BERBAGI

Peter Jackson, penulis naskah serial film The Hobbit, menggambarkan sosok Troll sebagai monster raksasa. Tinggi badannya sekitar tiga hingga lima meter. Kulitnya penuh dengan lipatan, kerutan, dan lemak. Mulutnya penuh dengan lendir. Gerakan tubuhnya lamban meski tenaganya lebih kuat dari manusia normal. Orang-orang Skandinavia percaya bahwa Troll hidup di dalam goa-goa gelap atau di bawah tanah.

Tetapi sejak era internet, banyak orang percaya para Troll telah keluar dari goa. Mereka menggunakan kata-kata hujatan sebagai senjata untuk mendapat kepuasan.

Mengapa para Troll memutuskan keluar dari goa? Saya membayangkan mereka bangkit dari tidurnya di goa, karena mereka gelisah dengan perilaku manusia. Mungkin juga prihatin karena umat manusia lebih banyak menyibukkan diri dengan kedirian mereka. Lebih banyak mengutuki mantan pacar yang menolak diajak balikan, menyebarkan berita palsu (hoax) di internet hingga warung kopi, atau karena masa studi mahasiswa di perguruan tinggi dibatasi hanya empat tahun. Tetapi saya masih belum paham betul mengapa para Troll memutuskan keluar dari goa. Mungkin kita bisa menemukan alasannya dengan cara menelusuri jejak kaki para Troll dan melacak keberadaannya.

Setelah tahun 2000-an, Troll sering muncul di media sosial, blog, hingga kanal berita online. Terutama setelah media sosial seperti Facebook dan Twitter terkenal di kalangan dedek gemes. Sebuah penelitian di bidang Ilmu Komputer Universitas Cornell pernah menjelaskan perilaku dan kemunculan para Troll. Penelitian itu melibatkan doktor serta pengajar di Universitas Stranford dan Universitas Cornell. Empat peneliti itu mengundang 667 responden untuk bergabung dalam sebuah platform. Ratusan orang yang tergabung diminta menjawab beberapa pertanyaan serta membaca artikel yang sama, kemudian berdiskusi atas apa yang telah mereka baca. Beberapa orang memberi tanggapan netral. Tetapi setelah muncul satu komentar trolling, sebagian besar responden ikut melontarkan tanggapan yang melecehkan, julukan nama untuk seseorang, dan rasis.

Para Troll tidak muncul sebagai raksasa buruk rupa. Namun mereka muncul dalam bentuk kalimat-kalimat sampah dan melecehkan, seperti “mukamu kayak anjing masuk comberan!”

Bisa juga seperti komentar para pembenci Awkarin. Lebih parah memang. Karena pemilik akun tidak menyebutkan identitasnya. Tidak bertanggungjawab dengan dampak dari kalimat umpatan bernada seksis dari mulutnya. Meski sebatas lelucon, beberapa percobaan bunuh diri justru bisa berawal dari lelucon seksis yang terlanjur biadab. Barangkali mereka menganggap lelucon receh semacam itu wajar. Selain merasa mendapat hiburan, mungkin mereka tidak sadar bahwa laku tersebut adalah perilaku para Troll.

Tidak hanya melakukan pelecehan seksual, para Troll juga doyan menyebar berita palsu. Tentu saja untuk memenuhi kebutuhan investasi intelektual jangka pendek mereka. Bahwa dengan menyebarkan kabar bombastis, persentase kekerenan mereka akan meningkat. Kemudian ia akan disukai banyak orang atas kabar burung yang ia lempar kepada publik.

Misalnya kabar dan informasi dari media online penyebar kebencian serta diskriminasi terhadap suku, agama, ras, dan golongan tertentu. Troll kemudian akan muncul pada momen-momen seperti ini. Mereka akan memantik debat kusir dengan api bernama provokasi.

Mengapa banyak Troll di sekitar kita? Para peneliti dari Universitas Cornell menyebut aktivitas trolling atau menyebar berita palsu dan melempar komentar bernada melecehkan, dipengaruhi oleh perasaan (mood) seseorang. Pada kondisi perasaan yang terpuruk, seseorang lebih suka melakukan trolling. Misalnya men-stalking dan berkomentar di akun media sosial orang lain untuk melecehkan dan merendahkan. “Seseorang dengan mood buruk akan ngotot dan terbawa perasaan mereka … Jika mereka terlibat dalam diskusi, mereka hanya ingin melontarkan bualan-bualan.”

Selain itu, para Troll akan selalu terpancing untuk saling menanaggapi komentar Troll lainnya. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa aktivitas para Troll akan makin banyak muncul dalam waktu tidak produktif. Aktivitas para Troll paling banyak dilakukan pada pukul dua dini hari. Mulai meningkat sejak pukul enam sore, hingga sepuluh malam.

Sebetulnya bukan perkara sulit jika di lini masa media sosial kita penuh dengan para Troll. Hampir semua platform memiliki fitur untuk menghapus pertemanan, filter, dan pemblokiran. Mau menonaktifkan jaringan media sosial pun mudah. Tetapi akan menjadi sulit jika aktivitas para Troll telah bermigrasi di lingkungan akademis seperti kampus, cafe-cafe hits, dan warung-warung rakyat miskin kota. Jika sudah demikian, maka khilafah solusinya!