BAGIKAN

Di tengah padatnya jadwal kuliah dan tumpukan tugas yang semuanya minta dijamah, saya memilih duduk manis dengan tangan menari pada keyboard yang sudah tak lagi sehat. Pasalnya ada beberapa bagian vital yang tak bisa difungsikan dengan baik. Iya, tombol enter dan space yang sering merajuk. Ini lebih menyebalkan daripada bertemu mantan. Tapi demi dek maba, saya rela berkorban. Bergelut dengan emosi yang kian malam kian memanas. Ini demi kamu lo dek. Ngertio!

Dek maba yang menggoda, selamat datang di dunia baru kalian. Dunia perkuliahan yang maha kejam ini. Saya hanya ingin memberitahukan, dunia kuliah tak seperti yang kalian lihat di FTV-FTV itu loh, yang kerjaannya cuman kongkow sama cinta-cintaan. Apalagi sampai menjadi tempat ajang pamer gaya hitz dengan alis badai dan gincu merah merona yang katanya pertanda perempuan kuat. Perempuan kuat sesungguhnya bukan seperti itu dek, bukan!

Saya ingin menyampaikan bahwa jangan sekali-kali dedek maba jadi aktipis, sekedar kenal dengan aktipis tak masalah. Tapi ya kalau kalian gak risih dengan gaya hidup mereka yang maha jorok itu. Kalau kalian anak mama dan terbiasa hidup sehat segeralah menjauh dari mereka. Daripada terjangkit penyakit dan mengalami gangguan jiwa hebat. Saya pernah mengalaminya, dek. Dan rasanya, duh..

Ketahuilah dek, wajah kalian itu amat sangat menggoda untuk di kader. Jika kalian tidak siap mengalami kesusahan-kesusahan serta kejahatan yang direncanakan, saya sarankan mulai dari sekarang berhati-hatilah dengan aktipis.Berhati-hatilah dengan wajah manis mereka yang hendak mengajak bergabung dengan organisasi. Sumpah itu pencitraan dek, kalian terlalu emezz untuk menjadi sebagian dari mereka. Pakaian compang-camping, kebiasaan jarang mandi dengan alasan wujud peduli kelestarian air dan kesetaraan gender yang sering terlihat tabu oleh kalian.Ya seperti itu dek, nyeleneh.

Selain itu kelihatan kok dek, aktipis tidak pernah makan enak. Jika kalian suka ngafe dan traveling keseluruh penjuru dunia, pasti kalian telah khatam makanan apa saja yang menjadi primadona tiap-tiap cafe. Dari cafe yang paling murah sampai paling mahal. Dari yang menjual makanan Jawa sampai yang makanan Eropa. Traveling kemana pun hati suka.

Aktipis mah kenalnya cuman kampus dek, iya kampus. Makan pagi, siang dan malam di jama’ biar hemat biaya. Itu pun paling-paling juga nasi kucing tiga ribuan plus es teh manis dua ribu rupiah kelas angkringan. Terasa nikmat tiada tara. Wajarlah dek, namanya juga aktipis.

Saya bingung kenapa saya terus nyinyir gak jelas dan gak bermutu. Ibarat pepatah, seperti kulit kacang. Tak berisi dan hanya jadi sampah. Yawes tak pamit aja dari pada dedeknya bingung. Lagian saya juga ogah kalau harus berhadapan dengan mas-mas berambut gondrong serta bermuka mistis karena saya telah menganggu ketentraman dan kenyamanan bangsa aktipis.

Sekali lagi dek, wajah kalian begitu menggoda. Pengkaderan juga merajalela. Ingat amalan mbah buyut, baca doa agar dihindarkan dari aktipis yang maha tua. Aamiin..

Salam cinta..