BAGIKAN

Sebelumnya, saya ingin menyampaikan apologi saya kepada para pembaca. Karena tulisan ini memuat kegiatan yang sudah lama berlalu. Tapi saya selalu gelisah dan sangat ingin menuliskannya. Kegiatan ini berlangsung sekitar pertengahan Februari lalu, Kota Jember yang sepertinya masih belum bisa disebut sebagai kota urban kedatangan tamu, yaitu Xamagata sebuah kelompok musik asal Majalengka. Bertepatan dengan malam minggu yang tak syahdu-syahdu amat karena saya belum punya pasangan. Saya memutuskan untuk datang dan melihat pertunjukan kelompok musik tersebut. Lompat Pagar, begitu tajuk pertunjukan mereka, yang diambil dari judul album pertama yang sudah mereka rilis. Ada dua orang yang datang mewakili Xamagata, tapi menurut informasi masih ada beberapa orang lagi di dalam kelompok musik tersebut. Gugi dan Xati, dua orang tersebut akan tampil bersama beberapa musisi asal Jember dan Situbondo.

Pentas malam itu adalah salah satu usaha konser keliling mereka untuk mempromosikan album pertamanya. Sebelum sampai di Jember, Xamagata menggelar pertunjukan kolaborasi dengan beberapa musisi di Bali. Tapi ada satu hal yang membuat saya begitu tertarik dengan Xamagata. Di belakang nama Xamagata ada embel-embel healing music, hal itulah yang membuat saya penasaran dan selalu gelisah untuk segera menulis tentang mereka. Seperti apakah healing music? Apakah bisa menyembuhkan ingatan saya yang rusak karena mantan? Hal itulah salah satu alasan terkuat saya untuk melangkahkan kaki menuju gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember.

Pertunjukan sebenarnya dimulai pukul 19.30 WIB, tapi setelah maghrib saya sudah sampai di Gedung PKM. Tentunya saya punya tujuan yaitu membeli tiket pertunjukan yang dijual on the spot dengan harga lima ribu rupiah. Ternyata venue sudah lumayan ramai dan saya bertemu beberapa kawan yang juga ingin menyaksikan pertunjukan tersebut. Saya beruntung malam itu, karena tidak merasa sendirian lagi.

Pintu gedung PKM pun dibuka dan para penonton yang sudah membeli tiket diperbolehkan masuk. Saya masuk bersama kawan-kawan dan disambut oleh pagar yang tingginya seukuran lutut orang dewasa. “Lompat pagar, Mas!” celetuk seorang pria yang menjaga pintu masuk. Wah, saya semakin penasaran dengan apa yang akan saya temui di panggung. Dan saya memang dibuat sedikit terkejut karena format panggung seperti alam bebas. Ada pancuran air dari bambu, rumput menjalar di bebatuan, pohon yang sudah kering dan lantai yang dipenuhi oleh dedaunan. Mata saya sudah dimanjakan sebelum pertunjukan musik dimulai.

Saya memilih tempat duduk agak ke belakang, karena saya ingin menikmati pertunjukan tersebut sembari merokok. Pertunjukan pun dimulai dengan musik pembuka yang dibawakan oleh tiga orang yang sudah familiar di mata saya. Panaka Jaya, Ali Gardy dan Dani Al Pratam, tiga orang yang dulu menggelar resital musik munajat perjalanan. Beberapa komposisi yang mereka bawakan untuk membuka acara malam itu adalah aransemen ulang komposisi yang sudah mereka bawakan saat resital musik Munajat Perjalanan. Selain itu ada satu alat musik baru yang dimainkan oleh Ali. Solawa, begitu dia menyebut alat musik yang didesain ulang dari Dawai Karmawibhangga yang ada pada relief Candi Borobudur.

Musik pembuka dari tiga orang tersebut pun usai dan dilanjutkan dengan pertunjukan utama dari Xamagata. Gugi dan Xati memasuki panggung disusul oleh 5 orang musisi dari Jember yang akan berkolaborasi dengan Xamagata. Mereka bertujuh memasuki panggung dan mengisi posisi masing-masing. Pakaian mereka biasa, tak ada yang istimewa menurut saya. Hanya saja Gugi dan Xati memakai kaos yang bertuliskan Xamagata From Majalengka.

Saya menantikan healing music dimainkan, tapi sebelumnya Xati menyapa penonton dan menyampaikan bahwa mereka akan memainkan 9 komposisi musik. Selain itu Xati juga memperkenalkan kelima musisi yang akan berkolaborasi dengan Xamagata malam itu. Mereka adalah Ghuiral, Yudi, Taufiq alias Polem, Samsul dan Kebo. Komposisi pertama berjudul Bebas Boleh, Bebaslah Boleh dimainkan. Tiupan flute dari Xati memenuhi ruangan, alunan musik dengan beat pelan berhamburan memenuhi kuping. Suasana gedung PKM mulai berubah. Saya menebak musik yang dibawakan Xamagata adalah musik suasana, karena alunan musik yang muncul seperti suara-suara yang muncul dari alam. Saya semakin tertarik dengan musik yang dibawakan oleh Xamagata.

Seperti apakah healing music itu, saya pun mencoba browsing melalui gawai dan menemukan website milik Jim Oliver, seorang pemilik label rekaman bernama LLC yang fokus pada healing music dan soundtrack film. Dalam websitenya tersebut Jim mengatakan “There are many sound healing concepts such as: using “missing” frequencies in the person’s voice; using the voice in a harmonic toning way; human energy center (chakra) correlation, and the use of brain/body synchronization frequencies – to name a few. Harmonic Resonance is a way to restore balance, harmony and vitality by offering music and sounds that resonate with you in such a way as to present a musical model of you in your optimal, vibrational, and resonant state.”

Healing music atau music penyembuhan menurut Jim, menitik beratkan pada nada-nada harmonik yang bisa mengembalikan keseimbangan dalam setiap kehidupan manusia. Karena melalui hal tersebut manusia bisa melepaskan berbagai beban kehidupan yang mereka tanggung. Seperti komposisi pertama yang dibawakan oleh Xamagata, suara dari alat musik tiup begitu dominan, dari flute dan clarinet yang dimainkan oleh Xati dan Iral. Nada-nada yang keluar mengalun begitu lembut dengan beat yang konsisten. Tiga komposisi selanjutnya yang dibawakan masih sama, beat yang rendah dan permainan alat musik tiup tetap mendominasi.

Tapi di komposisi yang ke lima, ada yang berbeda. Ada empat orang yang tidak memakai pakaian masuk ke panggung, mereka memainkan teatrikal untuk merespon komposisi yang dibawakan oleh Xamagata. Keempat orang tersebut kemudian bergantian membacakan puisi tentang kondisi negara Indonesia yang sedang dirongrong perpecahan. Berbagai sindiran serta kritik disampaikan melalui puisi yang mereka bacakan. Kali ini komposisi musik yang dibawakan oleh Xamagata pun berubah. Seperti ada emosi besar yang ingin dikeluarkan. Beat dari komposisinya mulai tidak konsisten, naik kemudian turun, kemudian naik dan turun lagi. Seakan antara pemain teater dan komposisi musik yang dibawakan Xamagata saling merespon satu sama lain.

Komposisi yang dimainkan bersama teatrikal pun selesai. Xati menyampaikan bahwa ada 4 komposisi yang dibawakan tanpa jeda berbarengan dengan teatrikal dari Teater Oksigen Unmuh Jember. Lalu komposisi terakhir pun dimainkan. Kali ini suasana baru dimunculkan di komposisi terakhir. Ada suasana selebrasi yang muncul, musik rancak dimainkan oleh Xamagata. Xati mengajak para penonton untuk berjoget, pemain teatrikal dan beberapa kru panggung dipanggil masuk ke panggung dan berjoget bersama dan acara pun diakhiri dengan ucapan terima kasih dari Xamagata kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mensukseskan acara tersebut. Penonton pun melebur ke panggung berjoget bersama lalu musik berhenti dan dilanjutkan sesi ramah tamah.

Tapi ada yang masih mengganjal di benak saya sampai sekarang. Karena sesi ramah tamah tersebut hanya dilakukan dengan bersalaman serta berfoto ria. Padahal saya benar-benar menginginkan adanya diskusi hangat tentang apa itu healing music. Karena memang tujuan saya datang adalah untuk mengetahui apa itu healing music dan kenapa Xamagata memilih aliran tersebut. Pada akhirnya saya hanya bisa menyimpulkan bahwa healing music adalah alunan nada yang membentuk suasana tenang pada diri manusia sehingga bisa memunculkan ketenangan pada diri manusia dan mengurangi berbagai beban yang ditanggung.

Tapi saya tidak mau mati penasaran, saya akan mencari referensi lain tentang healing music dan semoga ada kesempatan lagi untuk bertemu dengan Xamagata di lain waktu.