BAGIKAN

Masih ingat Zaskia Gotik yang menyebut bebek nungging sebagai lambang sila ke-5 Pancasila lalu pada akhirnya diangkat menjadi Duta Pancasila? Masih ingat juga sama Sonya Depari yang diangkat jadi Duta Anti Narkoba karena mengaku anak seorang jendral di Badan Narkotika Nasional saat beradu mulut dengan seorang Polwan? Saya kira ingatan para pembaca masih kuat, karena masih sering galau mengingat masa-masa indah bersamanya.

Kali ini saya punya harapan besar, ada satu tokoh lagi yang akan diangkat menjadi duta. Tapi bukan Duta Sheila On 7 ataupun duta sampo lain. Harapan saya terletak pada salah satu sosok Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar, yang akhir-akhir ini berhasil menggeser sosok Ahok dan Habib Rizieq di berbagai media.

Patrialis yang punya sepak terjang di dunia perpolitikan ini menurut saya sangat amat punya kemungkinan menjadi seorang Duta. Lihat saja kariernya yang cemerlang; pernah menjadi dosen, pernah menjadi Wakil Ketua Fraksi Reformasi DPR RI, pernah juga menjadi Mentri Hukum dan HAM jaman Peponya Mas Agus Yudhoyono, dan semuanya menjadi lengkap ketika Patrialis terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi dengan dugaan praktik korupsi terkait perkara sengketa Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Jika Zaskia Gotik dan Sonya Depari bisa menjadi seorang Duta karena kesalahan mereka, kenapa tidak dengan Patrialis?

Tak hanya kariernya saja yang cemerlang, Patrialis juga punya tabiat yang sangat baik. Bayangkan, menurut laporan media, dia ditangkap di sebuah pusat perbelanjaan saat sedang mentraktir seorang perempuan yang bukan istrinya. Tak tanggung-tanggung, Patrialis mentraktir perempuan itu kosmetik yang biasa dipakai oleh aktor dan aktris Hollywood. Hollywood sodara-sodara, bisa memperkirakan berapa harganya, kan?

Betapa Patrialis sungguh baik hatinya. Karena bukan cuma kosmetik, kabarnya Patrialis juga menjanjikan akan membelikan apartemen untuk perempuan tersebut. sungguh kemurahan hati yang haqiqi.

Saya bisa membayangkan betapa royalnya Patrialis kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Sampai-sampai istrinya memberi keterangan ke media bahwa Patrialis adalah orang yang baik hati.

“Bapak orang baik, doain saja, doain ya,” ujar Sufriyeni, istri Patrialis kepada wartawan Tempo.co.

Sama sekali seperti tak ada kecemburuan dari Sufriyeni ketika mengetahui suaminya ditemukan sedang bersama perempuan lain di sebuah pusat perbelanjaan. Ini tandanya Patrialis punya keluarga yang harmonis. Sangat cocok menjadi seorang Duta.

Reputasinya di media pun sangat mengejutkan. Sebelumnya, Patrialis juga sangat getol memerangi LGBT di berbagai pemberitaan media. Lalu sekarang sosoknya mulai ramai lagi di media. Ini adalah strategi yang pas jika ingin menjadi seorang Duta.

Sama seperti Zaskia Gotik dan Sonya Depari yang viral di berbagai media sebelum menjadi seorang Duta. Kurang apa coba Patrialis untuk menjadi seorang Duta? Viral di media sudah. Karier yang bagus, punya. Sepak terjang perpolitikan, sangat cemerlang. Kurang apalagi coba?

Mau bilang kalau Patrialis gak pantas jadi seorang duta karena terjerat kasus korupsi? Nonsense dong, Zaskia Gotik dan Sonya Depari juga jadi seorang duta karena kesalahan mereka kok. Apalagi Patrialis juga mengaku bahwa dugaan korupsi yang menimpa dirinya adalah sebuah upaya dzolim yang dilakukan terhadap dirinya. Sekarang kan lagi jaman upaya mendzolimi, lha wong lagu Padamu Negeri yang gak ikut apa-apa saja didzolimi sama kakek Taufik Ismail kok. Karena semua akan terdzolimi pada waktunya.

Jadi kita harus melihat sisi positif yang ada di balik semua yang menimpa Patrialis. Seperti apa yang dilihat oleh para politisi yang sudah mengangkat Zaskia Gotik dan Sonya Depari sebagai seorang Duta. Coba lihat tabiat baik Patrialis, dia mau menyedekahkan sedikit uangnya untuk membelikan kosmetik dan apartemen bagi seorang perempuan yang menemaninya tertangkap tangan di sebuah pusat perbelanjaan. Lihat juga bagaimana tanggapan kesetiaan istrinya setelah mengetahui hal tersebut.

Sebagai orang yang beragama –selanjutnya menjadi agnostik ya terserah- kita telah diajarkan untuk tidak menghakimi umat lain. Sebelum proses hukumnya berjalan, kita harus tetap menutup rapat-rapat prasangka buruk terhadap Patrialis. Bukan tidak mungkin setelah proses hukum berjalan ternyata Patrialis tidak terbukti bersalah. OTT itu tidak mutlak seperti kata kakanda Fadli Zon di media. Kita harus menghargai hukum dong. Jangan sampai kita terjebak pada hukum jalanan yang menghakimi tersangka sebelum dipastikan menjadi terdakwa. Tidak ada beda maling ayam atau pezina dengan seorang hakim di depan mata hukum. Masih ingat kan dengan asas hukum yang mengatakan hal demikian?

Terlebih kita telah menjatuhkan pandangan hina pada sang Patrialis. Sosok yang dikabarkan mempunyai pesantren. Sebuah tempat menimba ilmu para umat calon penerus sebagai penyampai butir-butir suci ajaran agama. Apakah kita benar-benar yakin menjatuhkan pilihan untuk tidak takut panasnya api neraka? Serius yakin? “Saya bukan ahli surga tapi takut panas api neraka,” petikan syair oleh Abu Nawas. Menurut teman-teman saya di warung kopi sih, gitu.

Saya memberikan dua logika pledoi atas sang Patrialis. Pertama menggunakan logika ala politisi ngehek yang telah mengangkat Zaskia dan Sonya menjadi seorang Duta. Logika yang tidak masuk akal, namun menjadi masuk akal berkat kekuasaan yang mereka miliki. Logika selanjutnya yang saya pakai adalah normatif-hirarki-religius. Bahwa tidak masalah sang Patrialis mendapat turunan sifat-sifat setan. Namun kita tidak boleh membenci sosok Patrialis. Masih ingat Tuhan yang maha pengampun dan Maha lapang dalam menerima tobat dari umatnya? Kita harus bersikap adil dong kepada sosok hakim yang selalu menegakkan panji-panji keadilan. Bukan begitu?

Kita bisa melihat kesetiaan seorang istri dan royalnya seorang suami pada sang Patrialis. Maka patutlah kita mengangkat Patrialis Akbar sebagai seorang Duta Anti Selingkuh.

Takbir!