BERBAGI

“Ril, bagi rokok dong!” pinta saya.

Saat itu saya sedang duduk berdua bersama Chairil di salah satu warung kopi langganan. Dia melemparkan rokok kretek miliknya ke arah meja saya. Saya ambil dan kemudian menyulut satu batang. Tak lama kemudian kopi pesanan kami pun datang. Charil langsung saja mau menyeruput kopinya. Saya memperingatkannya bahwa kopi itu masih panas, tapi dia tetap saja menempelkan bibirnya pada gelas.

“Jembut, panas ngetz!” Serunya.

Saya pun tertawa kecil. Chairil memang orang yang benar-benar keras kepala. Itu hanya masalah kopi panas, banyak sekali kelakuannya yang begitu bodoh. Dulu ketika umurnya 18 tahun, dia sudah tak mau sekolah. Dia berhenti dari pendidikannya di Meer Uitgebreid Loger Onderwijs dan malah memilih jadi seniman. Mau makan apa dia dengan cita-cita seperti itu. Dia datang ke Jakarta bersama ibunya pada umur 19. Kami berdua pun kenal karena sering nongkrong bareng di warung kopi.

“Lidahku melepuh ini, kau malah ketawa-ketawa. Bangsat benar kau!” Dia mengomel sambil menjulur-julurkan lidahnya yang habis disiram kopi mendidih. Saya pun menggeleng-gelengkan kepala sembari masih tersenyum. Mana ada penyair dengan setelan macam dia. Tukang kenthu, tukan nyolong buku dari perpus, juga tukang ngutang kopi. Selain itu Dia juga seorang perayu, sudah banyak wanita yang sudah dia buatkan puisi. Ada Sri Ayati, Karinah Moorjono, Gadis Rasid, Dian Tamaela, juga Hapsah yang saya tahu benar-benar menjadi kekasihnya. Dasar Chairil, tukang ‘jajan’. Beruntung itu burungmu tak kena raja singa.

“Eh, Hapsah akhirnya tak jadi menikah dengan dokter sialan itu. Aku berhasil merayunya. Aku bilang padanya begini. ‘Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi mentri pendidikan dan kebudayaan’ Lelehlah dia.” Ucapnya.

Begitulah Chairil yang keras kepala. Dia benar-benar tak mau kehilangan apapun. Begitupun dengan Hapsah kekasihnya. Saya tak heran mukanya bahagia hari ini, selain itu tumben dia mau membagi rokoknya. Biasanya dia menyimpan rokonya di saku dan hanya mengeluarkannya sebatang demi sebatang.

“Eh Ril, tapi aneh ya. Puisimu dulu kebanyakan temanya kematian. Napa sekarang jadi tipe-tipe puisi rayuan gini?” Saya pun bertanya padanya, karena setahu saya awal kepenyairan Chairil ditandai dengan munculnya puisi miliknya yang selalu merujuk pada kematian.

“Yah, masa harus kematian terus vroh. Kapan bisa kenthu kalau puisi temanya kematian terus. Nih coba dengerin satu bait puisiku.” Chairil beranjak dari kursinya, dia menata rambutnya dan mulai memrapalkan puisinya.

“Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic; sore ini kau cintaku, kuhias dengan susu + coca cola.” Dia tersenyum dan mengedipkan matanya pada saya. Jijik sekali rasanya saat itu mengingat saya masih suka kenthu dengan wanita.

“Gimana? Mantab bukan puisiku. Itu aku tulis setelah baca beberapa buku puisi penyair luar negri yang aku curi dari perpustakaannya si Jassin.”
Gile bener lu, buku temen sendiri masih aja lu sikat.” Kami berdua pun tertawa bersama.

Begitulah Chairildan Saya tak pernah bisa menirunya. Hidupnya selo banget memang, tapi menulis puisi itu sepertinya bukan hal yang mudah. Tapi beruntunglah Chairil punya kawan macam Jassin yang tak pernah pamrih membantunya mempublikasikan beberapa puisi miliknya. Diam-diam saya sebenarnya suka membaca puisi milik Chairil, kadang saya pun ikut hanyut dalam rayuan-rayuan yang ada dalam puisinya. Tapi saya segera sadar dan mengucap naudzubillahmidzalik agar saya tak jadi homo, apalagi berpasangan dengan Chairil si tukang ‘jajan’.

Tak terasa sore pun turun, langit jadi semakin gelap. Saya berpamitan pada Chairil untuk pulang dulu. Tapi ternyata Chairil pun juga ingin segera pulang. Kami pun pulang bareng. Dalam perjalanan pulang Chairil menceritakan tentang beberapa tempat nongkrong yang hitz dan banyak didatangi para pelajar sekolah Belanda Meer Uitgebreid Lager Oonderwijs, Hoogere Burgerschool atau Algemeene Middelbare School. Salah satunya adalah toko eskrim Artic tempat yang menginspirasi dia untuk menulis puisi yang tadi sempat dia bacakan di warung kopi tadi.

selain itu, di sepanjang jalan dia menceritakan beberapa nama wanita yang sudah dan sedang dia dekati. Dia juga mengaku bahwa kegelisahan yang disebabkan oleh beberapa wanita yang dia dekati bisa memacu produktifitasnya untuk menulis puisi. Tapi saya tak heran jika Chairil bisa mendekati banyak wanita. Jika dilihat dari penampilan, dia memang terlihat urakan, tapi wajahnya ganteng. Pantas di antara beberapa teman wanita saya, banyak yang menggemari Chairil.

Kami berdua pun berpisah di perempatan jalan, karena rumah kami tak searah.
“Sampai berjumpa besok ya, vroh. Besok kalau puisiku dimuat, aku traktir kopi sampai perutmu kembung.” Chairil tertawa sembari melambaikan tangannya dan kemudian melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di rumah, saya pun memikirkan satu kalimat yang pernah diucapkan Chairil; Mampus kau dikoyak-koyak sepi. Sampai sekarang kalimat itulah yg benar-benar terpatri dalam otak saya. Apa benar hidup saya hanya akan dihabiskan dengan menghamba pada sistem kapital. Apa benar hidup ini tak akan menjadi berarti jika saya tidak melakukan hal yang bisa membawa perubahan. Apakah benar saya akan kesepian karena selama ini saya tak mau mencari pacar. Ah, tapi apalah kalimat yang keluar dari mulut penyair Chairil itu. Mungkin hanya puisi-puisi usang yang dia tulis sembarangan.

***

Keesokan harinya saya bangun agak kesiangan, segera saya mandi dan bersiap untuk berangkat bekerja. Tapi saya teringat apa yang diucapkan Chairil dalam perjalanan pulang. Bahwa dia akan mentraktir saya kopi jika puisinya dimuat di surat kabar. Dalam perjalanan menuju tempat kerja, saya sempatkan membeli surat kabar. Saya mecari rubrik budaya yang biasanya berisi karya sastra dan benar hari itu puisi Chairil dimuat. Saya pun mencoba membacanya pelan-pelan.

Tuti Artic

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.

Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
-ketika kita bersepeda kuantar kau pulang-
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit menjulang.

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorg hanya permainan sebentar.

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

“Bajingan Chairil! Wanita mana lagi yang kau tiduri, sedang aku tetap saja sendiri dikoyak-koyak sepi!”

 

 


ps: tulisan ini hanya fiktif belaka, saya tak pernah bercakap-cakap dengan chairil. Tapi tulisan ini ditulis berdasarkan berbagai sumber untuk memperingati ulang tahun Chairil Anwar, kemarin 26 Juli 2016