BAGIKAN

Puluhan anak muda menyemprot cat di dinding-dinding kampus. Sesekali mereka mengganti caps istilah untuk kepala penyemprot cat tabung, mengganti warna cat, dan mondar-mandir melihat melihat hasil gambaran mereka. Ini adalah pertama kalinya saya datang ke acara DERWALEN, pertemuan tahunan seniman mural dan graffiti, yang digelar di Jember.

Awalnya saya kira DERWALEN adalah ruang bertukar gagasan dan wawasan, antarseniman mural dan graffiti soal skena street art. Tapi dugaan saya salah. Acara ini lebih mirip dengan ruang pertemuan kawan-kawan lama, yang datang untuk saling bercerita. Mereka datang dari berbagai kota dari luar Jember, seperti Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Lumajang. Namun mereka tidak bercerita hanya dengan kata, tetapi juga melalui karya mural dan graffiti.

Mereka menggunakan tembok berukuran sekitar 3×5 meter di dekat lapangan basket sebagai kanvas. Ketika semua mural dan graffiti hampir selesai dibuat, saya tiba-tiba ingat dengan film Bansky Does New York. Film dokumenter yang disutradarai Chris Moukarbel ini, merekam 31 karya buatan Bansky selama 31 hari di kota New York, Amerika Serikat.

Di jagat seni mural dan graffiti, nama Bansky sendiri cukup terkenal. Karya-karyanya dianggap memiliki hasrat untuk mengkritik kebusukan politisi, perang, modernitas, sampai gaya hidup hedonisme. Ia mampu menampilkan ironi dan lihai menggunakan satire untuk mengkritik sistem. Mild Mild West, salah satu karya stensil yang ia buat di Inggirs, menampilkan tiga orang polisi huru-hara melawan boneka Teddy Bear yang melempar bom molotov, layaknya menghadapi seorang anarko garis keras.

Belakangan ini, saya baru sadar bahwa sebagian karya Bansky pun dilelang. Entah karena popularitasnya, atau karena estetika simbolik dalam karya-karyanya. Mobile Lovers, salah satu karya Bansky bahkan terjual dengan nilai 400 ribu Poundsterling atau sekitar 13 miliar rupiah. Padahal karya ini hanya menampilkan gambar pasangan laki-laki dan perempuan yang saling berpelukan, namun sambil memandangi layar ponsel mereka masing-masing.

Di balik popularitasnya, ada juga sebagian kelompok yang tidak menyukai keberadaan Bansky. Barangkali karena Bansky dianggap terlalu tendensius dalam berkarya. Ia mungkin dianggap lebih peduli dengan preferensi politik tertentu, dibanding estetika karya.

Beberapa karya Bansky dirusak. Ditumpuk dengan coretan baru berisi identitas anonim kelompok yang tidak menyukai Bansky, atau dengan kata-kata makian.

Terlepas dari perdebatan itu, saya jadi sadar, bahwa karya mural dan graffiti bukan melulu soal merusak estetika tempat publik. Seni jalanan atau yang lebih artsy disebut dengan street art, bukan perkara mencari dinding atau pintu rolling door toko waralaba untuk dicoret. Bukan juga sebatas menandai satu tempat dengan nama-nama anonim, demi menuntaskan hasrat eksistensialis.

Baiklah jika tidak disebut sebagai pelampiasan hasrat eksistensialis, mungkin laku vandalisme semacam ini, dianggap sebagai upaya perebutan ruang publik. Tindakan yang dimotori oleh rasa mual, sebab iklan korporasi dan politisi semakin buas menggerogoti ruang publik. Lantas, apa memang sudah tidak ada cara yang lebih elegan untuk merebut kembali ruang publik?

Mengutip kata-kata Bansky, “tembok adalah senjata yang amat besar.” Senjata ini bisa kita pakai untuk membunuh orang lain, agar tidak mengancam eksistensi kita, atau justru untuk memerangi sebuah sistem yang licik.

Saya juga sadar bahwa tidak semua perjumpaan dengan kawan-kawan lama, adalah aktivitas yang membosankan. Bahwa tidak semua perjumpaan selalu dipenuhi dengan nostalgia. Tapi pertemuan bersama kawan lama bisa jadi alasan agar kita terus berkarya.

Bahwa perjumpaan bersama kawan lama, mungkin juga akan mengingatkan kita, akan selalu ada hal yang berubah. Misalnya seorang kawan yang dulunya tekun menggambar objek manusia secara realis, sekarang telah berubah 180 derajat menjadi seorang muslim yang taat, lalu tidak lagi mau menggambar makhluk hidup dalam karya-karyanya. Alasannya mungkin tidak cukup rasional. Bahwa jika tetap menggambar makhluk hidup, ia takut diminta untuk memberi nyawa pada tiap gambar makhluk hidup yang ia buat, saat bertemu Tuhan di akhirat kelak. Ngeri!

Beruntung perbedaan ideologi dan kadar keimanan antar seniman di skena street art semacam itu, tidak sampai memecah belah persatuan. Pun tidak menjadi satu bahan olok-olok atau gosip. Mereka masih berkumpul dalam ajang yang sama. Hadir dalam lingkaran untuk membuat warna dan nuansa baru.

Lebih dari itu, persatuan antar keyakinan agama dalam berkesenian hari ini mungkin sama pentingnya, dengan persatuan antar keyakinan agama dalam lingkaran warganet. Mimpi buruk bernama perpecahan atas nama keyakinan beragama dan ras, semoga cukup berhenti di lingkaran warganet saja. Karena kita pasti tidak ingin melihat karya mural dan graffiti di dinding jalan raya, berubah menjadi makian pemecah belah persatuan, apalagi dibakar oleh kepentingan pemilihan presiden pada 2019 nanti.

Tabik!