BAGIKAN

Tepat seminggu lalu, saya dihubungi oleh senior dari organisasi pers kampus tempat saya berkubang selama beberapa tahun terakhir. Ia menawari sedikit proyekan–demikian kami sering menyebutnya–dengan mengutus liputan. Menggantikan dirinya yang berhalangan karena ada hal yang krusial menantinya pada hari peliputan nanti. Entah untuk media apa saya tak tahu awalnya. Memang pasca terlepas dari jeratan organisasi, para mantan (iya, mantan) anggota mulai mencari rezeki demi sesuap nasi dengan menjadi wartawan atau penulis lepas.

Saya tak langsung mengiyakan. Saya mengajak berdiskusi terlebih dahulu ihwal gambaran kasar medan macam apa yang akan saya hadapi saat liputan. Mungkin saya akan dikirim ke pedalaman Suku Baduy, atau ke konflik nelayan di Ujung Kulon. Karena banyak hal menjadi pertimbangan, mulai dari jadwal kuliah, agenda organisasi yang masih saya emban hingga saat ini, maupun rutinitas malam minggu, kendati malam minggu hanya ditemani buku.

Siapa sangka, tugas liputan yang dimaksud hanya ke sebuah acara peresmian kerjasama antara sebuah hotel kenamaan dengan kedai kopi yang sedang naik daun di Ibukota. Ternyata saya hanya diminta melakukan reportase untuk sebuah media hiburan. Bah! Kaget betul. Saya kira untuk media-media ngiri yang kerap membahas permasalahan akar rumput. Tanpa berpikir dua kali, tawaran itu saya terima. Saya berpikir karena pada jadwal yang ditentukan tak ada jam kuliah yang mengganggu, dan hitung-hitung sembari jalan-jalanlah.

β€œIni invitation-nya, pake baju yang rapi ye,” ujar si senior diakhir diskusi, sebelum saya berangkat menuju tempat acara. Saya pun bergegas menunggangi si kuda besi siang itu juga. Diundangan tersebut tertulis acara akan dimulai pukul empat sore. β€œAh, selow ajalah. Kalau telat paling cuma gitu-gitu doang acara,” saya bergumam dalam hati. Namun untungnya, setiba di lokasi, saya termasuk yang datang lebih awal. Lobby hotel, tempat acara berlangsung, terlihat masih sepi. Karena saya pikir masih ada waktu, saya menuju toilet untuk cuci muka dan merapikan diri. Maklum, di hotel, coy! Harus tampil menawan dan classy-lah.

Hanya ada para panitia yang sedang menyiapkan segala sesuatu sebelum agenda dimulai. Mulai dari pojok akustik, hingga dekorasi berhiaskan gambar-gambar kopi. Terlihat pula beberapa wartawan media arus utama mulai datang dan menuliskan data diri di meja registrasi. Dan acaranya dimulai dengan pembawa acara yang mulai ngoceh.

Ya, inti dari acara ini sebenarnya hanya pesta peresmian (launching party, kalau kata anak zaman sekarang) hotel tempat acara itu berlangsung dengan kedai kopi milik beberapa aktor ternama Indonesia. Persis seperti apa yang senior saya katakan saat diskusi waktu itu. Acara hanya diisi dengan musik akustik, obrolan ringan dari para pembicara yang hadir. Para pembicara tersebut merupakan pemilik hotel, dan aktor-aktor ternama Indonesia yang merupakan pemilik kedai kopi tersebut.

Jujur, tugas peliputan seperti ini bukan masalah berat bagi saya. Justru saya lebih senang memperhatikan tingkah laku para wartawan media arus utama. Rata-rata mereka adalah wartawan wanita dari media televisi maupun online yang memang mendapat jatah meliput hal-hal macam ini, apalagi yang bertemu dengan artis-artis bintang layar lebar.

Anehnya, saat obrolan rampung dan masuk ke sesi tanya jawab, raut wajah para wartawan terlihat senang, gembira, dan cengar-cengir tak karuan. Saya heran kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena berhadapan langsung dengan artis-artis yang tampan tersebut. Saya berkesimpulan, alih-alih menjadi wartawan yang fokus mendengar dan bertanya mengenai pembahasan inti, mereka justru lebih terlihat seperti para fans yang riang bukan main bertemu idolanya. Jauh berbeda dengan raut wajah para wartawan yang saya lihat berada di lokasi bom Sarinah, pada awal 2016 lalu. Entah, mungkin juga saya yang aneh mengapa hal seperti ini perlu saya permasalahkan.

Pasca obrolan, kegiatan pun berlangsung cair. Para wartawan bebas menyantap makanan ringan dan meminum kopi yang tersedia, sembari bersenda gurau dengan yang lain. Mereka terlihat asyik dan senang. Terbayang raut wajah pekerjaan kejar tayang mereka telah rampung dan beban pun hilang dari pundak.

Merasa semua misi yang saya kerjakan telah rampung, tanpa pikir panjang saya langsung bergegas keluar hotel untuk kembali ke kampus. Meninggalkan acara yang sebetulnya belum benar-benar selesai, namun saya terlalu malas untuk berlama-lama tanpa ada keperluan lagi. Toh acara inti pun telah selesai, hanya menyisakan haha-hihi bersama.

Sekeluarnya dari hotel, saya langsung menuju parkiran motor yang lokasinya berada tepat di seberang hotel. Berjalan cepat sembari mengenakan jaket, tetiba saya langsung disuguhkan pemandangan yang mengejutkan. Seorang anak dengan penampilan lusuh, compang-camping, membawa karung dipundaknya, terjatuh ke aspal tengah jalan saat sedang ingin menyeberang. Mobil yang (entah sengaja atau tidak) menabraknya langsung melaju dengan cepat, alih-alih berhenti dan melihat keadaan si anak. Sontak beberapa pejalan kaki dan satpam hotel langsung membantu si anak untuk bangkit dan membawanya ke tepi jalan.

Syukurlah, si anak tak mengalami luka serius. Hanya lecet di bagian kaki dan sakit di bagian tulang pinggang, kata si anak. Ia pun masih bisa berdiri dan berjalan kembali, sembari memanggul karung berisikan gelas-gelas plastik yang ia pungut di sepanjang jalan. Mengetahui hal tersebut membuat saya lebih tenang dan lega.

Setelah itu, sepanjang hari yang bisa saya lakukan adalah merenung. Kembali berpikir, akan bagaimana nanti saya kedepannya selepas dari dunia kampus. Terjun menjadi wartawan yang seperti apa?

Ah, sudahlah, jangan terlalu serius baca curhatan saya ini. Hanya kontemplasi tak jelas dari mahasiswa tingkat akhir yang masih belum boleh mengakhiri perkuliahannya. By the way, selamat Hari Kasih Sayang untuk kita semua, mblo.