BAGIKAN

Saya hampir kehilangan nafsu makan, setelah mendengar kisahnya. Ia kenalan dekat saya, seorang juru masak di sebuah restoran. Ia mengeluh karena harus bekerja 8 jam sehari, namun setiap bulan hanya mendapat separuh dari upah minimum kabupaten. Jika dipakai untuk membeli makanan setiap hari di tempat ia bekerja, saya taksir ia mungkin hanya bisa makan selama satu pekan. Sisanya mungkin harus digunakan untuk membeli mie instan satu kardus, serta obat penahan lapar.

Awalnya, ia hanya berniat punya pekerjaan paruh waktu. Karena jam kuliahnya di sebuah universitas bersertifikat internasional, sudah mulai lenggang. Setelah bekerja lebih dari setahun, belum pernah mendapat kenaikan upah. Ia juga tidak pernah memprotes pemilik restoran, apalagi melakukan demo tunggal menuntut kenaikan upah. Pun demikian dengan kawan-kawan seprofesinya. Mereka menerima, meski dengan berat hati.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ia sanggup bertahan hidup. Sebab kebutuhan biologis, seperti makan dan birahi, bisa saja mendesak seseorang menjadi buas. Tidak lagi peduli ia harus memuaskan perut dan birahinya dengan cara apa. Tidak mau tahu lagi, antara teman dan mantan.

Bukan berarti upah kecil dari sebuah pekerjaan tidak akan cukup untuk hidup. Masih banyak warung kecil di sudut kota yang menjual secangkir kopi dengan harga 2 ribu rupiah, gorengan 5 ratus rupiah, dan merek rokok imitasi dari brand tersohor. Warung penjual nasi kucing dengan harga 4 ribu rupiah pun masih banyak. Setidaknya inilah yang saya temukan di Jember.

Keberadaan warung penyedia makanan murah, memang tidak seperti tempat makan yang menggunakan gimmick atau embel-embel resto, dinning, pujasera, atau eatery. Artinya tidak akan ada dinding berwarna-warni untuk latar foto yang instagramable bagi pengunjung. Cuci tangan cukup menggunakan air kobokan ditambah perasan jeruk nipis, karena tidak disediakan wastafel dan toilet portable.

Di Jember ada warung Cak Ipul a.k.a David di jalan Jawa. Sajian andalan di sini adalah nasi bungkus buatan Bu Ipul dan aneka gorengan yang diberi topping sambal kecap. Waktu terbaik menghabiskan waktu di Cak Ipul sekitar pukul 7 sampai 11 malam. Karena pada jam itu, gorengan yang disajikan masih terasa hangat dan renyah.

Soal makanan berat, saya tentu merekomendasikan lalapan Bu Happy. Ia berada di depan SMAN 2 Jember, dari pukul 6—2 pagi. Saya kurang paham apakah pemilik warung kaki lima ini memang bernama Bu Happy, atau hanya nama akrab yang diberikan oleh para pelanggannya. Di Bu Happy, satu porsi nasi bungkus terasa sangat banyak. Sebagian pelanggan menyebutnya porsi sopir truk antarkota. Harganya pun bisa dibilang cukup murah, mulai dari 5 ribu rupiah untuk sebungkus nasi dengan lauk tahu, tempe, dan dadar jagung. Serta 7—10 ribu rupiah jika ingin memilih lauk telur dadar, ayam bakar, atau pecel lele.

Jika benar-benar ingin menghemat, lalu ingin menahan lapar dengan minum kopi, tentu saya memilih warung Buleck. Ia bertempat di belakang kampus FTP Universitas Jember, buka 24 jam. Tidak ada kopi varian nusantara layaknya di coffee shop. Tetapi cukup banyak yang betah berlama-lama di warung Buleck, karena menjadi salah satu titik pertemuan antara komunitas, organisasi, sales, pengemudi ojek online, serta mahasiswa dan pelajar SMA.

Varian kopi hitam ekstra gula di warung Buleck diyakini bisa menahan rasa lapar. Karena mereka percaya bahwa kandungan gula, bisa menjadi bahan bakar bagi tubuh. Walaupun sebagian orang menanggap pola hidup semacam ini akan berdampak buruk pada kesehatan lambung. Tapi toh bodoh amat! Tubuh tentu akan beradaptasi dengan pola konsumsi sehari-hari.

Dari tiga rekomendasi warung murah ini, tentu jauh berbeda jika dibanding dengan sajian di restoran, depot nasi padang, atau coffee shop ternama. Anda bisa saja berdebat soal takaran gizi dalam tiap sajian, atau perkara lain seperti kebersihan. Tapi jangan pernah memperdebatkannya bersama kelas pekerja dengan upah rendah, mahasiswa yang telat mendapat kiriman orang tua, dan tentu saja kakak aktipis yang menyusun siasat perang di warung kopi. Anda mungkin akan dibantah dengan dalil-dalil antikemapanan, antikapitalisme, dan eksistensialisme.

Sebab mereka yakin, bahwa urusan makan hanya soal pemenuhan perut. Bukan soal kalkulasi nilai sosial, ketika seseorang bisa makan dan minum, yang harganya tiga kali lipat lebih mahal seperti di restoran atau mall.

Jika hanya menuruti hasrat narsistik dan pengakuan di media sosial, dengan cara mengunggah foto-foto makanan mahal di tempat mewah, kelas proletar seperti buruh berupah rendah dan mahasiswa pun tidak akan mampu. Mereka mungkin hanya akan seperti Sisifus dalam mitologi Yunani, melakukan hal yang sia-sia secara berulang.

Segera buat daftar tujuan wisata kuliner saat keadaan berada dalam keadaan krisis finansial. Kalau memang tidak ingin mati muda atau menjadi dewasa dengan penuh kepalsuan.

Tabik!