BERBAGI

Barangkali dalam masyarakat yang malas membaca buku, serta belum melihat pendidikan sebagai kebutuhan utama, persoalan uang kuliah mahal, belum layak disebut persoalan besar. Begitu pula bagi masyarakat yang mengarusutamakan pendidikan sebagai kebutuhan, biaya kuliah mahal tetap tak akan jadi persoalan—jika kesenjangan tidak setinggi angka minat baca versi UNESCO di Indonesia.

Biaya kuliah mahal baru akan dipersoalkan di negara-negara berkembang yang haus pendidikan. Tapi kesenjangan ekonomi masyarakatnya melampaui nominal kenaikan hutang luar negeri, persentase kasus korupsi di Indonesia, data statistik mengenai angka kasus perampasan tanah, angka kasus kekerasan seksual dan terhadap anak, atau perbandingan-perbandingan lain—yang akan menjemukan mata dan bikin geram saat dibaca.

Bayangkan jika kampus kadung menaikkan biaya pendidikan. Kemudian kampus yang terlanjur difantasikan sebagai ruang belajar dalam tingkatan paling tinggi, justru berada di kampiun teratas soal nominal biaya pendidikan. Mahal, dengan alasan kebutuhan untuk menjadi keren dan alasan populer lain.

Lalu apa lacur ketika biaya kuliah terlanjur ditinggikan, dalam kondisi kemampuan konsumsi masyarakat yang semakin jatuh—seperti aku saat merindukan mantan dan tak dapat bertemu? Lalu bagaimana mengenyam pendidikan yang makin mahal biayanya—jika untuk makan saja masih berhutang.

Solusinya mungkin dengan menjual tanah dan ternak bagi orang tua di desa, menggalakkan penjualan bagi orang tuamu yang pedagang, lembur sebanyak mungkin demi bonus bagi orang tuamu yang buruh, atau menipu lebih banyak orang jika orang tuamu seorang koruptor, atau contoh-contoh lain yang terlalu melelahkan untuk disebutkan. Barang tentu itu jadi solusi bagi yang berpunya tanah dan ternak untuk dijual, berpunya dagangan untuk diperjualbelikan, berpunya pekerjaan pun jabatan, dan seterusnya. Barang tentu juga itu yang akan diusul oleh kelompok masyarakat konsultan yang gemar berkomentar.

Lalu bagaimana seharusnya bersikap, jika ingin menjual tanah tapi tak punya tanah, ingin berdagang tapi tak punya modal, ingin gaji tapi tak bekerja, ingin korupsi tapi tak punya kuasa untuk melakukannya—bersyukurlah untuk yang satu ini! Kemudian semuanya terjadi bukan semata keinginanmu dan orang tua.

Barangkali dulunya orang tua kita punya tanah dan ternak. Tapi diambil paksa lewat perampasan menggunakan kemenangan palsu di pengadilan, oleh mereka yang  berpengaruh tetapi serakah. Atau dulunya orang tua kita adalah pedagang, tapi bangkrut akibat inflasi yang disebabkan oleh monopoli sumber daya, serta kerja sama jahat korporasi transnasional-pemerintah. Baiklah, mari berhenti menginterupsi narasi orang lain dalam pengendalian harga, yang akan orang tua kita perdagangkan. Hal yang sama terjadi jika orang tua kita dulunya buruh, tapi kena PHK karena aktif di serikat, atau karena tenaganya sudah tidak dibutuhkan sebab mesin bisa lebih produktif.

Tapi kamu bisa bekerja untuk dirimu sendiri dan menggunakan hasilnya untuk berkuliah. Itu yang akan disarankan oleh kelompok kelas menengah hipokrit, yang hidupnya tidak pernah kepayahan saat masih kuliah. Disebut solusi jahat karena hanya menyelesaikan persoalanmu sendiri, sementara kamu dituntut untuk hidup menjadi masyarakat yang berempati pada hal selain dirimu sendiri. Belum lagi, bukan hal yang pasti jika nantinya kamu bisa membagi atensi antara bekerja dan belajar, karena beberapa orang tidak dianugerahi bakat membagi perhatian—salah satunya mungkin kamu.

Lalu karena membaca semua persoalan ini, ternyata hanya memaksa kita berpikir makin keras dan tidak memberi jawaban apa pun atas hal yang dipersoalkan. Seperti halnya kampus sering menjelaskan sesuatu dengan rumit dan mustahil dimengerti dalam sekali penuturan. Tulisan ini akan ditutup dengan sebuah konklusi populer yang pernah menumpang penampakan di simpang tiga tugu adipura lama, yang sekarang sudah pindah ke tempat baru di Losari, makanya disebut adipura Lama di sekitar Aspol Tallo Makassar.

Barangkali, jika tiba masa tidak ada sesuatupun lagi untuk dimakan. Orang miskin akan memakan orang kaya

Demikianlah tulisan ini saya tutup, jadi tidak usah membaca kalimat selanjutnya. Sementara untuk pertanyaan yang dibangun oleh narasi ini. Silakan cari jawabannya dengan berkuliah di kampus-kampus kuliah dunia yang mahalnya bukan main. Tapi perpustakaannya tutup sebelum jam 6 malam, bangku kuliah yang digunakan masih peninggalan rezim orde baru, dan langganan banjir tiap musim hujan.

NB: sadar atau tidak, kita mungkin mengabaikan permintaan narasi ini yang berada pada bagian awal paragraf terakhir. Apakah salah? Tentu tidak! Rasa penasaran selalu patut diapresiasi, artinya masih ada semangat tinggi.

Saloom … Panjang umur uang kuliah mahal …..