BAGIKAN

Tulisan ini saya persembahkan untuk para mahasiswa, wabilkhusus bagi yang rajin copy-paste. Semoga kalian yang membaca tulisan ini selalu sehat dan tidak meng-copy-paste tulisan ini.

Mahasiswa tentu tidak bisa terhindar dari yang namanya tugas, tak peduli anda pecinta kopi dan sering pulang pagi atau yang rajin mengejar IPK. Jenis tugas yang diberikan dosen sangat beragam, mulai dari tugas individu, kelompok, bikin resume, penelitian, makalah, laporan, bahkan ada juga yang disuruh nyusun batu bata di rumah dosen.

Di era yang serba kekinian seperti sekarang ini, dosen mensyaratkan tugas dikumpulkan dalam bentuk file MS. Word, kemudian dikumpulkan melalui surat elektronik. Bahkan ada juga dosen yang menyuruh kirim tugas via Facebook. Mungkin biar dikira kekinian kali, ya. Hehe.

Para pembaca yang budiman dan semoga tidak berjiwa preman, jangan sungkan untuk membaca tulisan ini sampai selesai, karena saya tidak akan menyuruh anda membuat tugas resume apalagi makalah. Alih-alih memberikan tugas, saya hanya ingin mengingatkan kalian semua mengenai bahaya laten plagiarisme terhadap aktifitas berbangsa, bernegara dan bermahasiswa.

Dari zaman nenek moyang sampai zaman patah mayang seperti saat ini, plagiarisme merupakan hal yang lumrah terjadi. Seakan sudah menjadi budaya. Dalam mengerjakan tugas, mahasiswa tidak bisa terlepas dari jeratan plagiarisme. Momen yang paling rentan menimbulkan aksi plagiarisme ini adalah sesaat sebelum tugas dikumpulkan. Kalau sudah begini, jangan harap tugas tersebut asli. Plagiarisme menjadi jalan pintas yang memabukkan.

Plagiarisme atau yang sering disebut copy-paste atau yang sering disebut copas adalah sebuah virus yang lebih berbahaya penyebarannya ketimbang Malware Ransomware WannaCry. Jika budaya ini tidak dirubah, lambat laun mahasiswa akan beranggapan aksi copy-paste adalah tindakan yang biasa-biasa saja. “Yang penting kan tugasnya dikumpulin”, dalih beberapa mahasiswa.

Di tulisan ini saya tidak ingin main-main. Sebab, menulis sambil bermain itu susah, apalagi bermain bola. Melihat banyaknya fenomena copy-paste saya jadi curiga. Jangan-jangan mereka ini terinspirasi dari adagium yang biasa digunakan kaum perokok: “Merokok atau tidak pasti mati juga”. Hal senada juga ingin dikatakan oleh para pecandu copy-paste : “Copas atau tidak pasti wisuda juga”. Jika sudah begini, citra mahasiswa sebagai kaum intelektual bisa hancur.

Pernah dengar istilah telur mata sapi? Coba bayangkan bagaimana sakitnya perasaan si ayam ketika telurnya disebut mata sapi. Dia yang capek-capek membuahi dan mengerami, eh, pas digoreng disebut telur mata sapi. Pedih. Nasib yang diderita ayam ini tak ubahnya mereka yang tulisannya dijiplak. Tulisan yang ditulisnya dengan berpikir keras dan kucuran keringat, malah disalin begitu saja oleh ulah para mahasiswa yang tidak bertanggung jawab. Mirisnya lagi, para mahasiswa tidak mencantumkan sumber dari mana artikel itu berasal.

Mahasiswa seharusnya tidak hanya menerima apa yang ada, melainkan harus bisa mengeksplorasi sumber yang ada. Materi yang didapat di kelas masih bisa dikembangkan dengan memanfaatkan jaringan internet. Terlebih kampus juga sudah menyediakan fasilitas Wi-fi gratis. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mencari tahu. Semua kebingungan anda bisa dijawab oleh Om Google.

Jadi, mulai sekarang sepakat kan kalau mengerjakan tugas dengan cara copy-paste itu salah? Prilaku ini harus segera dilenyapkan karena karena tidak sesuai dengan prikemahasiswaan dan prikepenulisan. Jangan biarkan copy-paste membunuh karakter mahasiswamu. Camken!