BAGIKAN

“…Kuberikan padamu setangkai kembang pete, tanda cinta abadi namun kere…”

                                                                                                         (Iwan Fals)

Petikan syair di atas merupakan salah satu ekspresi kegundahan seorang Iwan Fals, melihat distorsi makna cinta oleh glamournya tanda zaman global yang, hari demi hari semakin mengkerdilkan arti tulusnya cinta. Jutaan pemuda yang sedang mabuk cinta begitu mudahnya mengatakan “aku cinta kamu” tanpa sadar dengan tendensi di baliknya. Apalagi pernyataan “verbal” tersebut dibarengi dengan pemberian sesuatu (benda), yang seolah menjadi pra-syarat kelengkapan tulusnya ekspresi afeksi seorang manusia terhadap lawan jenisnya.

Kegilaan para insan pemuja cinta (meminjam bahasa Gibran) itu akan semakin memuncak saat dihadapkan pada momen-momen tertentu yang dianggap sakral dan harus diperingati dengan ritual yang tidak biasa. Sebut saja hari Valentine.

Setiap tanggal 14 Februari, sebagian masyarakat kita, khususnya kaum muda  memperingatinya sebagai hari Valentine. Momen itu seolah berfungsi sebagai penanda dari ekspresi perasaan kasih dan sayang terhadap orang yang mereka cintai. Bagi mereka peristiwa itu merupakan luapan emosi yang akumulatif. Puncak dari segala kasih selama satu tahun sebelumnya. Oleh karena itu jika hendak melewatinya tidak boleh hanya dengan perlakuan yang biasa. Semua harus dilalui secara spesial. Maka hari Valentine adalah hari yang sarat dengan nuansa keistimewan.

Padahal sisi kontemplatifnya: kita akan menemukan sekian keganjilan yang berseliweran di sekitarnya. Bentuk keganjilan itu, akan kita jumpai dalam berbagai pertanyaan sederhana namun selama ini kita remehkan; mengapa harus ada perayaan hari Valentine? Apakah “representatif” bila satu ungkapan afektif (cinta) dari rentang waktu sebelumnya hanya diakumulasikan dalam sehari saja? Artinya sejarah hari Valentine sebenarnya masih berupa interpretasi yang artifisial.

Berlalunya Februari tidak berarti berakhirnya kisah kasih picisan macam itu. Ritus yang serupa tetap berjalan sepanjang waktu karena telah terlembaga dalam tatanan budaya kita, khususnya budaya yang termanifestasikan dalam ekspresi seni peran (art) kontemporer (baca: film/sinetron), maupun acara lain yang dipadukan dengan industrialisasi dunia hiburan Indonesia yang makin intim dalam pelukan pop culture.

Setiap hari, televisi menyuguhkan pernak-pernik gejolak asmara kaum muda. Mulai dari film, sinetron, hingga reality show. Belum lagi sederet sinetron yang serupa tapi tak sama. Pasca suksesnya film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) di pasaran, seketika itu juga tayangan-tayangan di televisi (sinetron) hadir dengan tema serupa. Pun jauh sebelum itu, saat remaja Indonesia sedang demam serial impor Mandarin yang berjudul Meteor Garden dengan tawaran wajah ganteng khas oriental dari para tokoh utamanya (F4), tak lama berselang hadir serial sejenis dengan karakter tokohnya yang terkesan “dimirip-miripkan” sesuai dengan versi originalnya.

Akibatnya, kesan plagiat dan tidak confident dengan ide-idenya sendiri muncul kuat dalam sekian judul sinetron yang marak belakangan ini. Konsekuensinya, hampir tidak ada parameter pasti untuk mengukur apakah sinetron yang hadir tersebut merupakan made in asli remaja pribumi atau sekedar “membebek” pada industri sinema di negeri seberang.

Pengaruh Pop-Culture

Pertanyaan-pertanyaan itu hampir tidak pernah tersentuh nalar masyarakat kontemporer. Sebab dalam mind set-nya, kehadiran cinta adalah keniscyaan. Hingga pengungkapan atasnya dalam wujud apapun merupakan tindakan yang bisa diterima dalam logika manapun, tanpa disertai dengan negative capability (nalar skeptis) yang mumpuni.

Dalam hemat saya, orang-orang seperti itu sengaja menjadikan “ritual” hari Valentine sebagai sarana untuk menyalurkan hasrat hedonis mereka dengan cara membuat common sense bahwa hari Valentine adalah saat yang wajib dirayakan. Dari common sense itu masyarakat luas akan cenderung memaklumi jika hari Valentine harus disambut dengan pesta besar-besaran. Sehingga otomatis keberadaannya akan legitimate di tengah publik.  Begitu juga dengan propaganda-propaganda para “borjuis kebudayaan” di televisi. Memilih tidak mengikutinya berarti siap untuk “teralienasi” dari kehidupan modernis (absence of modernity).

Inilah saat dimana masyarakat telah mengalami simplifikasi dari segala potensi kemanusiaanya menjadi sekedar manusia satu dimensi (one dimensional man), seperti apa yang disinyalir oleh Herbert Marcuse.

Namun semua itu hanyalah salah satu ekses dari terlipatnya dunia oleh kekuatan besar yang bernama kapitalisme global. Dimana kehadirannya tidak hanya melahirkan kontradiksi-kontradiksi di tengah peradaban, tapi juga menyebabkan termekanisasinya rasionalitas manusia menjadi sekedar rasionalitas subordinat, instrumental dan mimikri. Sehingga lemah dalam upaya melakukan  “negosiasi” atau bahkan resistensi terhadap invasi budaya asing Dengan kata lain, kapitalisme telah berhasil mematahkan potensi kesadaran kritis manusia yang sejatinya telah inheren dalam dirinya.

Sebagai akibat dari ancaman akan terjadinya krisis internal dan demi memperpanjang nafasnya, membuat para kapitalis dituntut cerdik mencari ataupun mendesign sebuah momen di tengah masyarakat agar bisa bernilai jual. Artinya penyeragaman melalui penciptaan kultur tunggal (mass culture) plus propagandanya dalam iklan untuk melahirkan kultur masyarakat konsumtif merupakan salah satu manifestasi dari taktik mereka.

Cokelat: Simbol Kapitalisasi Cinta

Cokelat yang tadinya hanya satu dari ratusan camilan berubah fungsi menjadi simbol sebuah pernyataan cinta. Iklan dan kemasan yang sengaja diformat menarik membuat cokelat lengket dengan nuansa romantis dan eksotis. Sehingga memberi makna baru dari sekedar makanan manis.

Selain itu, cokelat merupakan komoditas yang ditempelkan dengan asosiasi makna atau ilusi tertentu. Sebagai contoh, seseorang yang sering memberi cokelat pada pasangannya tergolong manusia romantis, atau menyatakan cinta harus disertai sebungkus cokelat, agar punya nuansa yang ekslusif dan, sekali lagi, romantis.  Berarti keduanya berkorelasi dalam simbol romantis, eksotis, hasrat atau bahkan ekspresi cinta itu sendiri. Artinya cokelat adalah asosiasi dari cinta. Dengan begitu saat ini cinta dapat dilihat sebagai “benda” yang bisa dibeli, digigit, dan dikunyah.

Alur kebudayaan macam itu jelas bersifat ekspansif. Karena berhasil menancapkan secara ideologis pemikiran dan beberapa aspek kebudayaan lainnya secara sublim di negara-negara dunia ketiga. Apalagi budaya pop/massa itu digerakkan melalui standarisasi dan modifikasi produk-produk budaya (tindakan, pola hidup atau komoditi-komoditi bisnis). Sehingga masyarakat seolah dibuat tidak punya pilihan lagi (one dimensional man) atas suguhan realitas di depannya.

Dengan demikian, ajang pesta Valentine`s day tersebut, dan sekian program acara sinetron dan reality show di TV merupakan bagian dari konstruk hedonistis yang sengaja dibangun dengan maksud untuk akumulasi modal dan pencarian keuntungan finansial dari cost yang harus dikeluarkan kaum konsumerisme di atas demi merasakan aroma “momen pengungkapan kasih sayang” tersebut.

Buktinya, para pengusaha tempat hiburan, produser film/sinetron, maupun pemroduksi cokelat, terus gencar menawarkan (mengiklankan) tempat-tempat hiburan plus program hura-huranya, atau produk cokelat khusus cinta, dan sekian acara baru yang punya mainstream serupa dengan penjelasan di atas. Semua ditujukan bagi masyarakat yang ingin membuang “hajat” hedonisnya (libidonomic) dalam mengarungi momentum ekspresi afekif itu. Sejak itu, lingkaran pop culture dan libidonomic menjadi satu tubuh yang terlembaga dalam kehidupan anak muda kontemporer.­­­­ []