BAGIKAN

Apa aktivitas yang kamu jalani saat berpuasa? Tidur sehabis subuh sampai duhur itu sudah cerita lama. Lontang-lantung seperti orang yang sedang surplus waktu sudah jadi pemandangan lumrah. Scroll media sosial dari hulu ke hilir dan main gim, apalagi itu. Bagaimana dengan menghabiskan waktu puasa di warung kopi?

Nah, hal itu yang pernah saya alami. Berawal dari ajakan teman satu kontrakan, berangkatlah kami berempat ke sebuah warung kopi yang aman untuk para mokelers mania. Berhubung saya puasa dan tidak enak ngampung duduk saja, memutuskan untuk memesan teh panas. Menu minuman yang tidak cocok dikala cuaca sedang hot-hotnya. Bukan. Bukan itu tujuan saya memesan teh panas. Tapi ingin menjaga suhu panas teh sampai maghrib tiba meskipun itu hal konyol dan sia-sia.

Kopi teman saya sedikit demi sedikit mulai berkurang bersamaan dengan suara sruputan kopi yang saya dengar. Slurp.. slurp.. Bunyi ‘cdak’ atau ‘clak’ atau apalah, suara khas lemparan bungkus rokok di meja pun terdengar. Kemudian ada satu suara lain yang sangat saya kangeni.

Srrrt..srrrttt…srrrtt…srrrttt..

Tahu bunyi apa? Ternyata bukan bunyi yang saya kangeni, tapi bunyi sandal seorang bapak tua yang menghampiri meja tempat kami duduk. Bapak berkopyah putih dan bersarung itu menengadahkan tangan seraya bilang “kalian kok tidak puasa?”

Gawat. Kami terkena sweeping agen efpiay.

Ah, rupanya itu  imajinasi dan halu saya yang tinggi dan kacau sebagai efek menahan lapar. Apalagi suara sruputan kopi dan kepulan asap dari sebatang rokok. Seperti bertahun tahun jalan bareng, tapi cuma friendzone. Hadeeh. Gemes pingin motelnya itu lo.

Bapak tersebut rupanya memohon uang. Wajah lusuh dan lesu memunculkan rasa tak tega. Misalnya bapak itu sedang melakukan prank, minimal tidak seperti prank Atta Halilintar yang kelihatan palsu dan garing. Ia tampak lebih orisinal dan autentik. Sehingga membuat teman saya memberikan uang seribu rupiah.

Tiba tiba suara itu terdengar lagi. Srrrttt…srrrttt…srrrttt… Nah ini bunyi yang sangat saya hafal dan kangeni. Bunyi korek  yang tak kunjung mengeluarkan api. Saya menoleh samping. Seorang teman sedang berusaha berusaha menyalakan sebatang Gudang Garam Surya, rokok favoritnya. Asap rokok susul-menyusul diantara 5 orang yang duduk satu meja saat itu. Sungguh sebuah kenikmatan. Dalam hati cuma bisa grundel sambil meyakinkan diri. ‘”Saya kuat berpuasa sampai tiba adzan magrib.”

Seketika itu terbersit hikmah bahwa orang tidak berpuasa bukan layaknya setan yang harus dijauhi, apalagi dimusnahkan (((musnahkan))). Keberadaannya menjadi sebuah ujian untuk yang berpuasa. Tergodakah dengan secangkir kopi dan sebatang rokok? Beranikah menolak segarnya sirup marjan dan semangkok mie burung dara yang dihidangkan Inul Daratista?

Bagi saya, sebatang rokok dikala berpuasa itu astaghfirullah. Secangkir kopi hitam itu innalillah. Kalau cewek cantik di belakang kasir itu, Subhanallah. Hahaha.

Godaan dalam beragama sebenarnya lumrah. Tidak fair melihat godaan melulu tentang hal negatif. Juga tidak layak terus-terusan melihat godaan sebagai ‘yang salah’. Jangan-jangan cara memandang kita saja yang keliru.

Pada konteks pengalaman saya di atas, tidak patut jika saya menyalahkan teman yang tidak berpuasa sebagai yang salah. Meskipun seandainya saya memutuskan untuk berhenti puasa karena tergoda kopi dan sebatang rokok. Jika hal itu terjadi, berarti ada yang salah dengan saya. Kadar keimanan saya begitu lemah dan rapuh untuk tetap kuat menahan godaan. Secara prinsip, saya telah gugur pada tahap paling dasar dari puasa: menahan haus dan lapar.

Sebagai pengingat, kita harus bersikap toleran terhadap orang yang tidak menjalankan puasa. Bahwa urusan agama itu wilayah paling privat dari setiap individu masyarakat Indonesia dengan Tuhannya. Terburu-buru menasehati apalagi melakukan sweeping bukan cara yang baik apalagi benar. Masing-masing orang berhak mengekspresikan cara beragamanya.

Gus Dur saja begitu akrab dengan orang Tionghoa penganut Konghucu. Cak Nun yang menganggap biasa saja dan selow dengan jamaah maiyahnya yang slengean dan terkesan tidak tahu adab. Atau Gus Mus yang pemaaf terhadap orang yang telah menghinanya. Itu hanya sebagian sikap tokoh ulama yang begitu santun dalam mengekspresikan agama yang dianutnya.  Nah, kita yang bukan tokoh ulama bagaimana?