BAGIKAN

“Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia.” (Ali bin Abi Thalib)

Ini bukan kajian menjelang buka puasa atau tips-tips khusus agar cepat melupakan mantan. Seperti kata Bang Ali di atas, berharap pada manusia itu pahit.  Sudah nyaman, tahu-tahu ditinggal nikah bersama yang lain. Sudah didampingi sejak awal, tahu-tahu mencalonkan sebagai wakil gubernur bersama yang lain. Sudah baca dari awal sampai akhir, ternyata isinya spam-spam menyayat hati, seperti kisahmu dengan dia. Hmm!

Jadi begini, menjelang akhir kuliah, setelah meninggalkan skripsi selama setahun lamanya, saya merasakan apa yang mungkin juga Anda rasakan: bosan dengan pertanyaan kapan lulus, kapan nikah atau kapan membeli kantong kresek yang besar untuk mengantongi pertanyaan-pertanyaan yang terus berdatangan. Selain itu saya lebih bosan lagi membayangkan harapan yang dibebankan di pundak, mulai dari  orang tua hingga negara. Terlebih jika kita menjadi calon sarjana pertanian layaknya saya.

Dulu, saya sempat melewati fase orientasi mahasiswa baru. Pakai hitam putih, nurut apa kata senior, ketawa haha-hihi, menangis sesekali karena sering kangen emak di kampung halaman, mendengar orasi Dekan, sampai mengikuti beberapa kajian serta serangkaian acara lain yang sedikit membosankan. Saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian. Fakultas yang digadang-gadang menjadi mesin pencetak manusia pemecah masalah pertanian di negeri agraris yang mulai diragukan lagi keagrarisannya ini.

Memasuki semester-semester awal, saya mulai mendapat mata kuliah yang isinya mengenai masalah-masalah pertanian di Indonesia. Mulai dari masalah distribusi pupuk, fluktuasi harga, tergesernya produk lokal akibat gempuran produk impor, terlalu panjangnya rantai pemasaran, tercekiknya petani gurem hingga kasus agraria lainnya. Saya rasa semua mahasiswa pertanian sepakat, bahwa permasalahan pertanian di Indonesia sudah begitu kompleks. Meski begitu saking banyaknya praktikum dan laporan, membuat kami jadi jarang sekali membaca berita-berita terbaru, tentang politik hingga berita pertanian sekalipun. Sesekali membaca, itupun karena tugas dari dosen ataupun tugas dari asisten dosen. Di luar itu kami sibuk revisian laporan, sibuk bertukar referensi untuk tinjauan pustaka, sibuk memastikan minggu depan kita tak dapat in-haln (semacam sanksi jika tak menjalankan tugas asisten sesuai aturan praktikum) dan sibuk menyempatkan kencan bagi yang memiliki pasangan. Jika pun turun ke lapang untuk wawancara petani, ya hanya sekedar memenuhi tuntutan laporan ataupun penelitian. Selebihnya, dunia kami tak jauh-jauh dari lingkaran kampus yang Sabtu-Minggu masih sering ada praktikum itu.

Saya ingat di sekitar akhir bulan September 2015, mencuat kasus penganiayaan Salim Kancil. Dalam perkuliahan kasusnya tergolong ke dalam konflik agraria. Banyak aksi solidaritas di mana-mana. Tapi obrolan tentang Salim Kancil di fakultas kami sangat jarang sekali. Mungkin sama seperti fakultas lain yang topik tersebut hanya diperbincangkan oleh beberapa orang saja. Jangankan aksi solidaritas, bahkan ada yang baru tahu berita tersebut ketika sudah berjalan beberapa bulan setelahnya. Konflik agraria merupakan salah satu permasalahan paling rumit di pertanian. Tentu diskusi ini akan lebih mencerahkan jika banyak akademisi pertanian dilibatkan. Saya sedikit sedih, lebih banyak anak fakultas lain bercakap tentang petani Kendeng hingga kasus N.Y.I.A, daripada mahasiswa di fakultas saya sendiri.

Bertambah tahun konflik agraria bukan menurun namun sebaliknya, semakin banyak saja. Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat terjadi 659 konflik agraria sepanjang 2017, dengan luasan lahan mencapai 520.491,87 hektar (ha). Jumlah konflik agraria meningkat 50 persen dibandingkan 2016. Tapi topik seperti ini tetap dingin di fakultas kami. Kalah panas dengan topik mengenai penemuan teknologi untuk peningkatan produksi, kemajuan IPTEK yang bekerja sama dengan luar negeri, sampai pengembangan program pengabdian masyarakat yang anggarannya syarat dengan bantuan dari program Dikti. Semua itu lebih menarik untuk didiskusikan di fakultas kami. Buat apa bahas kasus agraria yang tiada ujung pangkalnya. Wong pemerintah saja tak bisa tuntas menyelesaikannya hingga hari ini. Mending mikirin kapan kamu melamarku, Mas~

Masih ada yang teriak swasembada saat lahan yang ditanami dalam jangka waktu lama akan digusur untuk sebuah bandara. Banyak petani yang harus berjuang mati-matian agar lahannya dapat tetap ditempati bersama keluarga.  Rumah yang didiami sekian lamanya harus ditinggalkan demi memenuhi keinginan segelintir pemilik modal saja. Lahan berkonflik antara pemodal dan petani dijaga ketat oleh aparat. Jika ‘melawan’ bisa jadi nasibnya tak akan selamat. Lagian ngapain bingung-bingung mikirin itu, ditinggal dosen keluar kota dan skripsinya ditelantarkan berhari-hari saja kami sudah mengeluh, merasa paling menderita di dunia.

Sering saya cemas jika suatu saat nanti lulus menyandang gelar sarjana pertanian yang tak paham-paham amat tentang pertanian. Tapi sepertinya saya lebih takut dengan harapan-harapan yang dibebankan orang lain pada saya. Saya sendiri pernah begitu kecewa karena terlalu menggantungkan harapan pada orang lain. Tak hanya pada mantan tapi juga pada teman, pejabat di pemerintahan hingga sopir bus. Berharap diantarkan sampai tujuan, ternyata diturunkan di salah satu terminal dan harus di-‘oper’ lagi ke bus lainnya berkali-kali. Hingga hari itu saya enggan lagi berharap pada apa saja termasuk pada bus dan sopirnya sekalipun.

Menjadi sarjana pertanian juga tak se-hero yang kalian bayangkan. Ketika Jokowi pidato di Acara Dies natalies IPB ke-54 menyinggung banyaknya lulusan pertanian yang bekerja di bank dan sedikit sekali yang menjadi petani, cukup mengecewakan bagi saya. Bukan karena saya juga bercita-cita untuk bekerja di bank, tapi lebih karena: memang kenapa kalau kami tak mau jadi petani? Saya rasa semua sarjana bebas menentukan pilihannya untuk bekerja di bidang apa.

Kalian menyalahkan lulusan pertanian yang bekerja di perbankan tapi lupa jika masih banyak penyuluh pertanian di negeri ini yang hidupnya belum sejahtera. Masih banyak petani yang bingung bagaimana mendapatkan lahannya kembali. Tak heran kalau banyak teman saya selepas lulus memilih bekerja di bank, perusahaan-perusahaan bergengsi ataupun memilih menjadi mandor di perkebunan sawit. Jangankan dapat memperbaiki carut marutnya pertanian bangsa, memutuskan untuk menjadi petani atau memilih bekerja di sektor ini saja banyak dari kami yang masih harus pikir-pikir lagi. Jangan terlalu berharap pada kami yang semasa kuliah terlalu sibuk merampungkan laporan praktikum sampai tak punya waktu membaca berita konflik agraria. Sekali lagi jangan!

Dan saya juga bukan calon sarjana pertanian sesuai harapan Anda. Saya tak paham-paham banget cara menanam yang baik dan benar, atau bagaimana memilih buah di pasar yang berkualitas. Saat pulang ke rumah bapak, saya bilang ingin membuat pupuk dari kotoran kambingnya. Saya menyarankan padanya untuk mengolah kotoran itu  dengan berbagai cara agar tak menimbulkan panas pada akar tanaman akibat disiram kotoran kambing yang belum matang. Saat ditanya bagaimana tahap-tahapnya, diam-diam saya mencari di internet. Ya, saya calon sarjana pertanian yang masih jauh dari harapan bapak saya sendiri.

Jangan terlalu berharap pada kami yang turun ke sawah hanya saat praktikum dan penelitian. Praktik menanam padi saja masih belum bisa lurus meski sudah disediakan lajur. Terlebih pada mahasiswa Prodi Agribisnis seperti saya yang kadang mengambil jatah bolos untuk tidur setelah semalaman lembur laporan. Tentang teknik bercocok tanam tak begitu pakar, tentang pemasaran produk pertanian juga masih membuka diktat lagi di awal perkuliahan.

Tapi setidaknya kalaupun nanti tak bekerja jadi petani kami sedikit paham akan pentingnya menanam cabai sendiri di belakang rumah agar tak kebingungan saat harganya melambung tinggi. Biar tetap kuat menghadapi kenyataan, tak mudah menggantungkan harapan pada siapa pun. Saat hidup mengecewakan lalu perut lapar, tinggal petik cabai belakang rumah lalu menyulapnya menjadi sambel terasi yang dihidangkan dengan nasi hangat plus ikan teri. Mengenai teknik menanam dan perawatannya, sudah saya bilang tadi, bila lupa bisa berguru di internet. Oya, saya sudah sidang dan sedang menunggu wisuda pada gelombang berikutnya. Tapi ada satu hal yang bisa diharapkan dari saya;

Saya siap menjadi ibu dari anak-anakmu dan siap melawan setan tanah yang bisa memporakporandakan keluarga kita, Mas. Jadi gimana, masih mau berharap pada saya?