangku sekolah, kenikmatan masa kecil itu lenyap. Tidak ada lagi juru dongeng seperti bapak di sekolah. Membaca buku tak cukup memberi ke-niqmat-an yang sama. Sensasi cara tutur, ekspresi, dialog dengan nada berbeda dan mimik wajah bapak saat mendongeng tak ada. Padahal sensasi-sensasi yang muncul seperti menanti kejutan saat dongeng dijeda, sembari membayangkan tiap adegan yang tampak nyata, menjadikan dongeng Si Kancil lekat diingatan saya hingga dewasa daripada membaca buku dongeng.

Hal itu membuat saya kecewa terhadap guru SD. Mereka tak pernah menyisipkan dongeng untuk kami, kecuali secuil tuntutan membaca cerita saat pelajaran Bahasa Indonesia tiba atau kisah nabi-nabi dalam pelajaran agama. Pun hingga saat ini, malang nian anak-anak yang tak pernah merasakan ke-niqmat-an dongeng.

Suatu hari ada segerombolan adik-adik di salah satu taman baca yang ada di Jember, saya sok-sok-an berseru sembari membawa boneka tangan, “Adik-adik, sini, Kak Fitri mau mendongeng…!”

Dengan kekuatan bulan mereka bersorak, mendekat, memandang saya dan boneka di kedua tangan dengan seksama. Lalu saya bercerita, menggerakkan boneka, berdialog semampu saya, dan mereka terhibur saat itu juga. Setelah hari itu, saya percaya, selain gambar dan lagu-lagu, dongeng adalah kekuatan ajaib yang bisa menarik anak-anak agar mau dekat dengan orang dewasa. Berbeda dengan orang dewasa yang kebanyakan tak suka dengan kisah masa lalu. Apa mungkin cara bisa dekat dengan orang dewasa adalah dengan mengimingi mereka kisah di masa depan? Entahlah.

Seandainya para guru tahu bahwa dongeng memiliki kekuatan ajaib untuk membuat anak-anak memperhatikan tentu mereka mendongeng di setiap pelajaran. Sialnya, tak ada pendidikan bagi guru untuk mendongeng di fakultas pendidikan di negeri ini.

Saya mulai menanyakan kawan-kawan saya yang kuliah di fakultas pendidikan. Tanti, alumni PGSD UM, mengaku tidak pernah mendapat materi khusus tentang dongeng. Berdasarkan ingatannya, dongeng hanya dimasukkan nyempil di bagian sastra anak, yang praktiknya lebih banyak pada membuat lagu jadi puisi. Sementara menurut Dea yang pernah kuliah di PGSD UNP PGRI Kediri, juga tidak ada mata kuliah atau materi khusus tentang dongeng. Menurut Dea, materi terkait cerita lebih ke strategi pembelajaran menggunakan media yang digunakan, namun lebih ke cerita bergambar, bukan fokus ke dongeng.

Hal yang sama juga terjadi di Universitas Jember, dua kawan saya yang pernah kuliah di PBSI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) dan PGPAUD mengaku tidak pernah mengampu matakuliah atau mendapat materi khusus tentang dongeng, padahal saat mengajar terkadang mereka dituntut untuk bisa mendongeng di tempatnya bekerja. Sayang sekali, fakultas pendidikan belum benar-benar membantu calon-calon guru untuk menjaga salah satu tradisi lisan ini. Yang kalau kata Pram, ‘’Dongeng adalah medium terindah dalam tradisi lisan nusantara’’.

Senasib dengan dongeng lisan yang malang, guru pun bernasib demikian. Betapa tidak, sebagai pendidik juga intelektual yang memiliki akses pendidikan tinggi turut memikul tanggung jawab atas ancaman kepunahan ini. Tuntutan yang memberatkan para lulusan fakultas pendidikan saat terjun langsung menjadi guru. Tapi apalah daya, saat kuliah tidak ada praktik khusus bagaimana mendongeng, membuat cerita dongeng atau apa saja media yang bisa digunakan saat mendongeng. Terpujilah guru dengan segala tanggung jawab yang menyertainya.

Pada akhirnya di suatu masa dongeng menjadi sesuatu yang mahal. Melempar salah pada guru, orang tua pun tidak berperan. Berdalih penat mereka lebih senang membuat anak menyaksikan sinetron. Dari mana anak bisa mengakses dongeng, ya dari gugel lah, sekarang kan sudah era teknologi. Oh percayalah walau teknologi kian canggih tak mengalahkan keniqmatan dongen lisan. Keindahan dan kenikmatan saat mendapatkan dongeng yang menyentuh emosi tidak bisa digantikan oleh media lainnya.