BAGIKAN

Astaga. Saya ketar-ketir menjauh dari Stasiun Kalibata karena dibuntuti orang gila berpakaian lusuh yang tak berhenti bernyanyi. Ketika berkaca lewat layar handphone, saya baru tahu wajah ini berubah semakin pucat. Ternyata efek tulisan filsuf kasta kurcaci ini yang memperparah kegelisahan saya dan barangkali kita wahai kawan seperjuangan.

Percikan pemikiran yang dinarasikan Yudis menumbuhkan fitnah berlebihan yang berat dipikul. Tentu berat juga dijinjing aktivis kekinian. Pasti para aktivis tak habis pikir, mengapa ada orang sesat macam dia. Pemikirannya harus segera dibendung.

Saya memaklumi aktivis kekinian kan selalu sibuk bed. Pasalnya mereka mengemban tugas yang beresiko nan genting. Saya bisa meramalkan saat ini mereka tersebar di beberapa ruas jejaring. Ada yang tengah turun jalan, berdebat ilmiah, menyensor bokep agar syar’i, di tempat fotokopian menanti proposal proyeknya dibendel, menyeberangkan nenek-nenek, dan beragam aktivitas revolusioner lainnya.

Maka dari itu saya mohon izin sejenak menjadi wakil para aktivis kekinian tersebut, guna melontarkan serangan balik untuk melawan sahabat Yudis. ‎Tapi sebentar, saya cari gerai KFC terdekat dulu. Di sana tempat lahir inspirasi. Jajanan higienis akan terjun beriringan dengan orasi ilmiah yang akan saya gelar.

Oke, jadi begini Sahabatku Yudis.

Ente tahu kagak berupaya menjadi aktivis pelat kuning itu bukan perilaku kehewanan yang mulia. Konon orkestra burung beo Yunani sempat menganggapnya sebagai pilar bangsa. Sedangkan yang dilakukan akhi Yudis justru memperlemah pondasi itu. ‎Sungguh mencemaskan.

Padahal kita harus turut bela negara dengan cara menjaga agar dengkul yang menyangga bangsa ini yaitu aktivis tidak lemas. Jika dengkul itu lemah maka genjotan perlawanan untuk membela rakjat sulit dimanifestasikan.

Bung Yudis yang berbahagia, seharusnya ente meniru langkah aktivis kekinian. Sebagaimana yang ente ketahui, mereka harus senantiasa mempertebal dan memperluas jalur komunikasi politiknya. Pusat sirkulasi kerakjatan itu ada di DPRD.

Sahabat Yudis bisa menembus relung hati para politikus PKB. Lumayan di DPRD mereka punya 8 kursi. Atau kawan Yudis bisa menyambut sebaik-baiknya komunikasi dengan PDIP yang mengantongi 7 kursi. Bisa juga akhi Yudis menggali dukungan dari PKS yang bertengger di 6 kursi. Mantap juga kalau sahabat Yudis bisa menjangkau Golkar yang peroleh 5 kursi.

Jika ente aktivis kekinian yang berpenampilan trendy, maka mereka mungkin bisa dikatakan sanggulnya atau make up-nya. Ada juga jalur lain melalui bos partai yang sanggup mengorak-arik struktur tradisional dalam pasar. Anda bisa bersamanya menjadi jejaring yang bergerak sesuai order partai koalisi.

Berhubung aktivis kekinian memiliki rutinitas rumit menyeduh argumen kerakjatan dengan manual brew, kadang bingung diekstrak lewat syphon atau chemex, maka jaringan politik itu jawabannya. Ibaratnya buah yang datang sendiri tanpa dipetik.

‎Maka eksekusilah. Usahakan massa actie memakai seragam. Baju harus sama, misalkan almamater, kopyah ijo-item, pita, dan sebagainya. Atau manut yang mulia pemilik tahta orde baru, baju kuning dan celana loreng‎. Biar kompak, serasi, sejiwa, mencerminkan sifat rakjat yang tertib dan selalu merindukan zaman itu.

Urusan tak sempat bikin press release mah gampang. Tinggal minta bikinin sama alumni di jejaring komunikasi politikmu yang menjadi jawaban atas segala doa tadi. Masih bingung dengan atribut kampanye, sory salah, atribut demonstrasi? Sudahlah jangan khawatir. Jangankan bendera atau nasi tumpeng, mobil komando dan tim penggembira pasti disediakan alumnus tercinta.

Ya tinggal pilih. Jika ingin warnamu PKB maka wajib hukumnya menggoyang pemerintah dengan isu lingkungan atau kesehatan. Sedangkan Golkar yang lagi sengketa internal, biasa agak umum, soal KPU atau pendidikan. Kalau PDIP, tunggu dulu. Bagi yang tidak sejalan dengan nawa cita, bisa kuliti dan kritisi sampai habis. Atau bisa saja minta ilmu dari para akhi memakai jubah serba putih dan tenteng fentungan.

Meski begitu, janganlah segalanya dibebankan pada jejaring politikmu. Misalnya saja terkait hal yang berbau teknis, bisa kau godok sendiri melalui forum-forum. Bisa jadi memperdalam isu orderan lewat diskusi dan merumuskan setingan aksi. Kalau setingan bisa berbentuk aksi damai, pendudukan, fentung-fentungan, atau clash and take over the castle. Berimprovisasilah pada wilayah ini wahai akhi.

Di jalan, gelorakan semangat kerakjatan lewat megaphone. Bernyanyilah, jangan isu SARA kecuali atas resep alumnus, lalu take clash. Jangan khawatir sama Polisi. Ajak selfie aja lalu kirim ke Polda Metro Jaya. Mayan bisa dapet jaket Turn Back Crime. Bakar-bakarlah, wujudkan teori vandalis, bikinlah wartawan bodrex bahagia. Sebab dengan begitu wartawan itu bisa laku dan demonstrasimu bisa jadi isu nasional. Sebutkan nama lengkapmu dengan jelas agar berkumandang di tubuh berita.

Ini bukan cipayung atau sayap partai. Hanya saja memperbaiki akhlak diri lewat rekanan di partai politik. Jika terjadi kompromi atas tuntutanmu, wani piro? Pasang harga dong untuk barter.

Kanda Yudis yang tercinta, tugas aktivis kekinian itu mulia. Di sisi lain menjadi mahasiswa memang pelik dan begitu berat. Tak perlu dalam-dalam memikirkan nasib bangsa jika seluruhnya bisa di-handle alumnus. Skripsimu pun bisa cepat kelar. Bahkan dosenmu akan mempercepat prosesnya karena mereka budak dari alumnusmu. Jika main-main denganmu, jabatannya akan dipangkas. Selow lah, ada yang menjamin.

Nah kalau sudah lulus nanti, alumnus di DPRD bisa dijadikan jembatan melintas DPR. Enak lho brow jadi staf ahli, bisa nonton gadis bohay yang lalu lalang di ‎parlemen. Postur panggung politik lebih luas. Mas Yudis harus tahu dan mempelajari bagaimana aktivis kekinian berjuang berdarah-darah demi mengumpulken banyak massa. Setelah itu bisa diberi label halal sekaligus barcode.

Bayangken akhi Yudis, di DPR bisa pegang uang reses minimal Rp 250 juta. ‎Padahal semasa mahasiswa dari proyek survei Faidah yang mengendalikan opini koresponden cuma dapet jutaan doang. Atau mungkin proyek bikin diskusi mengundang media dengan isu pesanan dan karyawan politik pilihan.

Jika di pusat, posisi akan berubah menjadi calo isu. Tinggal order ke aktivis kekinian agar berdemonstrasi berulangkali dengan berbagai nama aliansi yang terus diganti-ganti. Biar kelihatan massif, terstruktur, dan demo rutin. Setelah itu mintalah Fadli Zon naik mobil komando. Seperti biasa pasti dia mendukung aktivis kekinian. Sebagaimana dia pernah berujar ingin juga menjatuhkan Jokowi, massa aksi harus datang lebih banyak dan dia siap menopangnya.

‎Ya akhi Yudis, jadilah pejuang yang tak cuma mikir. Yakinlah usaha atau bisnis suara rakjat anda sampai. Kepalkan tangan, majulah kemuka dan nyanyikan mars partai yang belum tahu kapan akan dibentuk. Wujudkan khilafah bin makrifat menuju kemenangan absolut.

Jadi Yudis kawanku, jangan macam-macam dengan para aktivis kekinian yang suci. Kami bisa mendepakmu lewat om rektor yang menang karena beli suara Dikti. Sekian serangan balik saya pada mereka yang membenci aktivis plat merah, kuning atau hijau.