BAGIKAN

Saya bersama beberapa teman menaiki mobil bak terbuka menuju Sumber Candik, Jelbuk, Jember untuk berkunjung ke Sokola Kaki Gunung. Hari Sabtu. 4 Mei 2019 itu cerah, kami tiba beberapa menit sebelum matahari tenggelam.

Sokola kaki gunung merupakan wadah pendidikan alternatif yang ada di Jember, tepatnya di kaki gunung Argopuro, Dusun Sumber Candik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember. Sokola Kaki Gunung juga bagian dari Sokola Institut yang digagas oleh Butet Manurung dan mulai menjalankan program di Jember sejak tahun 2016. Tujuan saya bersama Kelompok Dongeng Litera dan dua teman lainnya pergi ke Sokola Kaki Gunung adalah untuk mendongeng pada peringatan hari pendidikan nasional.

Beberapa hari sebelumnya saya dan teman-teman Kelompok Dongeng Litera pernah berkunjung ke sana dengan menaiki sepeda motor. Kapok melewati jalan dengan akses susah, relawan Sokola Kaki Gunung menawarkan saya dan teman-teman naik mobil bak terbuka. Sebab tidak dapat berangkat pada 2 Mei 2019, kami putuskan untuk berangkat dua hari setelahnya dan mendongeng keesokan harinya yakni 5 Mei 2019.

Perjalanan sekitar satu jam saya habiskan untuk melihat pemandangan dari kota menuju desa di Kaki Gunung Argopuro. Mulai dari deretan mall, pom bensin, toko bangunan, hamparan sawah, sungai, pepohonan, pegunungan,hingga terlihat beberapa deretan rumah di kaki gunung.

Ini kali pertama saya menaiki mobil bak terbuka melewati jalur yang tidak mulus alias tronjal-tronjol. Semakin dekat dengan Sokola Kaki Gunung, akses jalan semakin sempit dan menanjak. Warga Sumber Candik biasa melalui berbagai jenis jalanan, mulai dari yang beraspal, berbatako, hingga bebatuan. Di tengah perjalanan, ada kabel listrik yang mengantung dari pohon satu ke pohon lainnya di pinggir jalan. Saya kaget karena posisinya dekat dengan kepala saya dan teman-teman ketika berada di atas mobil. Semoga kabel-kabel itu tetap bersahabat dengan manusia dan hewan sekitar.

Sekitar setengah jam perjalanan, saya melihat ada SDN Kamal 02 Jember disusul dengan SDN Kamal 03 Jember. Beberapa menit setelah itu ada SDN Panduman 03 Jember yang merupakan sekolah dasar terakhir di Sumber Candik, tempat anak-anak sekitar Sokola Kaki Gunung bersekolah. Sekitar 17 menit dari SDN Panduman 03 dengan kecepatan mobil 10 km/jam, saya dan teman-teman sampai di Sokola Kaki Gunung.

Begitu kami sampai, listrik mati, hidup, mati, dan beberapa menit kemudian hidup lagi. Maklum listrik dengan daya 900 watt digunakan oleh beberapa rumah. Paginya, listrik di Sokola Kaki Gunung masih mati.

Anak-anak sekitar akan berkumpul sekitar pukul 11.00, namun yang hadir hanya dua orang yakni Fadil dan Sa’adah. Sebab tidak banyak anak yang berkumpul, relawan Sokola Kaki Gunung mengajak kami ke rumah warga yang berjarak sekitar puluhan meter, untuk mendongeng di sana. Dongeng yang kami bawakan berjudul “Hutan Metaoh”. Dongeng ini tentang kehidupan hutan di mana penduduknya banyak yang tidak dapat membaca. Kami mencoba sampaikan pentingnya membaca huruf latin pada anak lewat dongeng “Hutan Metaoh”.

Usai dongeng selesai, saya mencoba berbincang-bincang dengan beberapa anak bernama: Alif, Faliq, Sa’adah, Fadil, Hasan, Rita, Indi dan yang lainnya. Saya bertanya bagaimana mereka mengakses jalan menuju sekolah mereka yakni SDN Panduman 03. Sa’adah, anak kelas IV menjelaskan, ia berangkat ke sekolah berjalan kaki bersama teman-temannya sekitar pukul 07.00 dan baru sampai sekolah pukul 08.00. Waktu tempuh untuk sampai ke sekolah sekitar satu jam dan mereka tempuh dengan cara berjalan kaki. Proses belajar di sekolah berlangsung dua jam, jadi tepat pukul 10.00 anak-anak akan kembali pulang ke rumah.

Ini jauh berbeda dengan sekolah tempat saya magang di tahun 2018. Anak kelas I sampai III akan masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 12.00 sedangkan kelas IV sampai VI masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 13.00. Hal berbeda lainnya, di SDN Panduman 03, anak dan guru tidak akan berangkat ke sekolah apabila hujan turun, sebab jalanan akan licin.

“Anak-anak akan memilih untuk tidak berangkat sekolah jika hujan,” ujar ibu dari salah satu anak yang datang melihat pertunjukan dongeng. Jadi jika hujan berlangsung setiap hari selama satu bulan, maka anak tidak akan berangkat ke sekolah selama itu pula.

SDN Panduman 03, yang tepat di depannya terdapat kandang kambing, hanya terdiri dari tiga ruang kelas yang masing-masing kelasnya dibagi menjadi dua kelas dengan batas dinding dari bambu. “Kelas I jumlah siswanya 68 anak, jadi dua meja itu biasa digunakan oleh empat sampai enam orang,” imbuh Tuti,salah satu relawan Sokola Kaki Gunung.

Saya membayangkan bagitu sempitnya fasilitas untuk belajar. Saya bersyukur masih bisa belajar dengan tempat nyaman. Ini hanya soal fasilitas, belum sistem sekolah yang pada umumnya memaksa anak untuk dapat menguasai seluruh mata pelajaran dengan jumlah guru hanya lima orang. Meraka berasal dari daerah bawah (bukan daerah Sumber Candik).

Sa’adah, Alfi, Hasan, Rita, Faliq, Indi dan Faldi mengaku lebih suka belajar di Sokola Kaki Gunung. Faldi menilai jika pergi ke Sokola Kaki Gunung lebih mudah aksesnya dan tidak butuh tenaga lebih dibandingkan dengan ke SDN Panduman 03. “Kalau sekolah ke bawah (SDN Panduman 03) capek,” Ujar Faldi. Sedangkan Faliq mengaku lebih suka di Sokola Kaki Gunung karena lebih banyak makanan. Sa’adah menambahkan, jika di Sokola Kaki Gunung akan belajar banyak keterampilan, seperti belajar merajut, memasak, dan menjahit, sedangkan di SDN Panduman 03 tidak.

Sebetulnya saya jenuh dengan sistem pendidikan yang mengekang anak. Saya sempat bertengkar dengan guru saya sendiri ketika SMA karena hal sepele mengenai metode belajar. Adik saya juga putus sekolah mulai kelas IX SMP hingga sekarang, karena terlalu banyak tuntutan.

Fawas Al Batawy, penulis buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin, ketika diskusi mengenai bukunya menyinggung mengenai sistem pendidikan. Ia mengatakan, walau banyak orang yang menolak sistem tapi juga ada beberapa yang menerima sistem yang mengekang itu. Hadirnya pendidikan alternatif seperti Sokola Rimba, Sokola Kaki Gunung dan sebagainya adalah salah satu cara untuk menyelesaikan problema pendidikan perihal sistem itu.

“Saya lebih butuh cara menyebrang jalan yang diajarkan oleh Bapak Satpam ketika saya masih SD, daripada mengetahui jarak bumi ke matahari,” ujar Fawas. Jadi tidak salah jika ketika saya magang, ada anak yang tertidur di kelas, lari-lari keluar kelas, atau memilih bermain karena bosan. Beberapa dari mereka ada yang kesulitan membaca dan sering remidi ujian. Hal itu karena sistem yang mengekang, yang mengharuskan guru membuat anak pandai di semua mata pelajaran dan mendapat nilai sempurna untuk bisa naik kelas.