BAGIKAN

Sebagai mahasiswa baik-baik, sebagian besar teman saya punya cita-cita mulia: lulus dengan nilai cumlaude, memperoleh beasiswa studi pascasarjana, lalu menjadi dosen. Ini tentu bukan perkara mudah.

Lihat saja untuk mendapat IPK tinggi, mahasiswa harus bangun pagi, lebih awal dari jadwal kuliah. Tentu saja agar tak telat masuk kelas. Sebab beberapa dosen tentu menolak mahasiswa yang suka telat. Kemudian duduk manis mendengar ceramah dosen yang terangkum pada slide PowerPoint. Durasinya bisa sejam setengah hingga dua jam. Beruntung jika ada sesi diskusi, tanya jawab, atau dialog.

Belum selesai di situ saja. Setelah perkuliahan usai, mahasiswa umumnya harus membawa pulang tugas suci. Merangkum buku atau menganalisis objek kajian tertentu. Sebetulnya ini bukan perkara sulit. Namun menjadi sulit ketika berjibun tugas itu harus dikerjakan dan ditulis tangan pada kertas folio bergaris, bukan diketik dengan komputer jinjing.

Anda boleh saja protes, jika hasil kerja anda pada akhirnya berakhir di warung nasi dekat kampus. Jadi kertas pembungkus nasi kucing. Tapi tenang saja, ini tak akan anda temui jika anda lebih sering makan di gerai makanan berjejaring nan higenis.

Anggap saja saya sedang membual. Tapi saya pernah bertanya pada seorang penjual nasi bungkus, saat menyadari ada tulisan mantra jaran goyang di kertas pembungkus nasi yang saya makan. Konon mantra legendaris dari Banyuwangi itu dipakai untuk memikat lawan jenis. Saya mengunyah nasi lebih pelan, lalu meneguk segelas penuh air minum.

Pemilik warung itu menjelaskan bahwa ia mendapat kertas pembungkus nasi dari seorang dosen yang ia kenal baik. Ia berlangganan membeli kertas itu dari beberapa dosen. Sekali beli, ada berkilo-kilo kertas yang ia dapat dengan harga murah. Lebih murah dibanding harga kertas bekas di toko kelontong. Apa yang salah? Tentu saja tidak ada, karena memang begitulah jual beli terjadi. Ada banyak barang tersedia, banyak pembeli, banyak pula penjual ingin mendapat keuntungan.

Tak apa. Ini memang cobaan yang cukup berat. Menyaksikan ujung dari kerja keras membuat makalah dan menulis laporan hasil copypaste dari internet yang dikerjakan berdarah-darah, berakhir jadi bungkus nasi memang sulit. Tapi memang begitulah tugas mahasiswa yang menempuh jalur akademis. Kalau tak suka, silakan menempuh jalur alternatif. Menjadi kakak-kakak aktipis misalnya.

Ingat, membangun sistem akademik sesuai dengan nomenklatur pendidikan tinggi bukan perkara mudah. Beberapa pejabat misalnya harus melakukan perjalanan lintas kota dan pulau berhari-hari memakai uang negara, sambil jalan-jalan. Tentu demi mengikuti rapat bersama ratusan pejabat kampus, doktor, hingga guru besar untuk merumuskan kurikulum pendidikan tinggi.

Karena itu wajar jika kemudian ada beberapa dosen yang izin berhalangan hadir di kelas pada mahasiswanya. Belum lagi beban proyek penelitian yang mereka kerjakan, dan kelak jadi lapangan pekerjaan sampingan bagi mahasiswa.

Dosen kajian media dan televisi sekaliber Romdhi Fatkhur Rozi saja pusing. Jatah istirahatnya berkurang karena urusan rapat, lembur, dan semua yang terluka karena cinta. Follower media sosial dan fans beratnya terancam bubar, menjadi massa liar. Sementara mahasiswa di kelas hanya bisa mengangguk-angguk. Malas mengerjakan tugas dari dosen. Sering bolos. Membicarakan dosen di kantin dan warung kopi. Bahkan menulis provokasi di Siksakampus.com dan media sosial, badhak betul!

Ada baiknya mata rantai kebencian itu diputus. Berhenti mengutuki dosen dan nyiyir di media sosial. Bukankah sebaiknya mahasiswa memperbaik nilai akademis, menjadi generasi yang berguna bagi bangsa dan negara? Gunakan media sosial dan kecanggihan gawaimu untuk menggali informasi strategis.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun ini mengalokasikan dana sebesar 20 triliun untuk beasiswa berprestasi. Tak ada alasan bagi mahasiswa yang berniat studi pascasarjana di dalam maupun di luar negeri. Ini baru dana dari LPDP. Masih banyak lagi dana beasiswa yang bisa didapat, dari kakak alumni anda yang kini duduk di kursi eksekutif, legislatif, hingga partai politik. Banyak peluang strategis.

Setelah anda dapat beasiswa, lulus, tentu ada banyak tawaran proyek atau jabatan yang menanti. Tinggal memanen hasil kerja anda selama empat sampai lima tahun kuliah. Mau di jalur politik seperti caleg, atau semipolitik seperti dosen yang berambisi jadi dekan. Tapi ingat segalanya butuh usaha. Tak semudah berkicau dan nyinyir di media sosial.