BAGIKAN

Kemarin saya benar-benar bersemangat untuk datang di acara KonservaCi-nema yang diadakan oleh Konservasi Ekspresi bersama GoAheadPeople.id di Zona Apresiasi yang terletak di jalan Tidar, Jember. Tapi apa daya keinginan memeluk gunung tangan tak sampai, saya yang tidak mempunyai kendaraan harus menyerah dan tidak bisa datang tepat waktu karena tidak ada tebengan. Layaknya kasih tak sampai, semangat saya sudah berkurang karena saya datang ke tempat acara setelah maghrib sedangkan acara dimulai sejak pukul 14.00 WIB. Saya hanya bisa mengikuti pemutaran film dan ngobrol santai dengan para sutradaranya. Padahal saya yang notabene kurang pengetahuan mengenai pembuatan film ingin mengikuti workshop pembuatan film yang diadakan siangnya. Tapi tak apa lah, toh saya masih bisa menikmati lima film yang diputar malam itu.

Suasana pemutaran film malam itu benar-benar berbeda dengan suasana pemutaran film yang selama ini saya ketahui. Jika sebelum-sebelumnya saya mengikuti pemutaran film selalu di dalam ruangan, dengan standar operasional pemutaran yang melarang beberapa kegiatan seperti menyalakan gawai ataupun merokok, maka malam itu semuanya ditabrak. Losss Pak Eko! Penonton diperbolehkan melakukan kegiatan apapun, karena tempat pemutaran ada di sebuah cafe di pinggir jalan. Semua penonton yang niatnya hanya ingin ngopi atau yang hanya lewat melebur menjadi satu. Ada yang bawa pacar, ada yang bawa keluarga, ada yang bawa keluarga pacar sampai ada yang bawa kucing, suwer deh!

Suasana malam itu benar-benar cair. Baru kali itu saya bisa melihat film sambil merokok dan ngobrol bareng teman. Ada lima film yang diputar malam itu, empat dari lima film tersebut adalah film yang digarap oleh sineas muda asli Jember dan satunya adalah milik sineas dari malang yang sudah punya pengalaman memutar filmnya di festival internasional, namanya Mahesa Desaga, kenal ga? Kalau ga kenal ya kenalan sana!

Lima film yang diputar malam itu membuat saya merenungi lagi hidup, sek ya serius dikit ini! Karena kelima film tersebut mengambil sudut pandang kehidupan yang sebenarnya lalai dari pandangan kita sehari-hari. Film pertama yang berjudul Setengah Manusia garapan Irvan Abdilah menceritakan tentang budaya pasung terhadap anggota keluarga yang mengalami mental disorder. Dalam film itu diceritakan bagaimana seorang anak tetap menyayangi ibunya yang dipasung karena mengalami gangguan jiwa, sampai akhirnya ibunya dibuang oleh kakeknya karena dianggap menjadi aib keluarga. Lalu film kedua berjudul Manuk Bejo garapan Agit Mughnissalam bercerita tentang manusia yang selalu menyerah pada hal-hal yang praktis termasuk klenik yang membuat manusia tersebut tidak mau berusaha.

Film ketiga dari sineas malang Mahesa Desaga juga tidak kalah seru. Filmnya berjudul Train to Heaven. Iai menceritakan dunia setelah kematian dari mata sang sutradara, bagaimana ada dua orang yang fanatik terhadap agama melakukan apa yang mereka sebut sebagai jihad, lalu mereka meninggal dan menaiki sebuah kereta menuju surga. Film itu berisi percakapan tentang bagaimana agama menjanjikan semua hal menyenangkan jika seseorang melakukan jihad memberantas kafir, salah satunya adalah 72 bidadari. Percakapan mereka menjurus terhadap janji-janji Tuhan pada manusia yang masuk surga, tapi menjurus pada percakapan yang agak erotis, mengenai bagaimana bentuk dan rupa 72 bidadari yang dijanjikan pada mereka. Kemudian bagaimana mereka akan memperlakukannya, apakah mereka kuat melakukan hubungan seks dengan 72 bidadari tersebut secara langsung. Lalu akhirnya mereka tiba di tempat yang dinamakan surga dan menemukan sebuah kuburan dengan nisan bertuliskan “Tuhan”. Pikiran saya langsung tertuju pada Nietzsche dan Al Habib Imam Besar itu, kenal kan?

Kemudian film keempat berjudul Wahyu garapan Ega Marsha, bercerita tentang seorang anak berkebutuhan khusus yang hidup bersama ibunya yang bekerja sebagai pekerja seks komersial. Anak tersebut mengalami fantasi seks karena sering mendengarkan suara desahan ibunya ketika melayani pelanggannya, bahkan anak tersebut sempat melihat ibunya berhubungan seks dengan pelanggan yang sedang mabuk parah. Film ini membuat saya sedikit trenyuh karena memikirkan bagaimana kehidupan seseorang berkebutuhan khusus.

Selanjutnya film terakhir berjudul Ayo Dolen yang sudah pernah saya tonton sebelumnya, karena Rosyid penggarap film itu adalah salah seorang teman saya. Film itu adalah film tugas akhir milik Rosyid dan saya melihat film itu pertama kali pada pagelaran tugas akhir Rosyid beberapa bulan yang lalu. Film itu menceritakan tentang seorang anak yang sering sekali keluar rumah untuk bermain dan dipengaruhi pengetahuan tentang kiamat dari televisi, sampai pada akhirnya dia selalu bertanya tentang kiamat pada kawan-kawannya dan ketika dia tidak berada di rumah, ibunya meninggal. Film yang membuat saya benar-benar sedih karena saya mengalami hal itu; ibu saya meninggal ketika saya masih dalam perjalanan pulang.

Ini paragraf serius lho, jangan berharap bisa tertawa ketika membacanya.

Ya kelima film tersebut membuat saya benar-benar merenung tentang kehidupan saya selama ini. Banyak sekali sisi kehidupan manusia yang luput dari pandangan saya padahal hal-hal tersebut dekat sekali dengan kehidupan saya. Bagaimana di lingkungan saya ada budaya pasung yang melanggar HAM masih dilestarikan, masih banyak infrastruktur atau layanan publik yang tidak mendukung seseorang dengan kebutuhan khusus, masih banyak orang yang fanatik dengan agama dan gampang sekali mengkafirkan orang lain, masih ada orang yang tidak mau berusaha dan hanya percaya pada klenik, sampai saya sendiri yang tidak bisa melihat ibu saya di rumah sakit sebelum meninggal karena asik dengan kegiatan saya sendiri.

KonservaCi-nema malam itu benar-benar membuat saya berpikir ulang mengenai standar operasional pemutaran dan juga tentang sisi-sisi kehidupan yang belum banyak saya ketahui. Malam itu walaupun tak ada dirimu disisiku tapi aku tidak lagi memikirkan tentang dirimu tapi lebih memikirkan bagaimana diriku berguna bagi orang lain yang butuh. Rimanya asyik banget ya, udah cocok gantiin yonglek neh!

Acara yang menggandeng beberapa komunitas dan organisasi di Jember seperti KonservaCi-nema ini harus sering diadakan, karena menurut saya acara tersebut bisa mempertemukan serta mengedukasi insan sinema di Jember yang mempunyai potensi dalam berkarya. Dengan adanya pemutaran film indie yang digarap oleh insan sinema di Jember, acara ini diharapkan bisa menciptakan semangat serta pasar alternatif untuk mengembangkan produktivitas karya insan sinema di Jember. Juga mungkin bisa mempertemukanku dengan calon menantu bapakku sih. Apalagi jika acara seperti itu bisa mewadahi berbagai latar belakang muda-mudi, seperti musik, seni rupa, teater atau hal-hal lainnya yang membuat semangat berkarya semakin membara.

Melihat lima film dalam acara KonservaCi-nema kemarin membuat saya teringat bahwa sekarang adalah saat-saat panas persaingan politik menuju pemilu 2019. Seharusnya orang-orang yang ingin mencalonkan diri sebagai aktor-aktor dalam pemilu nanti bisa memikirkan bagaimana mewadahi kegiatan muda-mudi serta memikirkan lagi sisi-sisi kehidupan yang ada karena tidak semua orang bisa memahami orang lain walaupun mereka menjadi seorang pemimpin. Karena yang terpenting adalah bagaimana Indonesia tetap jaya dalam kesatuan dan persatuan. Hidup timnas Indonesia U-16 yang berhasil membabat Filipina!

Tabik!