BAGIKAN

Sidang pembaca siksakampus yang dirahmati Allah

Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan begitulah kira-kira yang sering saya dengar dari orang-orang. Tapi saya masih ragu dengan pernyataan-pernyataan tersebut, dan ente boleh saja untuk tidak menyetujuinya. Bukan berarti saya menghakimi dan menyalahkan tuhan, tapi lebih pantas menyalahkan ente sekalian dalam menafsirkan pernyataan di atas. Tidak termasuk saya karena sudah bertaubat sebelum menulis tulisan ini. Haha…

Bulan Ramadhan sudah selayaknya diisi dengan hal-hal yang bisa mendatangkan pahala, bukan malah sebaliknya. Saya mengapresiasi sekali orang-orang yang sudah melakukan hal tersebut, tapi akan lebih baik hal-hal yang biasanya dilakukan selama bulan Ramadhan tetap dilakukan selama satu tahun penuh, jangan malah cuma di bulan Ramadhan saja.

Tapi uniknya kebanyakan orang, termasuk saya menggunakan prinsip ekonomi dalam beribadah. Termasuk di dalamnya ibadah puasa. Bayangkan saja, ketika terdapat pernyataan bahwa selama bulan Ramadhan semua amalan baik akan dilipatgandakan pahalanya, maka semuanya akan berlomba-lomba baca Al-Qur’an yang biasanya tidak pernah dibaca dibulan-bulan selain Ramadhan, orang-orang akan macak alim dengan mengenakan jilbab, hijab, kerudung, atau apalah namanya bagi yang muslimah dan kopyah untuk laki-laki.

Untuk apa coba? Semua itu dilakukan untuk mendapatkan surplus pahala sebanyak-banyaknya dan mengharap devisit dosa. Wah, sudah luar biasa sekali manusia bisa mengakali tuhan dengan menggunakan prinsip untung-rugi yang biasanya kita kenal dalam ilmu ekonomi. Bukan berarti saya mereduksi persoalan agama dengan ekonomi, ini hanya permisalan saja. Karena ekonomi dan agama tidak hanya berkutat pada persoalan untung-rugi pun juga keduanya berada di ranah yang berbeda, bukan lagi masalah bagaimana mendapatkan nilai-lebih atau surplus value sebagimana konsep ekonomi Marx.

Manusia sebagai homo economicus wajar saja saya kira untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut bersifat tak terbatas dan beragam bentuk serta jumlahnya, satu kebutuhan terpenuhi selanjutnya akan muncul kebutuhan lain. Tapi jangan dicampuradukkan dong. Meminjam istilah Hizkia Yosia Polimpung masalah konsep onto-teologi dan onto-antropologi. Ga adil tuh kata anak fakultas hukum.

Ente berbuat baik akan diganjar pahala, berbuat dosa ya jangan mengharap pahala. Ente berbuat baik satu kali jangan harap bisa menghapus dosa yang sudah dilakukan sebelumnya. Dicek dulu dong, dosa apa yang sudah dilakukan. Kalau ente senangnya main ‘kuda-kudaan’, ya jangan harap dosanya akan dihapuskan dengan sholat yang masih bolong-bolong seperti saya ini.

Biar lebih mudah saya beri contoh. Anggap saja seperti halnya ente menabung 500 perak (berbuat baik) sehari, selama setahun dan menghasilkan uang 200 ribu. Dari uang hasil tabungan tersebut ente punya rencana membeli handphone terbaru yang harga awalnya 200 ribu. Selang beberapa hari, lah kok ndilalah harganya di toko naik menjadi 250 ribu. Cita-citamu memiliki handphone akan sirna karena ekspektasi dan realitanya berbeda. Ibarat kebajikan yang telah ente lakukan tidak mencukupi untuk menutupi dosa, terus piye njajal lek kasuse ngunu?

Untung saja masih di dunia, bisa nawar si penjual handphone. Kalau di akhirat apakah masih mau nawar malaikat Malik biar ga masuk neraka? Ini hanya sekedar contoh lho ya dan kebetulan ada sangkut-pautnya dengan ilmu ekonomi. Tetapi saya ingatkan kembali persoalan ibadah jangan disamakan dengan persoalan ekonomi.

Masalah pahala dan dosa, saya tidak mempunyai hak preogratif untuk menilai dan menimbang perbuatan ente-ente sekalian. Saya juga tidak punya hak, apakah ente masuk surga atau neraka. Jangankan memikirkan kamu (iya kamu), memikirkan diri sendiri saja saya masih belum tahu, antara belok kiri atau kanan, surga atau neraka. Bila dosamu ingin dihapus ya tobat dong vrooohh…!!! ojo dibaleni maneh, kan percuma ente berbuat baik tapi main ‘kudanya’ ga pernah berhenti. Tuhan tidak sekonyol itu kaleeee… Dasar manusia STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan).

Kembali ke bulan ramadhan. Euforia-euforia bulan ramadhan tidak akan kita temui pada bulan-bulan yang lain, walaupun ada jumlahnya tidak banyak. Orang akan kembali ke tabiat buruknya tanpa mikir apa itu dosa dan sebaginya. Jarang sholat ya akan kembali jarang sholat, yang suka nonton film ‘kuda-kudaan’ akan kembali menontonnya, yang suka ‘kuda-kudaan’ akan malah akan lebih sering melakukan, yang awalnya seminggu sekali bisa jadi akan dilakukan setiap hari, warbiasaaahh sekali pokok’e….!!!

Seolah-olah ramadhan adalah bulan dimana banyak orang takut berbuat dosa dan menyadari betul arti dosa tersebut dan dampaknya terhadap ibadah puasa yang sedang dilakukan. Dalam artian, seperti kata pak ustad; perbuatan dosa yang dilakukan akan menghapus pahala puasa. Kenapa manusia kok tiba-tiba takut berbuat dosa? Bukankah mereka biasanya melakukannya tanpa kesadaran terhadap dosa, apalagi masalah ‘kuda’? Konon setan aslinya dikerangkeng dan berubah wujud menjadi manusia.

Teman saya pernah nyletuk begini, ‘Duh, engko bengi ae rek lek atene nggawe duso ojo saiki, eman karo posone’. Lah… kok malah prei di siang harinya saja, malamnya lanjut ngelakoni maneh. Siang harinya jadi malaikat, sedangkan malam harinya jadi jin ifrit. Seolah-olah tuhan memberi waktu khusus untuk berbuat baik serta waktu khusus lain untuk manusia berbuat dosa. Kurang ajar tenan, edan pokok’e. padahal bulan ramadhan harusnya digunakan sebagai riyadhah (latihan) untuk menahan diri agar tidak berbuat dosa selama ramadhan lebih-lebih kebiasaan itu berjalan selama setahun.

Bisa dikatakan pada bulan Ramadhan orang akan berlomba-lomba berbuat baik, di luar Ramadhan akan berlomba-lomba ‘kuda-kudaan’, eh cinta-cintaan, eh.. ah.. oh.. kok salah terus sih, pokok sing elek-elek wes.

Baiklah para soimin soimat, sekian ceramah dari saya. Semoga bermanfaat dan varokah. Amiiin!!!