BAGIKAN

Ini adalah bulan ke empat saya memikirkan satu persoalan tak berujung yang terus mengganggu hidup penuh ketenangan intensional nan mengagumkan yang saya cintai terlalu dalam. Tidak ada satu media pun yang sudi menerima kegelisahan pemuda tanpa karir ini selain, tentu saja, Siksa Kampus yang aw aw aw dan segenap penulisnya yang ingin saya ajak ngopi satu per satu.

Kau tahu, aku selalu menginginkan pertemuan intim dengan semua penulis yang pernah menggoreskan gagasan keren di seluruh buku dan webset dan daun jati dan kayu lapuk dan batu kali yang ada di seluruh dunia. Semua penulis adalah manusia keren karena mereka menulis dan tidak pernah menjual paket internet yang mahal.

Perkenalkan, saya seorang mahasiswa semester lebih dari delapan yang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota pelajar. Wajah saya cukup tampan menyiratkan roman tenang namun menghentak jika ditatap lebih dari lima detik. Tinggi badan sudah cukup untuk sekadar memenuhi syarat menjadi pekerja tertindas. Pokoknya fisik saya sudah agak sesuai standar sistem neoliberalisma yang penuh muslihat dan jahat ini.

Tapi saya memilih jalan sunyi seorang selibat meski tak sedikit perempuan yang mengatakan, “kamu itu sebenarnya ganteng, mas.” Namun saya tetap teguh dengan kesendirian sampai suatu ketika bertemu seorang perempuan manis yang tak akan pernah dilepaskan dari tatapan mata genit pria mana pun tiap kali ia berjalan manjah. Kami berkenalan, bertukar nomor lalu saling berbalas wasap. Menjadi begitu intim hingga di masa-masa terindah rela menghabiskan hari dengan bicara berdua saling menatap penuh…

Heh! Hentikan! Ku bilang hentikan!

Maaf, maaf, bung dan jeng terhormat sekalian, saya ngelantur menulis yang tidak-tidak. Satu dua paragraf lagi perkenalan bedebah tadi diteruskan dan tulisan ini hanya akan berakhir menjadi cerita panas menegangkan. Astaga, padahal saya bukan fans Enny Arrow. Kawan, relakanlah aku mandi besar terlebih dahulu.

Seperti tertulis di muka, saya sudah kuliah lebih dari empat tahun sebagaimana semua pembaca Siksa Kampus yang tak sanggup menyelesaikan kuliah dalam tiga setengah tahun. kalaupun anda belum sampai di tahap ‘mahasiswa berpengalaman lebih banyak karena kuliah lama’ dan membaca tulisan ini, percayalah, lulus cepat hanya akan mempercepat pengangguran. Ya sudah, saya hanya ingin menuliskan cerita yang semoga kelak jadi kisah klasik di masa depan.

Di fase kuliah dengan teman-teman seangkatan yang terus berkurang ini, terkecuali memang, bertambahnya dedek-dedek unyuk yang sesekali menyapa, kesadaran akan siksa kampus,— dalam arti sesungguhnya—kok ya baru saya rasakan. Bahwa seberapa pun bengalnya mahasiswa (semoga saya termasuk di dalamnya) di masa semester muda dengan segala ide besar untuk menumbangkan kapitalisma beserta kampusnya karena dianggap antek-antek pemodal jahat, tetap saja, akhirnya, ia kudu rela mengerjakan skripsweet di ujung perkuliahan agar nantinya bisa diterima jadi buruh untuk bertahan hidup, atau dalam versi yang lebih holistik, sebagai bentuk tanggung jawab pada orang tua. Dude, i’m believe in birrul walidain.

Meski tak ingin jadi Malin Kundang, tapi toh saya kelewat malas untuk menuliskan skripsi yang  standard penulisanya sangat statis, kaku, penuh aturan. Padahal toh ya sepuluh tahun kemudian skripsinya dibuang dari rak perpustakaan dengan alasan sudah tidak berlaku sebagai rujukan ilmiah dan ruang perpus terlampau sempit. Astaghfirullah, padahal dibalik terbitnya cetakan kertas tebel itu, ada uang pas-pasan anak kos hasil pengurangan jatah makan.

Perasaan gamang itu menimpa sayanya kerana selama empat tahun berfolus pada pengembangan ide penumbangan kapitalisma di sebuah organisasi— yang sering dinyinyirin dosen dan amtenar-amtenarnya—  dan kelas kuliah tak sekalipun menyediakan itu (mungkin pernah, tapi pasti sulit saya ingat). Alhasil, meski absen tak kurang dari 75% dalam setiap makul, intisari pelajaran yang nyantol di otak kurang dari 10%. Saya seperti seseorang yang terdampar di pulau tak berpenghuni setelah delapan semester terombang-ambing di lautan sks yang tetiba tersadar kalau “Kau tak mendapat manfaat apapun dari kelas, tapi toh kau harus menyelesaikan dengan cara briokratis”

Well, i’m shocked then kelimpungan so hard.

Seorang teman dari golongan saya baru tahu kalau untuk memiliki buku pedoman penulisan skripsi musti setor mahar 10.000 ke TU. “kayak beli LKS di sekolah aja,” ujarnya santai menyimpan nada mengolok universitasnya yang negeri dan sudah menerapkan UKT mahal sampai mengorbankan banyak calon mahasiswa angkatan 2016 yang sudah diterima tetapi kemudian mundur karena tidak sanggup membayar spp mahal. Blame the system, dear!  

“Jadi, kamu baru sadar kalau kampus itu ribetnya kayak sekolah,” timpal sayanya untuk menegaskan kalau gagasanya itu adalah sebuah kebenaran belaka. Jelas saja, perkuliahan mengharuskan semua orang untuk memulia, menjalanai dan merampungkan dengan cara-cara birokratis yang statis, ribet dan kadar membosankannya terus mendakik-ndakik di setiap tahap.

Bayangkan (masih bayangan karena saya belum melaluinya), kau harus melewati fase demi fase untuk mendapat surat lulus ngaji, llulus tes computer, lulus tes bahasa asing, bimbingan, bersih-bersih nilai jeblok karena ngulang, dan menuliskan gagasan dalam skripsweet yng tak kau cintai.

“Tidak ada hal istimewa dari seseorang yang mampu menyelesaikan skripsi,” kata junjungan saya dulu, “toh semua mahasiswa melakukan itu.” Setelah banyak komentar dan perdebatan di status itu, seorang netizen menimpali dengan lebih kejam, “jelas saja skripsi itu lebih sulit. Kenapa? Karena kita dipaksa jadi budak sistem.”

Well, itu pengalaman kelam yang terus membayang di otak dan, tentu saja, menambah beban niatan menuliskan tugas akhir. Seakan ada malaikat kecil terbang di sisi kanan kepala saya yang membisikkan kebenaran asali dengan tenang seperti ini, “kau mengerjakan skripsi dan berarti merelakan diri jadi hamba sistem. Camkan!”

Tentu saja bisikan itu menyakitkan. Dan jika diteruskan sampai seminar proposal, malaikat itu mungkin akan menghardik sepenuh kekejaman yang ia miliki. “Oh, rupanya kau sudah mengkhianati kebenaran yang kau yakini. Modyarrrr ae koe cuk!”

Ah, lingkaran pikiran setan dan malaikat terus menggelayut dalam batok kepala. Rasanya, ingin saya benamkan kepala ke dalam ember berisi kopi hitam agar pertarungan tolol itu menjadi satu warna saja: hitam legam. Atau menenggak sebotol sirup Marjan rasa pandan tanpa dicampuri air putih agar saya tahu rasa manis absolut yang berkebalikan dengan rasa teh manis dengan sesendok gula yang manisnya samar-samar. Ngomong opo ikiiiii.

Hey bung! Setelah bertahun-tahun kau bertampang gembel dengan kaos kedodoran dan celana jins bolong-bolng lalu kau dipaksa berkemeja putih, celana katun hitam dengan dasi panjang menggantung di leher saat seminar demi tampang menyenangkan di hadapan pengadilmu.

Ya, kampus tak menyediakan jalan kembali bagi mahasiswa yang melalui masa muda dengan menyelami gagasan besar. Si tua kembali dengan melacurkan sebagian bagian paling keren dalam dirinya. Tentu saja begitu sebagaimana spek kampus yang selaras dengan kebutuhan pasokan tenaga kerja neoliberalisma. Akumulasi primitif terus terjadi dan tidak bisa mengandalkan populasi natural untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja. Sistem kudu menciptakan buruh sesuai spek yang siap diserap manakala terjadi ekspansi modal. Pembentukan kriterianya ya di lembaga pendidikan. Curiga, huhu. Kalau Rendra sempat bertanya “Kita ini dididik untuk memihak yang mana?” anda jelas pasti tahu jawabannya.

Rekan-rekan sayanya yang sudah lulus wisuda, tak mendapat pekerjaan sesuai keinginannya. Tentu ada, tapi sangat sedikit. Kenyataan terlalu keras menggebuk optimisme ugal-ugalan di awal kuliah. Saya sering mendengarkan mahasiswa baru dengan segala cita-cita tingginya tentang kesuksesan karir, tapi ya begitu. Optimisme ugal-ugalan atau heroisme ababil yang tidak selaras dengan kaidah-kaidah MDH yang terang benderang menjelaskan kenyataan.

Sudah dipaksa memihak ke sana, tidak pula dapat hadiah kecuali penderitaan berlanjut. Ujungnya, bekerja mengembangakan sistem, tetapi tak kuat beli rumah dan terancam ngekos utawa ngontrak sepanjang hidup. Ingat pelajaran PKN zaman dulu, kebutuhan primer itu ada tiga: Sandang, pangan, dan tempat panggonan. Lah sekarang, gaji cuman cukup buat makan dan nyandang. Selebihnya bayar kos tiap bulan.

Demikianlah bung dan nona sekilas metamorphosis kegelisahan saya di fase yang bajindul ini. Sempat berkobar optimisme di lingkaran kulyah, lama keluar kelas, dan kemudian, hey, dipaksa aturan untuk pergi ke ruang ketua prodi lagi. Semuanya adalah lingkaran, atau labirin siksa kampus. Semoga dunia bisa berubah, amiiiin. Meski fans MDH, saya bukan pemuja realitas. Semoga, ya.

Bagaiamanapun, semua ini hanyalah gagasan tanpa maksud buruk. Tak ada tendensi mengharap dukungan pembaca sekalian untuk menguatkan diri saya atau menggagalkan proses teman sekalian yang tengah intens berbalas wasap dengan dosen pembimbing. Saya hanyalah satu dari sekian mahasiswa yang tersiksa dengan kondisi kampus saat ini.

Maaf atas beberapa diksi yang keminggris, itu sekadar latihan menyesuaikan gaya sebelum nantinya bergabung dengan kelas menengah bajindul yang menganggap kemiskinan semata-mata disebabkan kemalasan dan ketotoloan masing-masing individu. Dan atas segala kemiskinan, cukuplah diselesaikan dengan cara bersedekah sesekali sambil meningkatkan kadar kesalehan pribadi sebagaimana terus meningkatkan aset properti pribadi.

Tabique~