BAGIKAN

Jika Anda orangnya jijikan dan gampang muntah, saya sarankan segera menekan tombol X di pojok kanan atas layar Anda. Tapi jika ngotot ingin membaca, sok atuh!

Tai seringkali dianggap benda yang menjijikan, tidak sedikit juga yang menganggap tai tidak elok untuk dipublikasikan. Maka tidak heran tai mengalami peyorasi makna. Kata tai berubah menjadi kata makian. Anda mungkin pernah dihujat “Tai loe” atau “Taek koen”.

Padahal kita, yang merasa manusia, setiap pagi mengeluarkan benda ini. Siapapun dan kapanpun pasti selalu membawa feses dalam perut, tak terkecuali Ahok dan Habib Rizieq.

Anda pasti akrab dengan benda menggelikan itu. Setiap hari Anda memegang (minimal ketika cebok) dan mencium bau tai. Tai selalu ada dalam setiap kehidupan makhluk hidup. Setiap makhluk hidup pasti memproduksi tai.

Namun, pernahkah Anda membayangkan kemana tai yang setiap hari dikeluarkan itu bermuara? Bayangkan juga, manusia yang tinggal di planet bumi ini berjumlah lima milyar dan kesemua-mua mereka itu mengeluarkan tai. Lantas, kemana dan menjadi apa tai-tai itu?

Mari kita bikin perhitungan matematis. Penduduk Indonesia saat ini berjumlah 270 juta jiwa. Menurut data dari Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP), manusia setiap hari mengeluarkan kurang lebih 25-250 gram tai. Itu untuk satu orang. Kalikan dengan 270 jumlah penduduk tadi, maka akan keluar hasil 6.750 ton tai yang dihasilkan setiap hari. Lalu, jumlahkan lagi dengan 365 hari (satu tahun), maka jumlah produksi tai nasional kita mencapai angka 24.03.000 ton (dua puluh empat juta tiga ribu ton). Masih jauh dari jumlah produksi beras nasional  kita yang hanya mencapai 12,6 juta ton pada tahun 2016. Bisa dibilang, setiap tahun kita swasembada tai.

Lantas, kemana perginya tai sebanyak itu?

Tanah atau septic tank yang menjadi tujuan akhir tai, menyerap benda yang mengandung Esherichia colli (Double L lho, ya) itu. Tanah, tempat kita tinggal dan berpijak ini, juga menjadi tempat hidupnya pepohonan dan sayuran. Dari kedua jenis tumbuhan itulah kita menghirup oksigen dan mengonsumsi sayur. Jadi, apapun yang masuk ke dalam tubuh kita, tidak terlepas dari peran serta tai.

Saya akan mengajak Anda ke masa lalu, tepatnya tahun 1908. Masa itu, Negara Tiongkok sudah memanfaatkan tai sebagai pupuk tanaman petani. Dewan Kota Shanghai menjual hak mengumpulkan tai kepada seorang pengusaha seharga 31.000 keping emas. Emas sodara-sodara, dan itu digunakan untuk menukar tai seberat 78.000 ton. Tai-tai itu dijual ke petani di desa sebagai pupuk. Anda pernah membayangkan memakan sayur yang dipupuk tai?

Di Jepang lebih parah lagi. Negara asal Miyabi ini pernah mengaplikasikan tai sebagai pupuk ke seluruh daratan di Jepang. Tak tanggung-tanggung, tai sebanyak 23.850.295 ton disebarluaskan.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tampaknya perlu sedikit bersyukur pernah di jajah Belanda. Penjajah, waktu pertama kali datang, geleng-geleng kepala melihat cara berak pribumi. Penjajah mewariskan suatu budaya yang amat sangat berarti, yaitu Jamban.

Ada untungnya juga Jepang belakangan masuk ke Indonesia. Jika mereka lebih dulu dari Belanda, bisa jadi saat ini kita anteng-anteng saja makan nasi yang dipupuk tai.

Bagi Anda pendukung garis keras Habib Rizieq atau fans fanatik Ahok, tidak usah lagi menuduh kubu lain sebagai kubu yang penuh dosa dan mendaku diri paling suci (Kok jadi Awkarin). Karena, apapun agamamu, gelarmu, pilihan politikmu, kita semua hidup dari benda (yang katanya) menjijikan itu.

Anda juga tidak usah lagi menuduh diri paling jelek karena gebetan ditikung orang lain. Sebab, seburuk apapun rupa Anda dan seganteng apapun yang menikung Anda, mulanya berasal dari benda yang kamu keluarkan saban pagi.

Mulai detik ini, jika ada yang memanggil Anda Tai, baleslah dengan senyuman. Tidak ada alasan untuk marah. Tapi kalau tidak ada, mintailah teman atau ibu kos untuk memanggil Anda Tai. Dengan begitu Anda akan selalu sadar bahwa saya, Anda dan mereka, tumbuh menjadi besar karena Tai. Berterimakasihlah pada Tai.

Urip mung mampir nelek, cuk.