BAGIKAN

“Bunda relakan rambut gondrong kami, untuk membebaskan rakyat.”

Sebelumnya, saya ingin meminta izin sekaligus minta maaf kepada para aktipis yang kerap menyanyikan lagu Darah Juang karya John Tobing sambil mengepalkan tangan kiri ke udara ketika berdemonstrasi. Kali ini saya menyadur sepenggal lirik lagu tersebut demi kepentingan tulisan ini. Tapi saya tidak menghilangkan daya magisnya kok, percaya deh. Izinkan yah?

***

Bulan puasa sudah semakin tua, itu berarti lebaran akan segera tiba dan saya akan segera mudik. Mudik bagi mahasiswa rantau adalah sebuah kegembiraan. Semua perantau, tak terkecuali saya, akan menyambut peristiwa tahunan ini dengan suka cita. Selain sebagai ajang melepas kangen bersama keluarga, mudik juga bisa menjadi ajang pamer antar mahasiswa perantau.

Sudah menjadi ritual wajib ketika berkumpul, semua teman angkatan SD saya akan menceritakan pengalamannya ketika di kota. Semua berlomba-lomba mengisahkan keheroikannya dalam menaklukkan hati gebetan, ada yang dapat dua, tiga, bahkan lima. Saya selalu tidak kuat jika membahas ini, maklum iman saya masih lumayan tebal. Biasanya ketika kumpul dan arah pembicaraan mulai menjurus kearah sana, saya akan mencari-cari alasan untuk segera pergi. Bukan apa-apa, karena saya tidak punya pengalaman keren saja.

Mudik tahun ini bagi saya adalah simalakama, di satu sisi senang karena akan menyantap masakan maknyus Bunda, tapi di sisi lain menyeramkan karena Bunda sudah mulai kritis terhadap rambut kinclong saya.

“Halo, Bun. Bentar lagi saya pulang,” sapa saya dengan suara gembira melalui telepon.

“Kamu masih gondrong?” tanya Bunda ketus.

“Iya?”

“Jangan Pulang!”

Tuut. Tuuut. Hening.

Mudik kali ini menghadapkan saya pada dua pilihan: masuk surga karena potong rambut atau masuk neraka karena tidak menuruti kehendak Bunda. Tidak pernah sebelumnya saya dihadapkan pada dua pilihan sesulit ini. Ini adalah dua pilihan yang menjebak, lebih sulit dari pada disuruh milih Chelsea Islan atau Raline Shah, karena sudah barang tentu saya pilih Raline.

Di mudik tahun lalu saya hanya dihadapkan pada satu kesibukan, yakni mencari oleh-oleh buat keluarga, tapi mudik kali ini kesibukan saya bertambah, saya sibuk mencari alasan logis dan ilmiah untuk tidak potong rambut. Singkatnya, cari pembelaan.

Dalam waktu singkat meluncurlah saya menuju sang maha tahu: Google. Saya ketik beberapa kata kunci mengenai sisi positif gondrong, tidak butuh waktu lama saya mendapatkan banyak sekali bahan yang bisa digunakan sebagai pembenaran atas rambut gondrong saya.

Mulai dari hadist Rasulullah yang berbunyi, “Barang siapa memiliki rambut hendaklah ia memuliakannya” sampai yang mengatakan bahwa baginda Rasulullah dulu rambutnya sampai leher, yang berarti gondrong. Tapi mengenai hadist itu saya bingung, apa maksud dari memuliakan rambut. Apakah memanjangkan rambut merupakan wujud pemuliaan? Saya ragu. Apakah merapikan rambut juga termasuk pemuliaan? Saya semakin ragu karena rapi itu relatif.

Karena tidak menemukan jawaban yang memuaskan, saya menyerah. Saya kemudian sadar untuk apa menceramahi Bunda hanya karena keinginan untuk gondrong. Saya akhirnya memilih untuk mengatakan secara jujur apa motif saya betah berkawan dengan kutu dan ketombe.

Nanti jika sudah pulang dan merebahkan kepala di pangkuannya, saya akan bercerita:

Bun, coba bayangkan berapa ribu petani Lidah Buaya di Kalimantan sana yang akan terkatung-katung masa depannya jika rambut ini saya potong? Berapa ratus ribu buruh di perusahaan shampo akan kehilangan mata pencaharian jika rambut ini tidak bisa lagi dikibaskan? Akan berapa banyak penjual shampo eceran yang akan berkurang pendapatannya jika rambut ini saya pangkas? Akan berapa banyak industri rumahan penghasil ikat rambut yang gulung tikar jika rambut ini tidak terurai lagi?

Bun, rambut gondrong tidak karuan ini bukan berarti saya bandel dan tidak mendengarkan perintah. Tapi ini wujud perjuangan saya membela kaum-kaum tertindas. Kaum-kaum yang seharusnya negara sejahterakan, tapi apa daya mungkin negara belum mampu.

Bun, relakanlah kepulangan saya yang disertai rambut lebat. Siapa tau kita bisa berbagi ikat rambut. Persetan dengan ocehan tetangga, mereka tidak tahu apa yang saya lakukan di tanah rantau. Mereka sudah saatnya sadar, gondrong tidak selalu identik dengan banalitas dan kriminalitas. Gondrong is not crime, bun!

Tapi ada satu hal yang paling saya takuti sebenarnya. Saya takut jika dikemudian hari Raline yang cantik itu tidak lagi nongol di tipi karena perusahaan shamponya bangkrut, jika ini terjadi tentu saya pasti sedih sekali.