BAGIKAN

“Kenapa kita harus takut? Kita ini banyak. Jangan kendorkan semangat!”

Itulah salah satu kalimat yang diucapkan oleh Ilalang, tokoh utama dalam film Punk Masuk Desa. Kenapa kalimat itu yang saya ingat? karena kalimat itu terlihat mustahil dan sangat memaksakan apa yang disebut sebagai perlawanan. Film Punk Masuk Desa digarap secara kolektif oleh beberapa komunitas bersama Rumah Literasi Indonesia. Pertama kali mendengar judul film tersebut, saya menebak ceritanya tentang bagaimana skena punk masuk ke sebuah daerah. Tapi ternyata tebakan saya salah. Film tersebut adalah film fiksi yang menceritakan romantisme percintaan dengan bumbu aksi-aksi heroik yang terkesan dipaksakan.

Ilalang adalah tokoh utama dalam film tersebut, dia baru saja pulang dari Yogya untuk menuntut ilmu. Ketika sampai di desanya, dia dikagetkan dengan isu tentang datangnya investor yang akan mengubah desanya menjadi desa pariwisata dan akan menggusur beberapa lahan pertanian milik warga. Mirisnya lagi, yang menyampaikan isu tersebut dan juga sebagai perantara dari investor ke warga adalah kakaknya sendiri. Tapi tentu permasalahan itu sekejap terlupakan, di sinilah kenapa saya menyebut film ini adalah film percintaan yang dibumbui oleh aksi heroik.

Ilalang bertemu dengan seorang gadis, mereka berdua berencana membuat rumah baca dan diselipkanlah sedikit iklan untuk Rumah Literasi Indonesia. Melalui kisah percintaan yang disembunyikan itulah konflik dalam film tersebut muncul. Ilalang yang tidak setuju dengan penggusuran mulai mengorganisir kawan-kawan punk-nya untuk mengumpulkan warga, agar dia bisa menyampaikan bahwa penggusuran ini harus ditolak. Mereka berencana melakukan aksi. Dalam film tidak ada narasi dari Ilalang mengapa penggusuran tersebut harus ditolak. Padahal efek ekonominya besar lho bapak-bapak dan ibu-ibu.

Ilalang berhasil memberikan pengaruh ke warga. Ketika sosialisasi pembangun desa pariwisata berlangsung, penolakan disuarakan oleh warga yang datang. Lalu aksi yang sudah dipersiapkan oleh Ilalang dan kawan-kawannya pun berlangsung. Inilah yang membuat film ini menjadi lucu. Karena aksi tersebut dilakukan di tempat yang kurang bisa dijelaskan. Lokasi aksinya di tanah lapang. Ada satu alat berat di situ. Tapi mustahil itu adalah lokasi pembangunan desa pariwisata, karena sosialisasi baru saja dilaksanakan hari itu dan tidak mungkin ada alat berat yang sudah bersiap untuk menggusur lahan warga. Lantas lokasi apakah itu?

Oke, kembali ke aksi yang dilakukan oleh Ilalang dan kawan-kawannya. Aksi tersebut berakhir ricuh dan jatuh beberapa korban luka-luka dari peserta aksi. Kericuhan tersebut di-blow up oleh berbagai media, sehingga mempengaruhi investor untuk masuk dan berinvestasi di desa tersebut. Tentu dari narasi tersebut tetap dibumbui adegan antara Ilalang dan perempuan yang sepertinya-ingin-dijadikan-pacar-tapi-belum-juga-jadi tersebut. Kemudian ada—memimjam istilah yang digunakan dalam film tersebut—pengkhianatan. Dalam scene dengan perempuan tersebut, Ilalang mengatakan bahwa banyak kawan-kawannya yang ikut aksi mendapatkan ancaman dari preman sewaan pihak investor. Ilalang malah pamit ke si perempuan untuk meninggalkan desa dan mencari tempat yang aman. Melihat scene tersebut saya jadi ingat aksi M1 yang terjadi di Yogya Tahun 2018 kemarin, bahwa pengkhianatan tidak membutuhkan pikir panjang, bahaya datang kawan bisa hilang.

Akhir dari film tersebut adalah ditemukannya mayat Ilalang. Dalang pembunuhan adalah kakaknya sendiri. Kakak ilalang pun dipenjara.

Film yang diawali dengan puisi ini pun, ditutup dengan puisi pula. Lengkap dengan scene perempuan yang sepertinya-ingin-dijadikan-pacar-tapi-belum-juga-jadi berpelukan dengan salah satu kawan perempuan Ilalang sambil menangis. Bagaimana tidak saya katakan, film ini adalah film romansa cinta yang dibumbui aksi heroik yang kurang kuat dasarnya. Perampasan lahan dan pengorganisiran massa sebagai basis perlawanan tidak seremeh dan sebercanda itu.

Penggusuran dan perampasan lahan seperti dalam film Punk Masuk Desa memang sering dan sedang gencar-gencarnya terjadi di Indonesia. Tak perlu saya sebutkan contohnya tapi di kebanyakan kasus penggusuran dan perampasan lahan di Indonesia memiliki alibi yang sama, yaitu pengadaan lahan untuk kepentingan umum. Walaupun nantinya lahan tersebut dijadikan lumbung uang oleh segelintir orang dan hanya bisa dinikmati oleh golongan tertentu saja. Alibi tersebut didukung oleh Peraturan Presiden (Perpres) nomor 148 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Dalam Perpres tersebut ada sejumlah tahapan dalam pengadaan tanah dipangkas dan dampaknya merugikan bagi rakyat dan lebih menguntungkan bagi investor.

Seperti yang diceritakan dalam film, bahwa investor langsung bisa masuk ke suatu daerah karena dalam Perpres yang memegang kuasa besar adalah gubernur. Gubernur akan melaksanakan tahapan kegiatan persiapan pengadaan tanah, setelah menerima dokumen perencanaan pengadaan tanah dari instansi yang memerlukan. Gubernur membentuk tim persiapan paling lama dua hari, yang dalam aturan lama 10 hari, sejak dokumen perencanaan pengadaan tanah diterima secara resmi oleh gubernur. Dari penjelasan tersebut bisa kita lihat, bagaimana rakyat yang menjadi pemilik asli lahan sudah tidak mempunyai kekuatan apapun. Ketika gubernur serta jajaran di bawahnya, seperti bupati, menyepakati dokumen perencanaan pengadaan tanah dari investor, maka rakyat harus mau dikesampingkan. Ngirrr, ra minggir tabrak, bwoss!

Maka dari itulah saya menyebut film itu hanya berisi kisah heroik. Perlawanan tidak hanya tentang mempengaruhi masyarakan untuk menolak dan melakukan aksi, tapi bagaimana mengedukasi masyarakat. Mereka perlu tahu bahwa penggusuran dan perampasan lahan seharusnya mempunyai berbagai tahapan yang harus dilewati. Mengedukasi warga adalah hal yang sangat diperlukan, jika ingin melawan kesewenang-wenangan pemerintah mewadahi kerakusan investor. Bila tidak sesuai tahapan, mereka mempunyai hak milik atas tanah tersebut. Ya mirip kayak kamu yang lagi deketin orang yang kamu taksir, je.

Jika dikerucutkan ke Jember, dalam waktu dekat ini akan ada proyek besar yang akan memakan banyak lahan, yaitu perluasan Bandara Notohadinegoro. Proyek ini tentu akan memberikan dampak bagi warga yang tinggal di sekitaran lahan pembangunan proyek tersebut. Kabarnya, perluasan ini akan memakan lahan pertanian serta beberapa rumah milik warga di daerah Ajung. Apa dampaknya? Tentu akan ada warga yang kehilangan mata pencahariannya ketika lahan pertanian dirampas.

Maka mengumpulkan dan mengudukasi warga untuk menciptakan basis perlawanan tentu perlu riset di awal, mengapa hal tersebut harus dilawan dan bagaimana bentuk perlawanan yang harus disiapkan. Saya kurang sepakat dengan perlawanan yang dilakukan oleh Ilalang dalam film Punk Masuk Desa. Apalagi dalam film itu Ilalang diceritakan meninggal dan preman yang membunuh serta dalang pembunuhannya dijebloskan ke penjara. Hal tersebut tentu tidak menyelesaikan masalah perampasan lahan. Proses penggusuran tentu akan terus berlanjut, karena investor tidak akan pernah takut dengan jalur hukum. Kendeng contohnya, menang di pengadilan tapi pabrik semen tetap berjalan. Sama kayak kamu, menang di hatinya tapi dia pacarana sama yang lain. Dari situlah saya menuliskan bahwa melawan tidak sebercanda itu.

Sebagai penutup tulisan ini saya tidak sepakat dengan keputusan Ilalang untuk meninggalkan desa karena ancaman. Film ini menurut saya bisa menjadi bomerang bagi penontonnya. Pertama, bisa menumbuhkan semangat untuk melawan, tapi di sisi lain juga bisa menumbuhkan keputusasaan dan ketakutan terhadap penonton. Itu karena ancaman pembunuhan dan kekerasan terhadap warga yang melawan, ditunjukkan dengan gamblang dan dengan gampang sekali dilakukan. Tapi disamping semua itu, saya mendukung semangat kawan-kawan yang membuat film ini dan berterima kasih telah menciptakan film ini. Bakar semangat di setiap titik api, panjang umur perlawanan dan jangan lupa cudlling!

Tabik!