BAGIKAN

Pemilihan presiden tahun ini tidak jauh berbeda dengan 5 tahun lalu. Dua kandidat capresnya pun sama. Hanya beda pasangan. Sepertinya Indonesia ditakdirkan untuk mengulang masa lalunya. Tidak beranjak dari kejadian lama  dan menghasilkan  peristiwa baru. Masa depan yang lagi absen. Tak kunjung hadir.

Kandidat lama selalu identik dengan rasa yang sama. Perasaan serta kondisinya, sama. Jika diibaratkan fase dalam pacaran, kamu dan pacarmu itu CLBK. Cinta lama belum kelar. Perasaannya berada dalam siklus mode boseni-ngangeni. Pas gak ada dikangeni. Pas dikancani kok yo mboseni. Piye jal? Panggah rasa yang sama, kan?

Sama seperti halnya di atas, Pakde Joko dan Pak Prab itu juga penanda atas mode boseni-ngangeni itu. Fasenya adalah, 2014 yang boseni. 2015-2018 ngangeni. 2019 kembali pada mode boseni lagi. Bosannya adalah ketika cebong-kampret gak mari-mari tukaran. Coba cek media sosialmu, banyak postingan-postingan bernada saling hujat. Jelas. Media sosialmu seakan sudah dikooptasi dua kubu tersebut. Diunfollow ataupun diunfriend kok ya eman. Ngangeni gitu.

Cebong-kampret sepertinya sudah ditakdirkan untuk berlawanan dalam segala hal. Selayaknya pandawa-kurawa tapi minus sisi baik, apalagi pendidikan politik untuk rakyat.

***

Sudah nonton Sexy Killers? Anggap saja sudah, kalau belum, baca dulu artikel ini sampai akhir, kemudian sila nonton. Film dokumenter ini lebih dari sexy. Berani buka-bukaan dan bugil. Dunia usaha ekstraktif, utamanya tambang yang selama ini jauh dari pemberitaan, menjadi alur dominan dalam film ini. Dampak tambang, keluhan dan protes warga terdampak menjadi masalah  yang sudah selayaknya diketahui umum. Ada korban dibalik kenyamanan fasilitas listrik. Film ini begitu rinci menjelaskan silsilah pemilik perusahaan tambang batu bara dalam barisan pendukung dua kontestan pilpres.

Terlepas dari persoalan cebong-kampret, Sexy Killers menjadi penengah. Kehadiran film ini adalah gambaran dari ungkapan ‘gara-gara nila setitik, rusak sebelanga’. Pencitraan yang dimainkan selama  7 bulan masa kampanye kontradiktif hanya dalam waktu 1 jam 28 menit. Menunjukkan sisi lain dari seorang Jokowi yang kalem dan Prabowo yang tegas. Membenarkan  karakter  manusia yang berubah ketika berkuasa. Tak menyalahkan term ‘politik itu kotor’.

Pemilihan presiden sebenarnya adalah ajang mengamankan dunia usaha ekstraktif yang usahanya dimiliki orang dibelakang Jokowi dan Prabowo. Jika dirunut silsilahnya, cebong-kampret berada dalam kasta terendah dalam kontestasi pilres. Sudah minus modal, beli pulsa paketan buat twitwar dengan pihak lawan masih ngutang sudah sok-sokan.  Yang diuntungkan dari perseteruan cebong-kampret itu siapa? Adalah elit yang berlindung di belakang kekuasaan. Bisa memproduksi uang dalam jumlah besar dengan perusahaan ysng terus berlanjut.

Kasta bawah harus rela gigit jari. Kerjaan tak ada sudah berani memusuhi gegara beda pilihan politik. Pilpres 2019 tak ada istilahnya salah pilih. Memilih satu dari keduanya sama saja. Kalau kamu salah pilih pasangan, bisa jadi itu masalah.

Pemilu sudah usai. Namun perdebatannya masih berlanjut. Satu sama lain sama-sama mengklaim kemenangan. Sorot kamera wartawan dan pemberitaan terus-menerus mengulas, menyajikan analisis, menghadirkan tim pemenangan dan mengadunya dalam ring acara-acara talkshow. Argumen-argumen yang dibicarakan seputar citra kandidat yang suci dan bebas dari beban masa lalu yang selalu diingat oleh rakyat. Wacana yang diucapkan secara terus-menerus belum tentu akan dianggap sebagai hal yang benar, apalagi dalam konteks pra-pasca pemilu. Rakyat, kecuali cebong-kampret, mencari informasi tidak hanya dari satu kanal berita. Boleh saja metro tv ataupun media lain menyajikan berita pada salah satu calon, itu mungkin berguna untuk kalangan undecided voters dan swing voters, namun hal itu seakan membenturkan kepala ke tembok untuk menghilangkan sakit kepala alias tak berefek.

Di sisi lain, Sexy Killers terus menemui penontonnya dan ‘membunuh’ citra baik sang dua calon pilpres. Klaim Sexy Killers yang dianggap memperbesar angka golput harus dikaji ulang dan tidak terlalu signifikan, apalagi orang per orang sudah terkapling dan mempunyai identitas sebagai cebong-kampret. Sexy Killers, tidak menyerang calon presiden secara personal dan mendorong untuk melakukan hate speech. Menyoroti kebijakan, dampak galian tambang batu bara, tanggung jawab perusahaan, kerusakan alam, dan korban meninggal dibekas galian batu bara. Apakah itu adalah bentuk serangan secara personal dan serangan politik? Terlepas dari persoalan benar salah, benar/salahkah jika rakyat menunggu kebijakan setelah melihat dampak persoalan tambang batu bara? Jika republik ini hanya milik pengusaha batu bara, pertanyaan tersebut salah sasaran, karena hanya ada relasi pemilik modal dan buruh. Pemilik modal bisa saja lepas tangan dengan persoalan dampak lingkungan. Tapi dimanakah posisi Pemerintah dalam persoalan ini. Diketiak pengusaha tambang, kah?