BAGIKAN

Tulisan ini saya dedikasikan untuk mbak-mbak dan dedek-dedek emes yang kerap nangis nderu-nderu saat diputusin. Juga para jomblo yang merasa paling nestapa karena tak kunjung menemukan pujaan hati, sedangkan mantan sudah melenggang dengan pasangan barunya.

Cekidot.

Beberapa hari ini, kita kerap bertemu kemarahan di media sosial. Kemarahan itu karena mencuatnya kasus YY, remaja 14 tahun yang tewas setelah diperkosa 14 laki-laki. Sebuah kejahatan yang tidak manusiawi ini terjadi di Bengkulu. Untuk YY kita pantas menangis. Tapi, kamu yang ditolak 14 gebetan jangan pernah menangis, terus berjuang, dek. Karena kamu tidak akan mati jika ditolak. Nah, jangan lupa siapkan wajan yang tebalnya 15 cm untuk menutupi wajahmu.

Dari kasus YY kemudian muncullah nama Sumarijem atau Sum Kuning (baru mengdengar namanya? Saya juga) Ia hidup pada tahun 1970-an di Yogyakarta. Sum menjadi korban pemerkosaan oleh belasan laki-laki pada usia 18 tahun. Pelakunya diduga anak-anak pejabat setempat. Dengan kekuatan hukum yang super ajaib tersangka menyusut jadi empat orang.

Sum sempat disuap agar tidak melaporkan kasus ini namun ia menolak. Selama persidangan Sum dipaksa membuat keterangan palsu, ia harus mengatakan pemerkosanya adalah tukang bakso. Setelahnya, pengadilan justru menjadikan Sum terdakwa atas laporan palsu. Bagaimana coba psikologi perempuan dalam posisi seperti Sum, ia tidak hanya menjadi korban pemerkosaan tapi juga korban kebejatan hukum. Sum diPHP hukum, lah kamu diPHP cowok sudah mau bunuh diri.

Percayalah, melihat penjahat pemerkosaan bebas dari hukuman itu lebih menyakitkan dibanding melihat mantan mengandeng orang lain di pelaminan. Masih merasa paling nestapa? Hemb, mungkin di antara kalian ada yang merasa pantas bersedih. Merasa sudah keluar modal banyak tapi masih diputusin karena tidak dapat restu dari orang tua doi? Nih, ada Marsinah.

Marsinah adalah buruh perempuan di perusahaan jam tangan PT Catur Putera Surya (CPS) desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Ia ditemukan tewas pada 8 Mei 1993 setelah tiga hari menghilang. Pada mayatnya ditemukan bercak darah, dugaan penyidik ia diperkosa sebelum dibunuh. Pada versi lain menyatakan kelamin Marsinah ditembak peluru. Marsinah dibunuh karena keberaniannya menuntut kenaikan gaji pada pimpinan PT CPS. Bersama buruh lainnya ia melakukan demonstrasi dan aksi mogok kerja pada 3 Mei. Gaji buruh dinaikkan tapi Marsinah menghilang sejak 5 Mei.

Pelaku pembunuh Marsinah diketahui orang-orang CPS. Yudi Susanto, pemilik PT CPS dan beberapa stafnya diadili. Mereka lolos dari segala tuntutan ditingkat pengadilan Mahkama Agung. Lagi-lagi hukum menunjukkan kehebatannya membela penjahat. Marsinah, perempuan 24 tahun ini berjuang sampai mati, kamu belum mati saja sudah menyerah dapetin hati calon mertua.

Gimana, masih merasa paling nestapa? Oke, simak yang berikut. Ini untuk kalian yang sudah dijanjikan nikah sama pacar tapi ternyata ditinggal nikah dengan orang lain. Tidak perlu merasa dunia akan kiamat karena ada janji yang lebih manis dari itu.
Pernah baca buku berjudul Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer? Saya baru baca minggu lalu. Buku ini ditulis Prameodya Ananta Toer saat berada di Pulau Buru, tempat ia diasingkan. Pram mengisahkan tentang perempuan yang menjadi korban kebejatan tentara Jepang saat menjajah Indonesia.

Cerita singkatnya begini: Pada tahun 1944, Nippon atau Jepang menjanjikan para perempuan Indonesia sekolah gratis ke Tokyo. Sebagian dari perempuan itu pergi dengan harapan besar, kembali ke tanah air dengan gelar pendidikan tinggi. Sebagian lagi berangkat dengan terpaksa karena keluarga mereka diancam tentara Jepang. Jumlah mereka ratusan, diangkut dengan kapal yang ternyata tidak ke Tokyo melainkan ke barak-barak tentara Jepang. Perempuan-perempuan itu usianya antara 13 hingga 20 tahun. Mereka dijadikan budak seks bagi tentara-tentara Jepang.

Setelah Jepang kalah, merdekalah Indonesia tahun 1945. Tapi para perempuan itu belum merdeka. Meskipun sudah bebas dari Jepang mereka tak lantas kembali ke kampung halaman. Rasa malu karena sudah tidak perawan serta takut dapat mempermalukan keluarga membuat mereka tidak berani pulang. Sebagian memilih menikah dengan penduduk sekitar tanpa cinta, asalkan mereka bisa hidup. Tinggal di tengah adat patriarkis yang melarang mereka berbicara dengan orang di luar penduduk adat. Pram bertemu beberapa dari mereka di pulau buru sekitar tahun 1979 atau 35 tahun sejak mereka dijauhkan dari keluarga. Mereka hidup dalam keterasingan bahkan sampai menua dan mati.

Menyedihkan bukan? Banyak kisah menyedihkan terjadi di luar sana. Maka berhentilah menekuri nasib sendiri. Berhentilah membuat status galau tingkat dewa di media sosial. Kalau kalian belum juga move on segeralah cari warung kopi kelas proletar. Kenapa harus warung kopi kelas proletar? Karena disana banyak kakak-kakak aktipis jomblo yang siap memberikan pundaknya untukmu.