BAGIKAN

Hai netijen yang berbahagia, apa sudah mencaci hari ini? Sudah ngabsenin binatang? Sudah menyampaikan nasehat-nasehat pada kaum penghuni neraka? Kalau sudah waktunya sarapan…

Setelah kenyang hindari kegiatan bermalas-malasan. Seperti nonton gosip di televisi, menggunjing kehidupan orang lain dengan para teman atau tetangga, atau tiduran sambil menggulir ke atas-tengah-bawah beranda media sosial di gawai kalian. Alasannya sangat prinsipil, jika kalian malas-malasan bagaimana mau dapat uang? Bertahan hidup di dunia ini butuh uang kan para netijen yang kece.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Banyak netijen yang menghabiskan hidupnya untuk bermalas-malasan. Sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbesar, netijen Indonesia paling gemar mengomentari kehidupan orang lain. Dan caci maki menjadi peringkat pertama sebagai salah satu bentuk komentarnya. Saya heran, kebahagiaan macam apa yang dirasa para netijen setelah mencaci maki orang di media sosial. Dapatkah mereka mencapai orgasme dan mendapat kepuasan, setelah menyebutkan alat kelamin di kolom komentar pada postingan orang yang tidak disukai. Beri saya penjelasan wahai netijen, apa gunanya buang-buang kuota untuk hal tak berfaedah.

Ada bocah 11 tahun mainan Tik Tok (aplikasi goblok video senang-senang) dicaci. Anak perempuan tampil pede membuat video untuk idolanya disamain jamban. Ada artis berpakaian renang di kolam dimarain, gimana kalau dia pakai mukena sambil berenang? Ya tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya pailul. Zalim dan jadi ahli neraka mau? Saya sih ogah!

Sebut saja Wowo, bocah yang mendadak terkenal setelah main Tik Tok lalu dibully karena mengadakan meet and greet berbayar. Padahal itu panitia penyelenggara, uang yang digunakan serta semua kebutuhan acara tidak melibatkan para netijen. Walau sebenarnya jika diminta komentar saya juga merasa itu tak berfaedah, acara alay, tak berkelas. Masak cuma buat video lipsync begitu digilai. Sampai mau bikin agama baru dan menuhankan Wowo. Wah mereka belum tahu, bisa didemo berjilid-jilid tuh. Kocar-kacir kalian!

Tunggu dulu netijen yang maha benar. Si Wowo dan fans nya mau alay gimana jugak tak berarti bebas dikatain kan. Doi itu bocah yang sedang cari eksistensi. Mungkin wadah yang ia tahu hanya Tik Tok. Caranya ya sebisa dia. Kalau zaman anak-anak kalian paling mentok ya tampil klimis di kantin sekolah. Itupun paling mentok pakai minyak goreng sisa goreng ikan asin. Maklum, pomade mah masih dianggap margarin.

Sebelum menulis ini, saya iseng membuka akun Instagram doi. Astaga… kolom komentarnya sudah kayak jamban; segala caci maki tumpah. Segala isi kebun binatang sampe alat kelamin netijen dibagi-bagi. Eh emang situ gak butuh apa tu kelamin sampe rela bagi-bagi?

Selain Wowo, ada anak perempuan yang mengklaim dirinya sebagai bininya Iqbal si pemeran Dilan. Dengan penuh percaya diri dia membuat video dan mengedit foto-foto seolah bersanding dengan Iqbal. Alhasil netijen pun geram. Bukan mendapat pujian malah banjir bullyan. Malang nian anak tersebut. Karena wajahnya tak memenuhi standar kecantikan yang sudah ditentukan netijen, ia kemudian disamakan dengan jamban.

Ah, sungguh saya tak tahu harus berkata apa. Betapa murahnya cacian kalian lontarkan. Apa kalian tidak tahu banyaknya orang menjadi depresi bahkan bunuh diri setelah menjadi korban bullying? Jangan anggap remeh dan tidak ada akibat fatal atas tindakan bullying yang kalian lakukan. Sederhana, bayangkan kalau yang dirisak itu kalian atau keluarga kalian. Apa kalian terima?

Netijen mah pinter ya, pasti mereka berkelit. “Hanya mengingatkan, demi kebaikan generasi masa depan.” Baiklah, saya anggap niat kalian baik (berpikir sisi paling positif) dengan ingin jadi kontrol sosial ya mungkin. Etapi mengingatkan gak perlu pake cacian keles.

Lagian kalau mau menjaga generasi muda, mulai dengan langkah nyata. Jangan di dunia maya. Awasi penggunaan alat elektronik dan media sosial anak dibawah umur. Kalau tak benar langsung tegur. Sibuk mencaci di medsos eh,, anak-adek-ponakan sendiri dibiarin. Hadeh.

Lalu netijen kembali berkelit, “Alah tu dua bocah makin terkenal toh sekarang.” Untungnya dua bocah tadi tak terlalu peduli pada bullyan, setidaknya tak nampak. Mungkin mereka sudah tahu betul menjadi terkenal karena banyak kelompok haters. Lalu mau nunggu mereka mati baru kalian berhenti mencaci. Come on netijen.

Hei netijen yang hobi membully, catet ya. Kelakuan kalian tak lebih baik dari anak-anak alay itu. Mereka lambat laun akan melalui masa itu. Siapa yang tahu pada suatu hari mereka menjadi creator terkenal dengan membuat karya nantinya. Sekarang mungkin mereka terlalu konyol, boleh lah diingatkan supaya tak keterlaluan tapi ya yang santun dong. Jangan bunuh mimpi mereka itu aja sih.

Bye netijen.