BAGIKAN

Nama Universitas Islam Negeri Malang (UIN) akhir-akhir ini terlihat mentereng di kalangan kampus Islam lainnya. Tapi anehnya di luar sana nama UIN sama sekali kurang famous/ kurang mboiys/ kurang kece di kalangan para pendengar. Banyak sekali yang tidak tahu kampus tempat bapak kami ini mengajar, sebut saja Imam Suprayogo (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Musa Asy’arie (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Komaruddin Hidayat dan Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidyatullah Jakarta).

Saya terkadang gemas dan harus menerangkan dua kali ketika ada yang bertanya kuliah dimana, dik? Di UIN Malang, lengkapnya di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pak. Lantas mereka tidak meng-iyakan, tapi selalu saja menimpali pertanyaan balik. UIN itu apa, dik? Kampusnya di sebelah mana? Apanya Brawijaya ya? Sungguh semakin lemas jika mendengar pertanyaan semacam itu. Orang yang paling hapal dengan keberadaan UIN mungkin cuman orang dari kalangan pesantren.

Padahal perlu diketahui kami ini deretan alumni yang rajin nyumbang medali atas nama kampus (ehem). Sungguh gak menyangka bakal mendapati pertanyaan yang itu-itu saja, sangat tidak terpuji saya kira. Tapi akhirnya mereka baru mafhum saat saya langsung menjawab Institut Agama Islam Negeri (IAIN), kampus Islam tempat tumbuh kembangnya warga nadhliyin, kaum abangan, kaum celana cengkring, dan tempat para calon kyai desa hingga kyai kondang belajar.

UIN dulunya memang IAIN karena saat itu hanya didominasi oleh fakultas dan jurusan tarbiyah dan keagamaan saja.

Namun lambat laun seiring bertumbuhnya ilmu pengetahuan, IAIN juga turut membangun fakultas baru dengan beragam keilmuan seperti Saintek, Ekonomi, Psikologi, hingga Sastra. Inilah cikal bakal IAIN menjadi UIN. Pembangunan besar-besaran ini seringkali diprotes banyak pihak lantaran masalah peralatan yang belum siap. Semisal UIN Malang dan UIN Yogyakarta yang dulunya hanya seukuran SD Inpres, sejak 2007 telah dibangun gedung yang aduhai megahnya. Begitu juga dengan UIN Sunan Ampel Surabaya yang baru mulai pembangunannya pada tahun ini.

Sebagai alumni UIN Malang saya menjadi serba salah. Mungkin alumni UIN pantasnya memang mengabdi di pesantren, madrasah, atau sekolah Islam saja. Pasalnya, jika masuk perusahaan besar jarang sekali yang mengetahui atau setidaknya memahami sepak terjang UIN. Lagi-lagi saya harus tarik napas dalam-dalam menerima kenyataan ini. Mungkin alumni UIN minimal memang lebih cocok untuk mimpin tahlil tiap malam Jumat.

Berbeda dengan UIN Jakarta. Menurut Muhammad Fanshoby, mantan Pimred LPM Institut ini kenyataannya cukup bangga kuliah di kampus itu. Selain famous dan sudah diketahui banyak orang, kampus itu memiliki dosen-dosen yang memiliki sepak terjang di dunia infotainment yang sangat menohok. Sebut saja orang yang sungguh saya kagumi, Bapak Komaruddin Hidayat dan Bapak Azyumardi Azra ini seringkali diundang di acara tipi-tipi untuk memberi tauziah.

Tapi lagi-lagi Fanshoby dilema juga akhirnya. Masalahnya kampus itu seringkali dicap sebagai sarang teroris dan basisnya Jaringan Islam Liberal. Inilah kenapa UIN Syarif Jakarta lebih terkenal dibanding UIN lainnya. Terlebih lagi soal mencetak nabi-nabi baru.

Tapi cukup, cukuplah, kita sudahi masalah pelik itu. Imam Suprayogo sebagai mantan rektor UIN Malang seringkali bercerita mengenai kebesaran UIN. Ya, ketika belio lagi berkunjung ke Timur Tengah, kampusnya banyak mendapat pujian dari syeh-syeh yang ada disana. Selain itu kampus ini memang benar-benar pandai mencetak generasi yang ulul albab. Tidak hanya itu banyak sekali yang alumninya hafidz-hafidzah. Kalau tidak percaya, lihatlah pemandangan di taman depan rektorat kala sore menjelang. Di taman itu bakal kita lihat dua orang yang saling simak-menyimak. Belum lagi perkuliahan bahasa arab dari siang sampai malam. Terlebih dari itu, bagi saya kampus ini adalah tempat yang paling teduh untuk menuliskan huruf hijaiyah dan diskusi fiqh serta hadits bareng ning Retno. Adduh dik!

UIN Malang, di tangan rektor saat ini, yang mulia Bapak  Mudjia Raharjo cukup banyak berbenah. Perubahannya cukup drastis disana-sini. Saya melihat parkiran dan arah jalan kampus sudah cukup rapi. Itu saja. Tapi saya berharap di tangan belio, sekumpulan dilematis dari para alumni ada obatnya. Tidak ada lagi pertanyaan ini-itu yang sungguh nyeleneh. Karena bagi saya, ketika kampus sudah berubah nama jadi UIN, rasanya jadi ustad saja tidak cukup.[]