BERBAGI

Menonton film John Wick dan Sex and the City yang berjilid dalam sekali duduk membuat badan lumayan capai karena kurang gerak. Apalagi cerita dan alurnya membosankan. Bercerita tentang kehebatan seorang agen dan kehidupan seksual beserta kehidupan rumah tangga. Lalu apa menarik serta hubungannya dengan pendidikan kampus saya atau sekolah. Sama sekali tidak ada. Namun film tersebut berhasil membuat saya baper dengan kehidupan pendidikan yang tak selesai-selesai ini.

Benar apa yang dikatakan orang bahwa kehidupan ini tidak seperti film hero atau romansa yang penuh kebahagiaan. Tidak mungkin berakhir dengan minum arak di ketinggian bukit, seperti malam-malam yang telah usai. Untuk berangan-angan tentang dedek emes seperti impian kakak-kakak aktipis garis unyu kekinian.

Bayangkan saja jika setelah menonton dua film tadi, saya bercita-cita menjadi seorang agen. Saya mampu mengalahkan segerombolan mafia atau preman pasar yang tidak revolusioner. Modalnya cukup badan dan sepucuk senjata yang saya punya. Lalu tinggal bersama perempuan selama sepuluh tahun meski tanpa ikatan pernikahan, seperti cerita Sex and the City. Namun diberkati kebahagiaan. Mengerikan bukan? Dan tidak mungkin itu terjadi dalam kehidupan saya. Huftttt~

Saya teringat seorang teman yang sedang bermasalah dengan kampus dan kehidupannya. Sebut saja Varoka. Malam itu, saya berencana ngopi di ketinggian bukit (walau tak sampai puncak) dengan seorang teman. Saat mau berangkat, Varoka muncul dan akhirnya berangkatlah kami bertiga.

Saya memesan susu hangat dan mereka memesan kopi susu. Dengan air muka yang tidak biasa, Varoka mengatakan bahwa belum makan nasi seharian. Hanya satu bungkus mie instan tanpa dimasak karena pemanas air sedang rusak. Saya dan satu teman lainnya tak menganggap hal itu sebagai hal yang serius. Karena untuk ukuran mahasiswa model teman saya ini (out of the date cum aktipis), kejadian macam ini adalah hal yang sangat lazim dijalani. Dan kami pun tak mengira bahwa Varoka sedang mempersiapkan diri untuk enyah dari jagat perkampusan.

Penyesalan demi penyesalan terlewati dengan sempurna akibat tak menaruh rasa iba sama sekali malam itu. Bagaimanapun juga nasi telah menjadi bubur. Rasa simpati dan rasa iba ini pun berubah menjadi rasa benci dan marah terhadap kampus. Kenapa  mahasiswa bergenre aktipis masih minder seperti ini. Kenaaaaaapa Tuhan? Kamu gaadil bingitszzz~

Walaupun oleh sebagian orang dianggap utopis, saya kira konsep pendidikan Freire yang memebebaskan itu sangat akurat. Dalam tulisannya, Freire mengutuk seluruh kaum yang menggunakan pendidikan sebagai alat kepentingan. Dalam hal kampus, saya selalu mempertanyakan bagaimana keberpihakan kampus pada orang yang tidak mampu. Sekaligus mempertanyakan tanggung jawab kampus atas kondisi psikologi mahasiswa akibat dari sistem pendidikan yang digunakan. Kejadian macam yang saya dan teman saya alami ini jelas menunjukkan bahawa kampus tak mampu menjadi penyokong kekuatan atau motivasi yang benar. Kampus malah menjadi momok yang suatu saat menjadi kekuatan utama penggerus kehidupan rakyat kecil. Seperti mahasiswa yang mempunyai masalah dalam hal ekonomi, sosial maupun psikologis.

Perasaan saya teraduk-aduk bukan hanya karena kedua film yang membosankan di atas. Namun juga karena tugas akhir yang tak kunjung terealisasi. Juga tuntutan kedua orang tua yang berharap anaknya lulus dan kemudian bergegas menjalani kehidupan yang serius dan menikah. Belum lagi perasaan berdosa kepada seorang kawan yang mengakhiri studinya.

Apa pendidikan telah menghambat kehidupan kita, ya? Ntahlah~

Untuk teman saya yang sudah tak meneruskan pendidikannya (semoga dirahmati Allah). Maafkanlah sahabatmu yang polos dan penuh keluguan ini. []