BAGIKAN

Saat saya sedang tidur cantik tepatnya Sabtu 30 Juli 2016 sekitar pukul 13.40-an WIB di Organisasi Pesantren Putri (OPP) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember atau sering dikenal dengan Asrama Putri. Saya terbangun karena grusak-grusuk di samping saya.

Iya karena saya tidak tidur di kamar melainkan di tempat yang biasa dipakai untuk nonton TV, shalat berjama’ah atau sendiri-sendiri, tempat kajian kitab di setiap subuhnya, juga tempat untuk makan dan bersantai ria dengan teman-teman tercinta saat siang hari.

Tempat itu sering kali kami (baca: warga asrama) sebut sebagai musholla, tapi saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai tempat serba guna. Karena memang multifungsi. Tapi sekarang dan seterusnya akankah tempat itu tetap seperti tempat yang sebelumnya warga asrama huni? Tanya saja pada birokrat kampus IAIN Jember yang bergoyang, eh.

Di dalam asrama tersebut terdapat 26 kamar tidur. 12 kamar di lantai bawah dan 14 kamar di lantai atas. Kamar yang tidak terlalu besar itu dihuni oleh 4 orang dengan model kasur susun. Setiap orang memperoleh satu kasur lumayan nyaman untuk bisa tidur nyenyak tanpa harus desak-desakan. Hanya 2 kamar yang dihuni oleh 5 orang, karena memiliki luas yang lebih dibandingkan yang lainnya.

Jika semua kamar terisi, total penghuni asrama adalah 106 orang. Dengan 10 kamar mandi lengkap bersama klosetnya, 6 di lantai bawah dan 4 di lantai dua. Sedangkan lantai tiga adalah tempat untuk mengeringkan baju. Setiap kamar terkelompok menjadi sebutan blok, setiap blok terdiri 3 kamar.

Di hari aktif kegiatan kami lumayan padat, dimulai dari sholat shubuh berjama’ah lalu kajian kitab kuning, bukan merah apalagi buku kiri .Kajian tersebut berkahir 05.30 WIB. Dilanjutkan dengan kegiatan listening Bahasa Inggris dan Arab secara bergantian. Biasanya setiap blok bertugas mencari lirik lagu bergenre bebas dan menghilangkan bagian-bagian lirik untuk dilengkapi saat listening.

Kegiatan pagi berakhir pukul 06.00 WIB atau paling siangnya 06.15. Setelah itu semua bebas beraktifitas sesuai jadwal kuliah atau keinginan masing-masing. Tetttt!!!! Pukul 18.30 WIB kegiatan malam pun dimulai, telat semenit saja dari jam itu, langsung dapat 6 poin plus denda uang 3 ribu. Jangan macam-macam makanya.

Poin di sini bukan voucher yang bisa ditukar alat make-up tapi batasan setiap pelanggaran. Jika poin saudara sampai 100, yupp siap-siap go out from dormitory. Tapi gak sekejam itu sih, karena warga asrama masih memiliki satu kali lagi kesempatan untuk tetap tinggal di asrama. Yakni dengan membersihkan kamar mandi dan membayar denda sesuai ketentuan, maka poin yang awalnya sudah overloud akan berkurang menjadi 50.

Tapi poin itu hanya berlaku satu kali dalam 2 semester. Saat pergantian tahun akademik juga pergantian pengurus, maka poin dimulai dari nol lagi.

Kegiatan diniah berkahir 20.30-21.00 WIB. Lumayanlah untuk senam kepala menunggu jam berakhir. Setelah itu terserah lu mau ngapain, yang penting 21.30 WIB lu harus di dalam asrama, kalau enggak, ya dapat poin lagi plus denda uang, setiap 5 menitnya dihargai seribu rupiah, coba kalikan sendiri berapa uang yang harus dikeluarkan jika telat satu jam.

Lalu bagaimana dengan yang aktif atau sedang memiliki kegiatan di organiasasi ekstra maupun intra? Yang penting ada surat resmi dari organisasi yang mengatakan kalau lu sedang ikut kegiatan, jatahnya sampai pukul 23.00 jika telat, ya kembali ke poin dan hitungan menitnya. Boleh sih sampai 24.00 khusus kegiatan Laporan Pertanggung Jawaban organisasi.

***

Karena grusak-grusuk itu, saya terbangun. Waktu itu hanya ada sekitar 10 orang di asrama, sebagian dari mereka sedang mengurusi Kartu Rencana Studi dan sebagian lagi sedang mengurus skripshitnya. Salah satu pengurus yang ada di samping saya mendapat panggilan telpon dari ketua asrama.

Beberapa saat kemudian, Citra berkata “Kawan, Salasa malam bapak (pengasuh) mau ngobrol dengan kita (pengurus) jadi jangan pulang dulu, pimpinan kampus juga akan hadir katanya”. Saya tak berpikir jauh apa yang akan mereka bicarakan saat hari masih dalam hitungan libur.

Esok harinya saya sudah siap dengan barang-barang saya untuk pulang (baca; boyong) dari Jember. Bukan karena sakit hati karena masih sendiri, tapi karena bekal hidup sudah mulai tipis dan tak kunjung bekerja ataupun mendapatkan pekerjaan. Menyedihkan bukan, serasa ingin bernyanyi lagunya bang Iwan, “Empat tahun lamanyaaa…….”

Saat itu masih hari selasa dan belum malam. Pagi hari saat saya bangun tidur dan membuka sosial media, beredar kabar jika asrama harus segera dikosongkan. Warga asrama diberi kesempatan sampai 07 Agustus 2016. Loh kenapa ini? Kok mendadak gitu kabarnya?

Entah bagaimana perasaan mereka mendengar berita itu, tak ada angin tiba-tiba badai menggusur mereka dari tempat tinggalnya.

Untuk memastikan kebenaran kabar tersebut saya bertanya pada teman seangkatan yang kebetulan masih nangkring di asrama karena urusan skripshit.

Saya sedikit bingung katanya tamu kehormatan itu akan datang pada selasa malam, lha kok tadi malam sudah datang?

“Iya Rik, tadi malam Pak Karno (Wakil Rektor III) datang dan bilang bahwa asrama harus segera dikosongkan karena akan dihuni mahasiswa baru. Kasian adek-adek kita, mereka kaget dan nangis gitu. Sekarang  mereka mulai berkemas untuk pindahan dan yang masih KKN juga belum ada yang datang.”

“Pengasuh gimana?” tanya ku. “Ya membela kita tapi apa daya kalau ketukan pal(s)u dari atasan sudah gitu.” jawab Ima yang juga hadir dalam pertemuan itu. “Jam berapa ke asramanya?” lanjut saya. “Setelah maghrib hampir isya-an gitu.”

Menurut Ani yang telah 4 tahun menjadi warga asrama, Wakil Rektor (Warek) III menyampaikan “pengusiran” itu hanya sekitar 5 menit saja, maklumlah seorang Warek pasti sedang sibuk membuat kampusnya agar terlihat weh!, eh wah! maksutnya. Jadi dia tidak ingin membuang waktunya untuk sekedar memberi ungkapan yang setidaknya “menghibur” hati warga asrama yang sebentar lagi berstatus sebagai mantan. Itu spekulasi saya loh ya.

Terus nasib warga asrama sekarang gimana? Bagaimana pula dengan mereka sebagian dari warga asrama yang masih KKN di desa-desa pilihan kampus?

Demi mahasiwa baru, birokrat kampus mengabaikan mereka yang selama ini telah menghabiskan waktunya untuk menghidupkan kegiatan asrama. Padahal saat bulan ramadhan tiba, mereka masih rela tinggal selama 20 hari mengikuti serangkaian kegiatan kajian kitab. Di kala teman-teman di luar asrama duduk manis di rumahnya, mereka rela berkantuk-kantuk ria mengikuti kegiatan diniah demi visi IAIN Jember yang katanya Religius, Intelektual dan Profesional itu loh.

Selama ini mungkin bapak Warek belum perlu nan butuh ya, jadi asrama ya apa kata yang menempatinya, siapapun bebas masuk kesana selama quota masih ada dan memenuhi dua persyaratan; perempuan dan kuliah di IAIN Jember tingkat S1. Bapak tau itu? Y asu dahlah.

Duh pak rektor, cobalah lihat mereka! Lihat semangat mereka belajar! Kok ya tega-teganya mendempak mereka begitu saja tanpa apalah-apalah. Setidaknya ucapkan terima kasih lah bagi mereka yang selama ini telah menjaga gedung asrama panjenengan.

Dan untuk kalian kawan-kawanku warga asrama, ini sebagian dari perjuangan kita. Yang patuh ya sama pimpinan kampus kalau tidak ingin nilai akademik kalian jelek, atau nanti malah diberi label mahasiswa pembangkang. Ngeri kan!

Yuks kita ucapkan terimakasih pada Rektor IAIN Jember, Babun Soeharto dan Warek III, Sokarno tercintah. Terimakasih karena telah memisahkan kami yang telah berhasil menjadi sebuah keluarga. Semoga mahasiswa baru yang akan mereka timang (tidak) menjadi seperti yang mereka inginkan, patuh saat disuruh kekanan dan bungkam saat disuruh diam.

Semoga nyenyak tidur bapak-bapak sekalian, setelah membuat (mantan) warga asrama pusing mencari tempat tinggal baru dalam kurun waktu yang sangat cepat.