BAGIKAN

Suatu sore saya membeli bubur kacang hijau di warung burjo—lebih tepatnya warung mie instan berlabel burjo—dekat kampus. Dengan wajah yang lusuh mamang-mamang burjo mengambilkan makanan buat saya. Wajahnya tak seceria dan se-ngejreng bajunya yang bertuliskan JKT48, tapi ia cukup ramah menanggapi obrolan-obrolan dari saya.

Kami mengobrol beberapa hal soal usaha warung burjo tempat ia bekerja. Soal biaya kontrak tempat, soal omzet, dan semacamnya. Entah mengapa sejak punya usaha kuliner yang saya kelola bersama beberapa teman kuliah, saya jadi suka mengajak curhat para karyawan atau pemilik usaha kuliner khususnya yang skala usahanya tidak terlalu besar. Dari beberapa percakapan dengan mamang burjo dan beberapa pelaku usaha kuliner, saya jadi tahu mengapa ada usaha kuliner yang tidak terlalu besar tapi konsisten bertahan tetapi ada pula usaha kuliner yang tahu-tahu omzetnya besar tapi tiba-tiba mati.

Dari percakapan sore itu, usut punya usut beberapa warung burjo ternyata menjalin ikatan satu sama lain. “Antar pemilik burjo disini udah kayak sodara, mas,” kata mamang-mamang burjo. Ya, pada batas-batas tertentu sepertinya mamang-mamang pengusaha burjo ini menjalankan prinsip koperasi, sebagaimana yang diamanatkan Bung Hatta dalam bukunya “Persoalan Sosialisme Indonesia”. Yang walaupun barangkali tidak teoritis-teoritis amat, saya yakin sikap saling membantu antar pengusaha warung burjo ini berandil cukup besar dalam keberlangsungan bisnis kuliner mereka.

Di lain pihak, ada pula warung makan kecil-kecilan yang bisa bertahan lama. Yang semacam ini banyak dijumpai di sekitar area kos-kosan anak kampus. Mereka adalah penduduk setempat yang kebetulan punya tempat kosong di rumahnya. Daripada hanya dipakai buat garasi motor atau semacamnya, mereka menyulapnya menjadi warung makan. Pelaku bisnis kuliner semacam ini tidak terlalu ambil pusing dengan kemajuan bisnis warung makannya. Asal jalan, toh pelanggan tidak pernah habis karena mereka ada di lingkungan anak kos. Bisnis mereka bisa jalan salah satunya karena mereka punya kepemilikan tempat sebagai alat produksi. Mereka tidak terbenani biaya sewa tempat.

Bayangkan saja, di sekitar kampus Undip tempat saya kuliah, kalau mau bikin warung makan kita harus siap merogoh kocek setidaknya 25-30 juta per tahun hanya untuk menyewa ruko. Kita harus berhadapan dengan kapitalis borjuasi kecil pemilik ruko kontrakan. Mereka cuma sekadar ongkang-ongkang di rumah sudah dapat duit kontrakan, kita yang pinjam tempat buat usaha kuliner yang sering kuwalahan mengejar setoran. Tidak percaya? Coba deh bikin usaha kuliner, boleh sebentuk cafe atau warung makan.

Oleh karena itu, banyak pula mahasiswa yang memulai bisnis kuliner dengan tidak mengandalkan sewa tempat. Terkadang mereka memulai menjajakan dagangan kuliner menggunakan gerobak atau dengan mengkuti expo kuliner. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena ruko/ warung sebagai alat produksi mahal biaya sewanya.

Selain beberapa tipe usaha dan beberapa cara pelaku usaha kuliner survive di atas, ada pula pelaku usaha kuliner yang berani memulai usaha kuliner dengan mempertaruhkan modal yang besar. Mereka menyewa tempat atau bahkan membeli tanah dan membangun dari awal. Mereka memberikan fasilitas premium. Ada yang membikin cafe lengkap dengan fasilitas wifi dan live music. Awalnya harga makanan atau minuman yang dijual tidak terlalu mahal. Setelah cafe serupa yang menjadi pesaingnya berguguran, mereka manaikkan harga makanan dan minuman. Akhirnya mereka menjadi penguasa pasar. Ya begitulah, mirip-mirip kapitalis. Tetapi pada kenyataannya, model bisnis kuliner semacam inilah yang banyak dijalankan.

Sungguh benar apa kata Rhenald Kasali, masa kuliah adalah saat yang tepat memulai usaha. Tetapi memulai usaha tanpa persiapan yang matang dan tanpa mengetahui kondisi pasar adalah suatu tindakan naif, baik dalah usaha kuliner atau selainnya. Saya sudah uraikan beberapa tipe usaha yang bisa survive di sekitar area kampus saya. Silakan mau mengikuti model yang mana. Semangat wirausaha!