BAGIKAN

Saya jadi ingat apa yang diungkapkan oleh almarhum kakek saya tentang dosen. Ia sambil tertawa dengan gigi yang hanya tinggal satu waktu itu. Kata beliau, dosen itu singkatan dari “bukune sak DOS, duite sak SEN” (bukunya satu dus, uangnya satu sen). Meskipun istilah itu hanya ungkapan gothak-gathik-gathuk dari kakek saya yang entah beliau dapat dari mana, namun memang ada benarnya juga menurut beberapa dosen yang sempat curhat ke saya. Pekerjaan dosen dianggap pekerjaan mulia yang tidak membuat kaya (harta).

Dosen sama saja dengan guru. Istilah dosen ini diambil dari bahasa jerman yakni dozent yang artinya penceramah. Sedangkan di Indonesia, dosen adalah profesi mengajar pada tingkat perguruan tinggi. Dengan pengertian itu maka saya memiliki seorang guru yang disebut dosen sejak 2013 dong? Saat saya dinyatakan secara resmi menjadi mahasiswa seni murni.

Sebagai mahasiswa seni (karena kuliah di kampus seni), persepsi saya tentang dosen di kampus seni ini terkadang menjadi lebih wah! Banyak orang yang saya temui juga berpandangan seperti itu; wah! Dosen seni pasti berbeda. Punya nilai seni sendiri dalam penampilan, cara mengajar bahkan seni menilai mahasiswanya. Namun, pentingkah pandangan semacam itu? Menurut saya tidak! Maka saya tidak akan membahas soal itu lebih jauh dalam tulisan ini.

Mengajar itu ilmu, teknik atau seni? Jelas ini akan tergantung bagaimana kita memandang. Jika ditambahkan ketiga kata itu; ilmu mengajar, teknik mengajar atau seni mengajar, saya kira ketiganya memiliki nilai rasa yang bisa dirumuskan bahkan dengan pemahaman dhaif kita. Yang pasti, tugas pengajar adalah mengajari anak didiknya, membagikan ilmunya juga mengembangkan suasana pendidikan yang nyaman untuk urusan transaksi ilmu ini. Jangan sampai suasana kelas dalam kegiatan belajar mengajar dibebankan kepada peserta didik. Sebab, metode belajar dalam sebuah perkuliahan adalah bagian dari tanggung jawab pengajar.

Jika profesi dosen dalam mengajar anak didik ini disebut sebagai sebuah perjuangan, relevankah kalimat “”setiap perjuangan, selalu ada pengkhianatan”?” Sebelum menjawab, mari kita sepakati bahwa pengkhianat yang dimaksudkan dalam pertanyaan itu adalah kaitannya dengan profesi. Di antara dosen yang bertanggungjawab terhadap profesinya, mungkin tetap ada yang tidak bertanggung-jawab atau tidak profesinal. Saya kira, ini berlaku dalam segala profesi sebab setiap orang memiliki ciri sifat dan karakter yang berbeda satu sama lain.

Kemudian, seperti apa dosen yang tidak bertanggungjawab itu? Tidak jarang saya temui keluhan beberapa kawan mahasiswa tentang dosen yang tidak bertanggungjawab. Beberapa diantaranya soal waktu dan kehadiran. Saya kadang mendapati sikap dosen yang tidak tepat waktu dalam mengajar atau memasuki kelas sesuai dengan perjanjian yang pernah disepakati.  Yang lebih parah adalah ketika dosen tidak hadir namun juga tidak memberi konfirmasi sebelumnya. Akhirnya, kelas kosong. Bagi beberapa mahasiswa (malas), memang kadang menguntungkan dan menjadi kesenangan sendiri jika kelas kosong. Namun, jika mengingat hak dan tanggung jawab, seharusnya kita sebagai mahasiswa dan mereka sebagai dosen bisa berfikir dua kali tentang kesenangan itu.

Keluhan lain adalah suasana kelas yang membosankan. Dalam kasus ini, tentu dua-duanya harus sepaham. Jika ingin suasana kelas yang asik, dosen bertanggungjawab membuat metode yang menyegarkan dan membuat penasaran akan ilmu baru yang akan didapatkan mahasiswa. Namun disamping itu, mahasiswa juga tidak boleh pasif begitu saja.

Dosen yang tidak tanggung jawab adalah mereka yang lalai dengan Tri Dharma perguruan tinggi. Para dosen harus selalu menjunjung tinggi Tri Dharma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat. Dosen tidak boleh hanya sekadar datang ke kampus tanpa memberi materi baru kepada mahasiswa. Pendidikan yang dimiliki para dosen menjadi sumber ilmu untuk melakukan penelitian dan kemudian diaplikasikan terhadap masyarakat. Sebab, berbagai penelitian yang dihasilkan baik jurnal maupun buku ujungnya dapat meningkatkan karier dan kesejahteraan dosen.

Saya sebagai mahasiswa tentu juga berusaha untuk bertanggungjawab dan menjunjung nilai Tri Dharma mahasiswa, sudah sepantasnya dosen memberi pengertian dan contoh nyata kepada mahasiswa perihal tugas dan tanggung jawabnya.  Tulisan ini hanyalah catatan sederhana saya tentang dosen. Tidak untuk pembaca gunakan sebagai pedoman. Hahaha

Terakhir, saya kutipkan lagu parodi dari opening Dragon Ball Z yang liriknya ditulis oleh Mochai dan dinyanyikan Kodok Merana dengan penuh penghayatan. Lagu tersebut berisi tentang curhatan mahasiswa yang tiap hari sibuk tugas perkuliahan yang berjibun dan dosen-dosen yang tak kenal ampun killer-nya.

Dosen pun datang dan tugas kembali
Lima paper menjadi satu
Mengulang matkul yang kedua
Akankah jadi lebih mudah?
Siapakah yang dapat cumlaude duluan?
Hanya dosen yang mampu
meluluskannya~~
Tugas dari dosen perlahan MENGGILAKAN
Satu hari presentasi bisa DUA
Bahan UAS
dari mana datangnyaaaa~~~
Jawabnya ada di tangan DOSEN!
Kita kesana dengan seorang anak
anak yang cerdas, dan juga IP tinggi~~~
BERTARUNGLAH MAHASISWA! DENGAN SEGALA TUGAS DOSEN YANG ADA

BILA KEMBALI UAS LAGI, SEMOGA NILAINYA
JADI LEBIH BAIK!!
Tugas yang berat dilaksanakan
Berjuang agar lulus matkul
Siapa yang dapat melaksanakannya dan berusaha mewujudkan

SEMUA IT DEMI IP YANG BAIK
HANYA DOSEN YANG MAMPU MELULUSKANNYA~~~