BAGIKAN

Enam perempuan sedang melakukan aktifitas memasak di atas panggung terbuka Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember. Sebelah kanan panggung, dua lelaki bertelanjang dada mengenakan celana pendek berdiri di depan atap seng yang digantung di tiang gawang sepak bola. Sedangkan di kiri panggung, dua lelaki sedang terjebak di tandon air dan satu lelaki di samping tandon. Tepat di depan panggung tertata bangku kuliah memanjang yang di atasnya diberi dua balok kayu. Ada satu lelaki mengenakan singlet berwarna putih berdiri di atas balok itu.

Saya merasa asing dengan pertunjukan teater dengan tema ‘Persinggahan Memori’ di Kabupaten Jember pada 25 Mei 2018 lalu. Ini kali pertama bagi saya melihat pertunjukan teater dengan aktor yang menceritakan kehidupan pribadinya sendiri secara otonom. Sedangkan pertunjukan yang jamak saya tonton hanya menjadikan aktor sebagai orang yang ‘hidup’ berdasarkan naskah dari sutradara. Semua ucapan, gerakan, intonasi berasal dari sutradara. Kali ini, kehadiran sutradara hanya sebagai pemoles hal-hal yang masih bisa dikembangkan dari diri aktor. Mengingat pertunjukan ini menggunakan konsep kolaborasi. Contoh gampangnya ketika kamu berjanji setia dengan si doi agar langgeng salah satunya dengan kolaborasi. Saling melengkapi, saling menutupi, saling suap, saling pandang. Halah~

Anwari sebagai sutradara tidak hanya melakukan kolaborasi dengan aktor, ia juga melibatkan Ghuiral sebagai pemusik. Jika pada pertunjukan umumnya mensyaratkan pemusik mengikuti kehendak sutradara, Ghuiral secara otonom membawa konsep musiknya dalam pertunjukan. Ia memanfaatkan kebisingan kendaraan motor di jalan Jawa yang posisinya berdekatan dengan panggung dan hal lain di luar panggung untuk memunculkan soundscape. Mungkin ini kado bagi kelulusan saya akhir bulan lalu. Saat pertunjukan berlangsung, muncul cuplikan adegan para aktor dari sorot proyektor. Kolaborasi dengan Rosyid dan Haedar sebagai sutradara film adalah kado terindah yang pernah kudapatkan.

Acara Festival Teater Internasional di Maroko pada 2013 lalu memberikan penghargaan Aktor Terbaik kepada Anwari. Selain penasaran dengan konsep kolaborasi pertunjukan, rekam jejak Anwari dalam dunia teater menambah rasa ingin menonton ‘Persinggahan Memori’. Terlepas dari ‘bentuk’ penis dan tubuh perempuan yang tercantum dalam pamfletnya lo ya.

Kali pertama mendengar ‘Persinggahan Memori’, imajinasi saya lari pada hubungan asmara yang kandas kemudian masuk daftar barisan mantan dan semua yang pergi tanpa sempat kau miliki. Uwowow. Namun dari siaran pers yang saya dapat, Yuda sebagai produser mengatakan bahwa pertunjukan kali ini untuk menampilkan sisi biografis para aktor yang digali dari ingatan monumental mereka. Hal ini diambil untuk mencoba keluar dari tren pertunjukan bertema sosial.

Sebagai contoh, saya pernah menonton teater yang menceritakan perilaku korup dari pejabat desa mengakibatkan warganya rugi. Pertunjukannya di dalam gedung, yang menonton mahasiswa, alumni beserta keluarga kecilnya tanpa ada pejabat desa atau warga. Ada jarak yang cukup jauh antara ‘pertunjukan’ dengan warga sebagai pihak yang rugi dari perilaku korup para pejabat. Bahwa akhirnya pesan-pesan dari ‘pertunjukan’ tidak tersampaikan terhadap warga dan menjadi eksklusif akibat jarak yang ditimbulkan.

Melihat keberjarakan yang terlalu jauh antara pembawa pesan, pesan, dan penerima pesan itulah pentas kolaborasi terselenggara. Anwari menangkap anggapan masyarakat bahwa teater hanya milik kelompok elit. Seperti gedung tertutup sebagai tempatnya. Melalui kolaborasi, mereka hadir untuk menghancurkan dinding-dinding gedung pertunjukan lalu memboyong pertunjukan ke panggung terbuka. Sebuah usaha, yang kata bung Kholid, untuk membumikan pertunjukan teater di kehidupan masyarakat.

Besar kemungkinan pertunjukan teater di kandang sapi atau tempat-tempat masyarakat biasa beraktifitas. Seperti pertunjukan Anwari sebelumnya, mini-mini #3 yang mendapat Hibah Seni Kelola 2016 kategori Keliling menggunakan lokasi penambangan batu kapur di Madura sebagai tempat pertunjukan. Laiknya usaha pedekate terstruktur dan masif. Kamu harus paham betul arti sebuah kedatangan dan kepulangan bagi si doi. Minimal bisa membedakan waktu prime time pedekate dengan prime time sahur atau buka. Jujurlah pada diri sendiri dan lakukan pedekate ke doi secara langsung karena teman dekat, orang tua doi masih menyimpan segudang bias. Masih beruntung jika bias pedekate jatuh pada teman dekat doi yang lebih uwuwu ketimbang doi. Nah kalau bias pedekate jatuh ke orang tua doi yang kebetulan pemborong bangunan? Sedang kamu sering unjuk gigi soal kokohnya otot-otot di tubuhmu. Gagal jadi calon mantu malah jadi kuli bangunan di proyek ayah si doi. Kusih ogah!

Dengan begitu, teater bukan lagi sesuatu yang hanya dibicarakan orang atau kelompok tertentu. Bahkan ketika sesi apreasi, Anwari membebaskan penonton untuk menafsirkan tiap adegan para aktor. Ia tidak ingin menggiring penonton pada tafsir tunggal yang dimiliki Anwari. Seperti adegan melemparkan bantal ke atas diikuti jeritan oleh aktor kemudian ditangkap lalu tidur oleh salah satu penonton dianggap sebagai hubungan masyarakat dengan penguasa. Bagi Anwari adegan itu sebagai representasi memorinya atas teror bom di Surabaya ketika perjalanan di dalam bus menuju Jember. Berbeda dengan para aktor, kata Anwari, yang melihat bantal untuk tidur. Tujuanya untuk menjembatani jurang pemisah yang cukup dalam antara penonton dan tim pertunjukan ‘persinggahan memori’.

Menonton ‘persinggahan memori’ malam itu mengingatkan saya pada negeri ini. Seharusnya penguasa tidak memberi tafsir tunggal atas kehidupan masyarakat laiknya sutradara. Ada pemberdayaan masyarakat atau aktor seperti yang dilakukan tim pentas kolaborasi. Semoga kita bisa saling berkolaborasi hingga mati  menghampiri. Salam wuwuwu!